Kamis, 24 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Medical Check-Up dan Urusan Hati yang Tak Terbaca Laboratorium

Oleh timredaksi 9 Menit Min
Medical Check-Up dan Urusan Hati yang Tak Terbaca Laboratorium

Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan tampaknya terus tumbuh. Aktivitas olahraga semakin mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berlari tidak lagi semata-mata dilakukan atlet, bersepeda pernah menjadi tren besar, pusat kebugaran semakin diminati, sementara berbagai komunitas olahraga tumbuh di banyak tempat. Di akhir pekan, ruang-ruang publik juga semakin ramai oleh orang yang berolahraga dengan tujuan yang beragam, mulai dari menjaga kebugaran hingga sekadar mencari keseimbangan di tengah kesibukan.

Kesadaran tersebut juga terlihat dalam data Kementerian Pemuda dan Olahraga. Indeks partisipasi masyarakat dalam berolahraga pada 2024 berada pada angka 0,263, meningkat dari 0,254 pada 2023. Indeks kebugaran jasmani juga bergerak dari 0,179 menjadi 0,196. Meski angkanya menunjukkan bahwa pekerjaan untuk membangun masyarakat bugar masih panjang, setidaknya terdapat kecenderungan meningkatnya perhatian terhadap aktivitas fisik.

Kesadaran terhadap pemeriksaan kesehatan juga semakin mudah ditemukan. Orang mulai mengenal pentingnya medical check-up, memeriksa kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah, fungsi jantung, dan berbagai indikator kesehatan lainnya. Bahkan seseorang yang merasa tubuhnya baik-baik saja tetap dianjurkan melakukan pemeriksaan berkala karena penyakit tidak selalu hadir dengan tanda yang dapat dirasakan sejak awal.

Semangat membangun budaya hidup sehat ini sejalan dengan perhatian Muhammadiyah terhadap kesehatan masyarakat. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti belum lama ini mengingatkan bahwa gerakan kesehatan tidak cukup berhenti pada pelayanan rumah sakit dan klinik. Menurutnya, “yang lebih ditekankan adalah bagaimana membangun budaya hidup sehat atau healthy lifestyle.” Ia juga menekankan eratnya hubungan kesehatan jasmani dan rohani dalam kehidupan manusia.

Namun, ketika perhatian terhadap kesehatan fisik semakin besar, ada satu kesehatan lain yang tidak semestinya luput dari perhatian. Kita mungkin sudah semakin terbiasa memeriksa tekanan darah dan kadar kolesterol, tetapi seberapa sering kita memperhatikan keadaan hati?

Tentu yang dimaksud bukan hati sebagai organ biologis yang dapat diperiksa melalui laboratorium, melainkan qalb, hati yang dalam ajaran Islam berkaitan dengan niat, kesadaran, sikap batin, dan pada akhirnya menentukan banyak tindakan manusia.

Hati Sebagai Penggerak Amal

Hati dapat diibaratkan sebagai mesin penggerak amal manusia. Baik buruknya ucapan, sikap, dan perilaku seseorang sangat berkaitan dengan keadaan hatinya. Apa yang terlihat melalui lisan dan tindakan sering kali merupakan hasil dari sesuatu yang lebih dahulu tumbuh di dalam diri.

Karena itu, Rasulullah saw. memberikan perhatian yang sangat besar terhadap keadaan hati. Beliau bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut memperlihatkan bahwa persoalan hati bukan perkara kecil. Kerusakan perilaku tidak selalu bermula ketika seseorang melakukan suatu tindakan, tetapi dapat bermula jauh sebelumnya, ketika sesuatu yang buruk dibiarkan tumbuh di dalam hati.

Hasad, misalnya, bisa bermula dari ketidaknyamanan melihat orang lain mendapat nikmat. Kesombongan dapat tumbuh dari perasaan bahwa diri lebih pintar, lebih senior, lebih berjasa, atau lebih saleh dibandingkan orang lain. Ghibah pun dapat berawal dari kebiasaan memandang kekurangan seseorang, kemudian perlahan menikmati pembicaraan tentang kekurangan tersebut.

Tidak mengherankan jika Al-Qur’an memberikan perhatian yang luas terhadap keadaan hati. Hati digambarkan dalam berbagai kondisi, ada hati yang tenteram, hati yang bergetar ketika mengingat Allah, hati yang sakit, hati yang mengeras, hingga hati yang tertutup dari kebenaran.

Dalam khazanah keislaman, keadaan hati manusia sering dijelaskan dalam tiga kategori besar, yakni hati yang sehat atau qalbun salim, hati yang sakit atau qalbun maridh, serta hati yang mati atau qalbun mayyit. Pembagian ini antara lain banyak dibahas dalam karya-karya para ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Qalbun Salim, Hati yang Tetap Hidup

Dari ketiga keadaan tersebut, qalbun salim menjadi keadaan hati yang semestinya terus diupayakan seorang mukmin. Bahkan Al-Qur’an menjadikan hati yang sehat sebagai sesuatu yang sangat menentukan ketika manusia menghadap Allah.

Allah Swt. berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَۙ ۝٨٨ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ ۝٨٩

Artinya: “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy-Syu’ara: 88–89).

Menariknya, ayat ini tidak meletakkan keselamatan manusia pada banyaknya harta, tingginya kedudukan, ataupun luasnya pengaruh yang dimiliki. Semua yang begitu penting dalam ukuran kehidupan dunia pada akhirnya kehilangan maknanya ketika seseorang datang menghadap Allah. Yang disebut justru keadaan hatinya.

Lantas bagaimana mengenali hati yang sehat?

Salah satu cirinya adalah hati yang masih memiliki kerinduan untuk mengingat dan mendekat kepada Allah. Kehadiran Allah tidak sekadar menjadi pengetahuan dalam pikiran, tetapi memiliki pengaruh terhadap kehidupan seseorang. Al-Qur’an menggambarkan keadaan itu dalam QS. Al-Anfal ayat 2:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Kepekaan menjadi salah satu kata kunci penting dalam kesehatan hati. Hati yang sehat tidak kebal terhadap peringatan. Ketika melakukan kesalahan, masih ada kegelisahan. Ketika ayat-ayat Allah dibacakan, masih ada sesuatu yang mengetuk batin. Ketika memperoleh nasihat, masih tersedia ruang untuk mendengarkan meskipun nasihat tersebut tidak selalu datang dari orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya.

Hati yang sehat juga membuat seseorang merasa sayang ketika waktunya terlewat tanpa menghasilkan kebaikan. Ia berusaha menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat mengotori hati. Kesadaran beribadah tidak terbatas pada ritual, tetapi perlahan menjadi orientasi hidup.

Al-Qur’an menggambarkan salah satu ciri orang beriman melalui kesungguhan dalam salat:

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ ۝٢ قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ ۝١

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS Al-Mu’minun: 1–2).

Kesehatan hati juga terlihat ketika seseorang tetap berprasangka baik kepada Allah, bukan hanya ketika kehidupan berjalan sesuai harapan, tetapi juga ketika keadaan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Nabi Ya’qub mengingatkan anak-anaknya:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.” (QS Yusuf: 87).

Karena itu, qalbun salim tidak identik dengan manusia yang hidupnya selalu tenang tanpa masalah. Hati yang sehat tetap mengalami kesedihan, kekecewaan, dan berbagai ujian. Bedanya, kesulitan tersebut tidak memutus hubungan seseorang dengan Allah dan tidak menghilangkan harapannya terhadap rahmat-Nya.

Hati yang sehat juga membutuhkan lingkungan yang sehat. Seseorang akan lebih mudah menjaga dirinya ketika berada di lingkungan yang mengingatkan kepada kebaikan. Karena itu, memilih teman dan lingkungan pergaulan bukan persoalan sepele. Pengaruh lingkungan dapat membuat hati semakin dekat dengan kebaikan, tetapi dapat pula membuat keburukan yang sebelumnya terasa asing perlahan dianggap biasa.

Selain itu, salah satu tanda hati yang hidup adalah kedekatannya dengan Al-Qur’an. Ia tidak hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang dibaca pada waktu tertentu, tetapi sebagai sumber petunjuk yang terus dipelajari, dipahami, dan digunakan untuk menilai kembali arah kehidupan.

Ketika Penyakit Hati Dianggap Biasa

Sebagaimana tubuh, hati juga dapat mengalami penyakit. Masalahnya, penyakit fisik biasanya lebih mudah dikenali karena menghadirkan rasa sakit atau dapat dibaca melalui pemeriksaan medis. Penyakit hati sering tidak memiliki tanda yang sejelas itu. Bahkan orang yang mengalaminya terkadang merasa tidak ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Di antara penyakit hati yang perlu diwaspadai adalah hasad, ghadab, ghibah, dan namimah.

Hasad, Senang Melihat Orang Susah dan Susah Melihat Orang Senang

Hasad merupakan ketidaksenangan terhadap nikmat yang diterima orang lain, bahkan dapat berkembang menjadi keinginan agar nikmat tersebut hilang. Penyakit ini berbahaya karena membuat seseorang lebih sibuk memperhatikan apa yang berada di tangan orang lain daripada mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadanya.

Dalam kehidupan sekarang, ruang untuk membandingkan diri juga semakin terbuka. Media sosial memungkinkan seseorang menyaksikan keberhasilan, pekerjaan, pendidikan, perjalanan, keluarga, maupun pencapaian orang lain hampir setiap saat. Tanpa hati yang sehat, keberhasilan orang lain yang seharusnya dapat menjadi inspirasi justru dapat berubah menjadi sumber kegelisahan.

Namun Islam membedakan hasad dengan ghibthah, yaitu keinginan mendapatkan kebaikan seperti orang lain tanpa berharap nikmat yang dimilikinya hilang. Rasulullah saw. bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Artinya: “Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seseorang yang Allah beri harta lalu ia menghabiskannya dalam kebenaran, dan seseorang yang Allah beri hikmah lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Para ulama menjelaskan bahwa “hasad” dalam hadis tersebut bermakna ghibthah, bukan kedengkian yang menghendaki hilangnya nikmat dari orang lain.

Di sinilah kesehatan hati diuji. Melihat orang lain berhasil lalu terdorong untuk ikut berusaha merupakan sesuatu yang baik. Akan tetapi, ketika keberhasilan orang lain membuat hati berharap agar ia jatuh, persoalannya tidak lagi berada pada orang tersebut, melainkan pada hati kita sendiri.

Ghadab, Marah Dulu Menyesal Kemudian

Penyakit berikutnya adalah ghadab, yakni amarah yang tidak terkendali. Marah adalah emosi manusiawi, tetapi ketika tidak dikelola, amarah dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang jauh melampaui persoalan yang sebenarnya.

Seorang laki-laki pernah datang meminta nasihat kepada Rasulullah saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: أَوْصِنِي، قَالَ: لَا تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a., seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw., ‘Berilah aku nasihat.’ Beliau bersabda, ‘Jangan marah.’ Orang itu mengulang permintaannya beberapa kali, dan beliau tetap bersabda, ‘Jangan marah.’” (HR. Bukhari).

Larangan tersebut tidak berarti manusia tidak boleh memiliki emosi marah, melainkan mengingatkan agar amarah tidak menguasai diri sehingga akal sehat dan pertimbangan moral kehilangan kendali.

Ghibah, Ketika Aib Menjadi Bahan Percakapan

Berbeda dengan marah yang mudah terlihat, ghibah justru sering hadir dalam suasana yang sangat biasa. Pembicaraan bermula dari hal sederhana, kemudian beralih pada kekurangan orang yang tidak hadir di tempat tersebut. Karena dilakukan sambil berbincang santai, ghibah terkadang kehilangan kesan sebagai sesuatu yang berbahaya.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Menariknya, ayat tersebut menempatkan prasangka, mencari-cari kesalahan, dan ghibah dalam satu rangkaian. Ketika hati telah dipenuhi prasangka, seseorang mulai tertarik mencari kekurangan orang lain. Setelah kekurangan ditemukan, ia kemudian mudah berubah menjadi bahan pembicaraan.

Namimah, Perkataan yang Merusak Hubungan

Penyakit berikutnya adalah namimah, yakni membawa perkataan dari satu pihak kepada pihak lain sehingga menimbulkan pertentangan, kebencian, atau kerusakan hubungan.

Rasulullah saw. memberikan peringatan yang keras:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim).

Namimah menunjukkan bahwa tidak semua informasi yang benar harus dipindahkan dari satu orang kepada orang lain. Ada perkataan yang ketika disampaikan justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Karena itu, kesehatan hati juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan lisan dan mempertimbangkan akibat dari sesuatu yang hendak disampaikan.

Hati yang Sehat Perlu Terus Dirawat

Jika seseorang mengetahui kadar gula atau kolesterolnya mulai meningkat, biasanya akan ada perubahan pola hidup yang dianjurkan. Makanan mulai diatur, olahraga ditambah, waktu istirahat diperbaiki, dan pemeriksaan dilakukan kembali secara berkala. Hati pun membutuhkan perawatan agar tetap sehat.

Di antara jalan yang diajarkan Islam adalah memperbanyak dzikrullah, membaca dan memahami Al-Qur’an, memperbanyak istigfar dan doa, menjaga salat wajib maupun sunah, mempelajari ilmu agama, serta membangun pergaulan dengan orang-orang yang mendorong kepada kebaikan.

Namun perawatan hati tidak cukup dilihat dari banyaknya aktivitas keagamaan secara lahiriah. Dzikir semestinya membuat seseorang semakin sadar kepada Allah dan lebih mampu menjaga perilakunya. Membaca Al-Qur’an semestinya membuat hati semakin terbuka terhadap petunjuk dan koreksi. Bertambahnya ilmu agama seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan perasaan bahwa diri lebih benar dan lebih suci daripada orang lain.

Begitu pula lingkungan pergaulan. Teman yang baik bukan sekadar orang yang selalu membenarkan kita, tetapi orang yang dapat mengingatkan ketika langkah mulai menjauh dari kebaikan. Hati yang sehat tidak alergi terhadap nasihat karena menyadari bahwa manusia selalu memiliki ruang untuk memperbaiki diri.

Inilah mengapa kesehatan hati tidak dapat dijaga hanya sesekali. Kondisinya dapat berubah mengikuti perjalanan hidup manusia. Ketika belum memiliki sesuatu, seseorang dapat diuji dengan hasad. Ketika memperoleh banyak hal, ia dapat diuji dengan kesombongan. Ketika tidak memiliki kedudukan, ia mungkin mampu menerima kritik dengan mudah; ketika memperoleh jabatan, nasihat yang sama bisa terasa berbeda.

Sehat Tidak Hanya Soal Tubuh

Meningkatnya kesadaran terhadap olahraga, medical check-up, pola makan, dan gaya hidup sehat tentu merupakan perkembangan yang patut disambut. Sebagaimana disampaikan Abdul Mu’ti, membangun masyarakat sehat tidak cukup dengan menyediakan layanan pengobatan, tetapi harus menjadi budaya hidup. Kesehatan jasmani dan rohani memiliki hubungan yang erat.

Dari sinilah makna hidup sehat seharusnya diperluas. Tubuh memang harus dijaga, tetapi hati tidak boleh ditinggalkan.

Ada orang yang sangat disiplin menjaga makanan agar kadar kolesterolnya tidak meningkat, tetapi tidak cukup disiplin menjaga hati dari hasad. Ada yang teratur berolahraga agar tekanan darah tetap stabil, tetapi masih sulit mengendalikan amarah. Ada pula yang sangat berhati-hati terhadap sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, tetapi tidak selalu berhati-hati terhadap perkataan yang keluar dari lisannya.

Medical check-up dapat membantu menemukan gangguan tubuh sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. Semangat yang sama semestinya hadir dalam menjaga hati. Jangan menunggu hasad berkembang menjadi kebencian, amarah berubah menjadi kezaliman, ghibah menjadi kebiasaan, atau namimah merusak persaudaraan.

Sebab kesehatan manusia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh tubuh yang kuat dan bugar. Ada hati yang juga perlu dijaga agar tetap hidup, peka terhadap kebenaran, lapang menerima kebaikan, dan terus menggerakkan pemiliknya untuk mendekat kepada Allah serta berbuat baik kepada sesama.

Tubuh boleh rutin menjalani medical check-up. Hati pun jangan dibiarkan sakit tanpa pernah dirawat.

Referensi:

Ruslan Fariadi, S. M. (2017). 4 Macam Penyakit Hati. Suara Muhammadiyah.

Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. (2024). Laporan Indeks Pembangunan Olahraga 2024. https://satudata.kemenpora.go.id/produk/publikasi/detail/8/laporan-indeks-pembangunan-olahraga-2024

Muhammadiyah.or.id. (2026, September 15). Tak cukup bangun rumah sakit, Muhammadiyah dorong budaya hidup sehat. https://muhammadiyah.or.id/2026/09/tak-cukup-bangun-rumah-sakit-muhammadiyah-dorong-budaya-hidup-sehat/

Penulis: Taufik Hidayat

Tinggalkan Balasan