Rabu, 30 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Nabi Memilih Zuhud, Bukan Karena Tidak Mampu Mencari Harta

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Nabi Memilih Zuhud, Bukan Karena Tidak Mampu Mencari Harta

MUHAMMADYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ali Yusuf menjelaskan bahwa kehidupan sederhana Nabi Muhammad Saw tidak tepat dipahami sebagai tanda ketidakmampuan ekonomi. Menurutnya, Nabi memiliki kemampuan untuk mencari dan memperoleh harta, tetapi memilih tidak menjadikan kekayaan sebagai orientasi hidup.

Hal itu disampaikan dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (27/09). Ali mengawali kajiannya dengan pertanyaan apakah Nabi Muhammad Saw dapat disebut sebagai orang miskin atau kaya.

Ia menjelaskan, sejumlah riwayat memang menggambarkan kehidupan Nabi yang sederhana. Sejak kecil Nabi merupakan seorang yatim dan pernah bekerja sebagai penggembala kambing. Dalam sejumlah riwayat lainnya, Nabi dan keluarganya mengalami masa ketika makanan sangat terbatas.

Namun, terdapat pula riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi merupakan sosok yang dermawan dan memiliki kemampuan ekonomi. Nabi memberikan mahar kepada istrinya dengan jumlah yang besar dan dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan.

“Kalau begitu bukankah Nabi itu juga orang yang kaya?” ujar Ali.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat dengan membedakan antara faqru atau kefakiran, ghina atau kecukupan, dan zuhud. Kefakiran berkaitan dengan kondisi kekurangan, sedangkan ghina berkaitan dengan kecukupan atau kekayaan. Adapun zuhud merupakan sikap tidak menjadikan kepemilikan dunia sebagai orientasi hidup.

“Zuhud itu sesungguhnya punya harta. Dia mampu mencari harta, tetapi dia lebih memilih untuk sederhana di dalam harta. Kenapa? Karena harta itu bukan orientasi, bukan tujuan dari hidup,” jelasnya.

Ali menilai istilah zuhud lebih tepat untuk menggambarkan pilihan hidup Nabi. Nabi bekerja, memperoleh harta, tetapi tidak menyukai harta tersimpan lama tanpa dimanfaatkan.

“Nabi tidak punya itu bukan karena Nabi tidak mampu, bukan karena Nabi tidak mampu mencari harta, tetapi Nabi memilih hidup untuk sederhana,” katanya.

Ia mengingatkan agar riwayat tentang kesederhanaan Nabi tidak dipotong dari konteksnya. Salah satu contoh ialah pengalaman Nabi menggembala kambing. Pekerjaan tersebut menunjukkan bahwa sejak kecil Nabi telah bekerja dan memperoleh penghasilan.

Ali mengutip hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah bahwa setiap nabi pernah menjadi penggembala kambing. Ketika para sahabat bertanya apakah Nabi Muhammad juga pernah melakukannya, Nabi menjawab, “Naam” atau “Iya”. Nabi menggembalakan kambing milik penduduk Makkah.

Menurut Ali, pengalaman tersebut juga memiliki pelajaran penting bagi kepemimpinan Nabi. Dengan menggembala, Nabi berhadapan langsung dengan beragam karakter hewan yang kemudian dapat menjadi bagian dari pengalaman hidupnya dalam memahami manusia.

“Hadis ini mengajarkan bahwa Nabi dalam kondisi apa pun selalu bekerja keras,” ujarnya.

Di sisi lain, Ali mengakui bahwa kehidupan Nabi memang pernah berada dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Ia mengutip hadis Aisyah yang menggambarkan selama beberapa waktu tidak terlihat asap dari dapur rumah Nabi. Makanan yang tersedia berupa kurma dan air.

Ia juga menyebut hadis sahih riwayat Bukhari mengenai Nabi yang menggadaikan baju besinya untuk memperoleh gandum. Menurut Ali, riwayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi pernah mengalami keterbatasan kebutuhan pangan.

Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti Nabi tidak memiliki kemampuan memperoleh harta.

“Jadi istilah kekurangan itu adalah sebuah pilihan. Maka nanti bahasa yang lebih tepat adalah Nabi memilih zuhud,” katanya.

Ali kemudian mengutip riwayat tentang Umar bin Khattab yang menangis ketika melihat kondisi rumah Nabi. Umar mendapati Nabi tidur di atas tikar hingga meninggalkan bekas pada tubuhnya, sementara persediaan makanan yang ada sangat terbatas.

Ketika Umar membandingkan kehidupan Nabi dengan kehidupan para kaisar yang penuh kemewahan, Nabi menjawab bahwa akhirat menjadi pilihan bagi beliau dan dunia bagi mereka.

Bagi Ali, riwayat tersebut memperlihatkan prinsip hidup Nabi dalam menempatkan harta. Nabi tidak menjadikan kemewahan sebagai tujuan, meskipun memiliki kesempatan untuk memperoleh harta.

“Memang betul Nabi demikian, tetapi saya ingin mengatakan tadi itu adalah bentuk zuhudnya Nabi bukan karena miskinnya Nabi,” tegasnya.

Karena itu, Ali mengingatkan umat Islam agar tidak memahami kesederhanaan Nabi sebagai ajakan untuk memilih kemiskinan. Dalam pandangannya, Nabi justru mengajarkan umat untuk bekerja, berusaha, dan menghindari kondisi kefakiran.

“Nabi bukan miskin, tetapi Nabi memilih zuhud. Itu adalah pilihan hidup,” ucap Ali.

Tinggalkan Balasan