MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyiapkan peta jalan kedaulatan pangan sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Upaya ini dilakukan melalui pengembangan pertanian berkelanjutan, varietas unggul, serta penyediaan benih bermutu.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, menyampaikan bahwa penyusunan peta jalan tersebut menjadi salah satu keputusan strategis dalam Konsolidasi Nasional (Konsolnas) MPM Muhammadiyah yang berlangsung pada 31 Oktober–1 November 2026.
Menurutnya, persoalan pangan ke depan akan semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, baik di tingkat nasional maupun global. Berdasarkan data Worldometer, populasi dunia saat ini mencapai sekitar 8,3 miliar jiwa dan diperkirakan meningkat menjadi 9–10 miliar jiwa pada 2050.
Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 287 juta jiwa dan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis sekaligus menghadirkan tantangan besar dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
“Pertumbuhan penduduk membawa konsekuensi terhadap meningkatnya kebutuhan pangan. Karena itu, produksi pangan harus terus ditingkatkan dengan pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan,” ujar Yamin pada Rabu (4/11)Muhammadiyah Siapkan Peta Jalan Kedaulatan Pangan hingga 2028.
Di sisi lain, sektor pertanian Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari alih fungsi lahan yang semakin mempersempit kawasan produktif, ancaman kekeringan dan banjir yang kian sering terjadi, hingga degradasi kualitas tanah yang berdampak terhadap produktivitas pertanian.
Menghadapi tantangan tersebut, MPM PP Muhammadiyah memandang pertanian berkelanjutan sebagai salah satu strategi penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan.
Sistem pertanian berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan saat ini, tetapi juga menjaga sumber daya alam, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memastikan keberlanjutan produksi bagi generasi mendatang.
Dari aspek ekonomi, pertanian berkelanjutan diharapkan mampu mendorong usaha tani yang lebih efisien dan memiliki nilai tambah. Dari aspek sosial, sistem ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pangan. Sementara dari aspek lingkungan, keberlanjutan pertanian menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian sumber daya alam.
“Pertanian tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi dalam jangka pendek. Kita harus membangun sistem pertanian yang produktif, menguntungkan petani, dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Yamin menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan lahan pertanian, tetapi juga membutuhkan dukungan inovasi teknologi, khususnya pengembangan varietas unggul dan penyediaan benih bermutu.
Peningkatan produksi pertanian dipengaruhi sejumlah faktor, seperti penggunaan varietas unggul, pemupukan, irigasi, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), serta manajemen budi daya. Namun, faktor genetik melalui varietas unggul menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman.
Di sisi lain, benih bermutu berperan memastikan potensi genetik varietas unggul dapat diwujudkan secara optimal di lapangan. Dengan demikian, ketersediaan benih bermutu menjadi bagian penting dalam mempercepat penerapan inovasi pertanian.
Pengembangan varietas unggul dan benih bermutu juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam mendorong pertanian berkelanjutan, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat ketahanan pangan.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Muhammadiyah melalui MPM PP Muhammadiyah mengembangkan varietas unggul padi bernama Mentari 1. Varietas ini diluncurkan pada Jambore Nasional Jamaah Tani Muhammadiyah (Jamnas I JATAM) tahun 2025 di Kebumen, Jawa Tengah.
Padi Mentari 1 memiliki rata-rata hasil panen mencapai 6,7 ton per hektare gabah kering giling (GKG), dengan potensi hasil hingga 9,7 ton per hektare GKG. Selain produktivitasnya, varietas ini juga memiliki keunggulan kandungan protein yang tinggi dan kadar amilosa yang lebih rendah.
Melalui pengembangan Padi Mentari 1, Muhammadiyah berupaya memperkuat kemandirian petani sekaligus membangun ekosistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
MPM PP Muhammadiyah selanjutnya menyiapkan peta jalan kedaulatan pangan melalui pengembangan varietas unggul dan penyediaan benih bermutu Mentari 1 hingga 2028.
Yamin berharap langkah tersebut dapat menjadi kontribusi konkret Muhammadiyah dalam menjawab tantangan pangan nasional. Upaya ini tidak hanya diarahkan untuk menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga memperkuat kemandirian bangsa dalam menentukan sistem produksi dan pemenuhan kebutuhan pangannya.
“Melalui pengembangan varietas unggul, benih bermutu, dan penguatan pertanian berkelanjutan, Muhammadiyah ingin mengambil peran nyata dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Bukan sekadar memastikan pangan tersedia, tetapi juga memastikan bangsa ini memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya.






