MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Keberagamaan seseorang perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kesalehan yang ditunjukkan melalui ibadah harus berjalan seiring dengan kejujuran, amanah, kepedulian sosial, dan sikap menghormati sesama.
Hal ini menjadi salah satu pesan yang disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (29/10).
Talqis menjelaskan, Muhammadiyah telah memiliki berbagai aset dakwah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Aset tersebut meliputi masjid dan kegiatan pengajian, lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, layanan kesehatan, Lazismu, serta gerakan kemanusiaan melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
Menurutnya, berbagai kekuatan tersebut perlu digerakkan secara simultan. Pengajian, misalnya, menjadi ruang pembelajaran agama yang harus berlanjut pada pembentukan perilaku. Begitu pula lembaga pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai Islam perlu memastikan nilai tersebut hadir dalam kehidupan peserta didik.
“Agama kita tumbuh secara kuantitas. Sekarang tugas kita adalah menumbuhkan secara kualitas. Bagaimana umat Islam yang sudah ada ini mampu mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam perilakunya,” jelasnya.
Ia kemudian mengajak jamaah melakukan muhasabah terhadap beberapa aspek kehidupan beragama. Dalam aspek akidah, seorang muslim perlu memastikan bahwa Allah menjadi satu-satunya tempat bergantung, tanpa menggantungkan nasib pada kekuatan mistis atau praktik kesyirikan.
Dalam aspek ibadah, Talqis mengingatkan bahwa salat dan berbagai ritual keagamaan semestinya membentuk kejujuran serta tanggung jawab. Seseorang yang rajin beribadah tetap perlu mengevaluasi dirinya apabila masih mengambil hak orang lain, mengingkari amanah, atau berkata tidak jujur.
Sementara dalam aspek akhlak, ia menyoroti kebiasaan mencela, menyindir, dan menyebarkan perkataan buruk di media sosial. Menurutnya, seorang muslim perlu memastikan bahwa orang lain merasa aman dari ucapan maupun tindakannya.
“Kalau kita berbicara, apakah orang lain merasa aman? Jangan sampai perkataan kita justru berisi ejekan, celaan, dan cemoohan,” tuturnya.
Talqis juga mengingatkan pentingnya budaya tabayun dalam menerima dan menyebarkan informasi. Semangat beragama harus disertai kemauan untuk terus belajar dan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
Ia turut menyinggung perbedaan organisasi maupun pilihan politik yang kerap merusak hubungan persaudaraan. Padahal, perbedaan semestinya disikapi dengan adab sehingga tidak melahirkan permusuhan di antara sesama muslim.
Menurut Talqis, keberhasilan dakwah dapat dilihat dari perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, kepedulian sosial perlu menjadi bagian dari keberagamaan, termasuk melalui pemberdayaan ekonomi agar penerima zakat dapat berkembang menjadi pemberi zakat.
“Bagaimana badan kita membantu orang menjadi mandiri atau tidak? Hari ini boleh jadi seseorang menjadi mustahik, tetapi tahun depan dia berubah menjadi muzaki karena sudah mapan secara finansial,” paparnya.






