MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Alih-alih mundur disebabkan terhentinya pembangunan fisik, namun yang dikhawatirkan justru kemunduran Muhammadiyah di Cabang dan Ranting disebabkan berhentinya kaderisasi dan ideologisasi.
Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jamaluddin Ahmad pada Senin (28/9) di Gedoeng Moehammadijah, Kota Yogyakarta.
Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Cabang dan Ranting memang tidak ada yang roboh atau runtuh secara fisik. Namun justru masjid Muhammadiyah masih berdiri kokoh, akan tetapi praktik ibadahnya terkadang tidak sesuai dengan Manhaj Tarjih.
Selain itu, Jamal juga menganalisis ada Cabang dan Ranting Muhammadiyah secara organisasi masih jalan, akan tetapi isinya hanya orang tua. Rapat masih berjalan, namun keberlanjutan gerakan kemungkinan akan runtuh jika tidak ada kaderisasi.
“Ini juga runtuh, karena apa? Hampir tidak ada lagi daya tarik untuk anak muda. Muhammadiyah ada tapi runtuh. Tinggal orang-orang tua, anak muda hampir enggak ada yang tertarik,” katanya.
Oleh karena itu, salah satu barometer keunggulan Cabang dan Ranting Muhammadiyah unggul itu tidak hanya dihitung banyaknya AUM, tapi juga keaktifan kader dan kaderisasi di Cabang dan Ranting tersebut.
Jamal juga mengingatkan, bahwa kaderisasi Muhammadiyah di Cabang maupun Ranting itu tidak sebatas seremonial yang kering substansi. Sehingga kader Muhammadiyah kering ideologi dan lemah tanpa tempaan.
“Jangan hanya adanya ramai-ramai obyang-obyong dan sebagainya. Tetapi secara kaderisasi itu tidak melahirkan pejuang-pejuang yang memang memahami apa namanya perjuangan Muhammadiyah,” tegasnya.
Sebaliknya, melihat realitas saat ini Jamal mengakui bahwa kekhawatiran terbesar dari keberlangsungan dakwah atau gerakan Persyarikatan Muhammadiyah bukan karena terhentinya pembangunan fisik, tapi justru berhentinya kaderisasi dan ideologisasi.






