MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG – Kemajuan yang dicapai oleh Muhammadiyah tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua elemen bangsa, terlebih masyarakat yang membutuhkan.
Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Ahad (1/11) dalam Peresmian Gedung RS Islam ‘Aisyiyah Malang di Kota Malang.
“Pedulilah terhadap yang di bawahnya. Pedulilah terhadap kanan-kiri. Bahkan bukan hanya milik Muhammadiyah, juga milik masyarakat secara keseluruhan,” ungkap Haedar Nashir.
Kemajuan yang ditorehkan oleh Muhammadiyah, kata Haedar, tidak hanya kembali atau untuk Muhammadiyah. Melainkan kemajuan itu harus juga ikut memajukan masyarakat secara keseluruhan.
“Sebaliknya kalau masyarakat tertinggal, Muhammadiyah juga merasa itu beban yang tidak ringan. Karena kemajuan harus menjadi milik kita bersama,” katanya.
Sebagai sebuah bangsa yang majemuk, Indonesia diharapkan kembali menghidupkan semangat gotong royong. Membangun Indonesia maju menurut Haedar memerlukan energi kolektif.
“Di situlah Muhammadiyah harus hadir, menyebarluaskan ide-ide menyebarluaskan langkah-langkah kemajuan supaya menjadi milik bersama,” tuturnya.
Namun demikian, usaha memajukan bukan perkara mudah, sekaligus membutuhkan proses yang panjang. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sebab memajukan membutuhkan jiwa yang tumbuh dan hidup, serta antusiasme.
Daya hidup maju dalam pengamatannya lekat dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Salah satu di antaranya adalah perintah untuk melaksanakan Salat Subuh– yang memakai waktu angkatan pertama, serta keempat salat lainnya.
“Ekosistem yang diciptakan oleh kewajiban salat untuk hidup setiap muslim jika itu dipraktikkan, saya yakin bangsa Indonesia yang mayoritas Islam itu akan punya daya hidup yang tinggi,” sambungnya.
Menurutnya, kunci memajukan Muhammadiyah dan bangsa ini setidaknya ada empat yakni ikhlas, amanah, gemar beramal kebajikan, serta untuk saling berta’awun atau saling tolong menolong.






