MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Menghadapi musibah membutuhkan keteguhan iman, kemampuan mengelola diri, dan kepedulian terhadap sesama. Islam mengajarkan umatnya untuk tetap berprasangka baik kepada Allah Swt, mengambil pelajaran dari keadaan yang dialami, serta membantu orang lain yang sedang menghadapi kesulitan.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Qaem Aulassyahied di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (18/10).
Qaem menuturkan, musibah merupakan salah satu ujian yang dapat dialami setiap orang, termasuk mereka yang beriman dan bertakwa. Karena itu, seorang Muslim perlu memahami cara menyikapinya berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunah.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak berputus asa ketika kenyataan hidup berbeda dari harapan. Seseorang, misalnya, mungkin telah rajin bersedekah, menunaikan zakat, berinfak, dan berdoa agar kehidupannya membaik. Namun, kondisi ekonominya justru semakin sulit, sementara orang lain yang terlihat kurang beramal mengalami peningkatan kesejahteraan.
Menurut Qaem, keadaan seperti itu tidak semestinya membuat seseorang menyimpulkan bahwa Allah tidak adil. Sikap tersebut justru dapat menyeret seseorang pada keputusasaan dalam beragama.
Ia menjelaskan bahwa orang beriman perlu meyakini Allah sebagai Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Keyakinan itu menjadi dasar untuk melihat setiap keadaan dengan lebih jernih, termasuk ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Orang beriman itu kalau terkena musibah bukan berputus asa, tetapi malah merefleksikan diri. Apa yang salah sehingga Allah memberikan saya musibah seperti ini?” jelasnya.
Refleksi tersebut, lanjut Qaem, perlu diikuti dengan usaha memperbaiki diri. Musibah dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi tindakan dan mengambil langkah yang lebih baik. Namun, hal itu tidak berarti setiap korban bencana boleh langsung dituduh telah melakukan dosa yang menyebabkan musibah tersebut.
Qaem juga mengisahkan keteguhan Urwah bin Zubair ketika menghadapi ujian berat. Putranya meninggal dunia, sementara salah satu kakinya harus diamputasi akibat penyakit. Ketika orang-orang di Madinah menunjukkan rasa iba, Urwah mengingatkan mereka agar tetap melihat nikmat Allah yang masih dimilikinya.
Dari kisah itu, Qaem menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat yang masih tersisa ketika seseorang kehilangan sesuatu yang berharga. Sikap tersebut membantu orang beriman mempertahankan harapan di tengah keadaan sulit.
Ia kemudian mengutip hadis Rasulullah Saw. yang menjelaskan bahwa keadaan orang beriman selalu membuka peluang kebaikan. Ketika memperoleh kesenangan, ia bersyukur. Ketika tertimpa kesulitan, ia bersabar.
Menurut Qaem, kesabaran bukan berarti seseorang tidak boleh bersedih atau merasa takut. Reaksi tersebut merupakan bagian dari pengalaman menghadapi musibah. Hal yang perlu dijaga adalah agar kesedihan tidak berkembang menjadi keputusasaan yang menghalangi seseorang untuk bangkit.
Keteguhan mental juga berperan dalam menghadapi dan memitigasi bencana. Qaem menjelaskan bahwa seseorang yang mampu menjaga harapan akan lebih terbantu untuk mengambil langkah positif dalam menangani keadaan yang menimpanya.
Selain memperkuat diri, umat Islam juga perlu hadir bagi orang lain yang sedang berduka. Qaem mengingatkan bahwa beratnya musibah sering kali paling terasa ketika pertama kali terjadi. Karena itu, orang yang sedang mengalami kehilangan membutuhkan dukungan, bukan penghakiman.
Ia mencontohkan kisah seorang perempuan yang kehilangan suaminya dan menangis di dekat kuburannya. Ketika Rasulullah Saw memintanya bersabar, perempuan itu sempat menanggapi dengan kemarahan karena belum mengetahui siapa yang menasihatinya. Setelah mengetahui bahwa orang tersebut adalah Rasulullah Saw., ia menyusul beliau untuk meminta maaf.
Dalam riwayat itu, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa kesabaran yang sesungguhnya diperlukan ketika menghadapi hantaman pertama musibah. Qaem menggarisbawahi pentingnya memahami keadaan orang yang sedang berduka sebelum memberikan nasihat.
“Sedih boleh, kecewa boleh, tapi tidak boleh sampai membuat kita putus asa,” tegasnya.
Ia menutup penjelasannya dengan mengajak umat Islam menguatkan sikap saling menolong. Ketika ada orang yang belum mampu menghadapi musibah dengan baik, masyarakat perlu memberikan dukungan agar ia dapat melewati masa sulitnya.






