MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Nilai-nilai Islam semestinya tercermin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kemudahan dalam melayani masyarakat merupakan prinsip yang dapat diterapkan oleh siapa pun, terlepas dari latar belakang agama dan negaranya.
Hal tersebut disampaikan Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Arif Rahman, dalam ceramah di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (01/11).
Arif menceritakan pengalamannya ketika melakukan kunjungan ke Cina bersama 10 orang lainnya pada April lalu. Dalam perjalanan tersebut, ia menyaksikan praktik pelayanan transportasi publik yang menurutnya memberikan pelajaran penting mengenai keadilan dan tanggung jawab dalam melayani masyarakat.
Salah satu pengalaman terjadi ketika 2 orang rekannya terlambat menaiki kereta cepat. Mereka kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada petugas stasiun. Arif mengira keterlambatan itu akan menimbulkan kerugian, seperti yang kerap dialami penumpang ketika tertinggal jadwal perjalanan di Indonesia.
Namun, petugas justru memberikan solusi dengan memindahkan jadwal perjalanan kedua rekannya ke keberangkatan berikutnya tanpa biaya tambahan maupun denda.
Pengalaman lain terjadi ketika mereka sudah berada di dalam kereta. Salah seorang rekannya menerima notifikasi pengembalian uang sebesar 45 yuan. Setelah diperiksa, uang tersebut merupakan selisih harga tiket karena jadwal keberangkatan pengganti ternyata memiliki harga lebih murah.
“Tanpa kita mengajukan refund, tanpa kita mengajukan pengembalian, otomatis uang itu masuk ke dalam aplikasi yang digunakan. Ini islami sekali. Di negara yang tidak Islam, ternyata nilai-nilai Islam itu hadir dari sistem negaranya,” ungkap Arif.
Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai keislaman dapat ditemukan dalam praktik pelayanan yang memberikan hak seseorang secara adil. Pengembalian selisih harga secara otomatis dan kemudahan mengubah jadwal perjalanan merupakan bentuk tanggung jawab penyedia layanan terhadap penggunanya.
Arif juga menyoroti keterhubungan sistem transportasi publik di Cina. Menurut pengalamannya, jaringan kereta bawah tanah dan berbagai moda transportasi saling terintegrasi sehingga memudahkan mobilitas masyarakat. Ia melihat pengaturan kawasan yang memiliki konsentrasi industri dan teknologi tertentu turut mendukung efisiensi distribusi serta biaya transportasi.
Dari pengalaman itu, Arif mengajak jamaah agar bersedia belajar dari praktik baik yang ditemukan di berbagai negara. Identitas suatu negara atau masyarakat tidak semestinya menjadi penghalang untuk mengakui keunggulan dan mengambil pelajaran dari sistem yang mereka bangun.
Ia kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan makna keimanan. Menurutnya, orang beriman harus memiliki kemampuan membedakan perkara yang baik dan buruk. Kemampuan itu perlu diwujudkan melalui amar makruf nahi munkar, yakni mengajak kepada kebaikan sekaligus mencegah kemungkaran.
Arif mengingatkan bahwa kemungkaran dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk ketika seseorang sengaja menyebarkan informasi yang menimbulkan kekacauan atau menggiring opini publik untuk kepentingan tertentu.
Karena itu, ia mengajak umat Islam agar tidak membiarkan kesalahan menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mendorong kebaikan sesuai kemampuan dan perannya masing-masing.






