MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ujian kehidupan berupa sakit, kesulitan, kegelisahan, hingga berbagai persoalan yang menguras tenaga dan pikiran dapat menjadi jalan bagi seorang Muslim untuk memperoleh kebaikan. Kesabaran dalam menghadapi ujian tersebut menjadi bagian penting dalam merespons ketetapan Allah Swt.
Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta Nanang Joko Purwanto dalam kajian bakda zuhur di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (29/09).
Nanang mengawali kajiannya dengan mengingatkan bahwa kehidupan manusia dipenuhi berbagai keadaan. Seseorang dapat mengalami kesedihan, kesulitan, kebahagiaan, kesehatan, maupun sakit. Karena itu, setiap keadaan perlu disikapi dengan merujuk pada petunjuk Nabi Muhammad Saw.
Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Said dan Abu Hurairah bahwa setiap kepayahan, rasa sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuk seorang Muslim dapat menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosanya.
“Dengan ujian-ujian yang kita terima di satu sisi kita merasa sedih, sakit, gelisah, tapi di situ Allah tidak membiarkan kita tanpa diberikan sebuah balasan,” jelas Nanang.
Menurutnya, ujian yang dihadapi seorang Muslim tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari juga menyebutkan bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Allah akan memberinya cobaan.
Karena itu, Nanang mengajak umat untuk tetap husnuzan kepada Allah ketika menghadapi ujian. Seorang mukmin, katanya, memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi dua keadaan. Ketika memperoleh kenikmatan, ia bersyukur. Ketika mendapat musibah dan cobaan, ia bersabar.
“Ujian cobaan yang menimpa seorang Muslim menjadikan hatinya lebih tangguh, lebih tegar,” ujarnya.
Nanang mengibaratkan proses tersebut seperti lempengan besi yang dipanaskan dan ditempa oleh seorang pandai besi. Besi harus melewati panas dan pukulan sebelum berubah menjadi alat yang memiliki manfaat.
“Begitu juga ujian cobaan kita. Mungkin kita merasakan sakit yang begitu pedih, keletihan, kepayahan dengan ujian cobaan yang Allah berikan. Tapi dengan kita bersabar mengikuti proses yang ada, tetap berhusnuzan pada Allah, kemudian jadilah kita menjadi suatu yang insyaallah akan mendapatkan kebaikan-kebaikan dan menjadi orang yang lebih baik lagi,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa cobaan berupa sakit, kemiskinan, maupun keadaan yang merendahkan diri seseorang dapat menjadi kebaikan apabila dihadapi dengan kesabaran. Kebaikan tersebut dapat dirasakan di dunia melalui kedekatan kepada Allah dan di akhirat melalui terhapusnya dosa.
Nanang kemudian mengutip hadis dari Anas bin Malik tentang seseorang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Allah dapat menyegerakan balasan atas kesalahan seorang hamba di dunia sehingga ia tidak lagi menanggung balasan tersebut di akhirat. Sebaliknya, ketika Allah menangguhkan balasan hingga akhirat, balasan tersebut akan diterima pada hari kiamat.
Selain itu, Nanang menyampaikan hadis yang menjelaskan bahwa besarnya pahala berkaitan dengan besarnya cobaan. Ia juga mengutip sabda Nabi bahwa ketika Allah mencintai suatu kaum, Allah memberikan cobaan kepada mereka. Orang yang rida terhadap cobaan tersebut akan mendapatkan keridaan Allah, sedangkan orang yang tidak rida akan mendapatkan murka-Nya.
Dari sejumlah hadis tersebut, Nanang merangkum 5 pelajaran. Pertama, manusia mendapatkan cobaan sesuai dengan kadar pengetahuan agamanya. Kedua, kesabaran menghadapi musibah dan penyakit dapat melebur dosa.
Ketiga, salah satu tanda kecintaan Allah kepada hamba yang saleh adalah diberikannya cobaan kehidupan. Keempat, seorang mukmin hendaknya bersabar dan rida terhadap cobaan Allah serta tidak berputus asa maupun marah. Kelima, kesabaran ketika menghadapi ujian kehidupan menjadi salah satu sebab terhapusnya dosa.
“Dengan demikian dia akan mendapatkan keridaan dari Allah Subhanahu wa taala,” pungkas Nanang.






