MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari menegaskan bahwa Nasyiatul Aisyiyah kedepan masih memiliki tantangan yang begitu besar dan kompleks. Maka dari itu, ia menegaskan bahwa kader perempuan muda harus mengambil peran sekaligus menjadi aktor utama dalam membangun masa depan bangsa. Hal itu ia sampaikan saat menyampaikan Pidato Iftitah Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah jelang sidang pleno Muktamar, Jumat sore, (7/8).
Seperti yang dijelaskannya sebelumnya saat Sidang Tanwir III Nasyiatul Aisyiyah, Ariati menyebut bahwa tema Muktamar ke-15 NA lahir atas respons NA terhadap berbagai isu kontemporer dan tantangan global yang dihadapi mulai dari transformasi digital, krisis iklim, kesehatan mental, hingga ketidakpastian perekonomian global.
Berbasis akan hal ini, Ariati kemudian menyebut bahwa NA harus hadir berperan bukan sekadar menjadi penonton.
“Perjalanan empat tahun terakhir bukanlah perjalanan yang mudah. Kita telah menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat dan berbagai isu yang semakin kompleks. Tapi kita memilih untuk merespon bukan sekadar menjadi penonton,” ujar Ariati saat menyampaikan pidato di Dwangsa Hotel Surakarta.
Selama hampir 95 tahun berdiri, Ariati menyebut bahwa NA terus bertahan akan komitmennya dalam meneguhkan peran sebagai gerakan kader perempuan muda Muhammadiyah yang berlandas tiga pilar utama: keislaman, kekaderan, dan keperempuanan.
Maka dari itu, selama 4 tahun masa periodenya, Ariati beserta jajarannya telah mewujudkannya melalui berbagai program yang telah menjawab kebutuhan masyarakat diantaranya: Gerakan Mengaji Nasyiah, Green Nasyiah dan Eco Bhinneka, Pelayanan Kesehatan Remaja melalui PASHMINA, Rumah Literasi, Penguatan kaderisasi melalui DANA, LINA, PMNA, dan Samara Course, pemberdayaan ekonomi melalui BUANA dan APUNA, pencegahan stunting melalui TIMBANG dan Isi Piringku, Sekolah Kepemimpinan Perempuan, Pelatihan Paralegal Tersertifikasi, hingga Tadarus Kebijakan.
“Semua ikhtiar tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra pemerintah, persyarikatan, lembaga nasional maupun internasional sebagai wujud dakwah yang memberi manfaat luas,” sebutnya.
Dengan terselenggaranya berbagai program yang tersebut diatas, Ariati mengungkap bahwa potensi maupun tantangan kedepan akan masih berlanjut. Ia memaparkan bahwa data SUPAS 2025, mengungkap bahwa 68,98 % penduduk Indonesia merupakan generasi muda dan 68,94 % berada di usia produktif. Kondisi inilah yang kemudian menjadi modal besar apabila diiringi peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan kader perempuan muda.
“Muktamar ke-15 ini menegaskan bahwa perempuan muda tidak boleh lagi hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tapi harus menjadi perancang, penggerak, sekaligus pengambil keputusan bagi masa depan bangsa,” katanya menegaskan.
Karena itu, ia mendorong agar agenda Nasyiatul Aisyiyah ke depan semakin diarahkan pada penguatan ekosistem kepemimpinan perempuan muda yang unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kewirausahaan, advokasi kebijakan, diplomasi, dan gerakan sosial, tanpa meninggalkan akar spiritualitas dan nilai-nilai tauhid.
Menutup pidato iftitah sekaligus pidato terakhirnya sebagai Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2022–2026, Ariati menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader dan pimpinan organisasi atas kerja kolektif yang telah dilakukan selama satu periode kepemimpinannya.
“Semoga Muktamar ke-15 ini melahirkan kepemimpinan yang amanah, berilmu, rendah hati, visioner, serta mampu membawa Nasyiatul Aisyiyah memasuki abad keduanya sebagai gerakan perempuan muda Islam berkemajuan yang terus menghadirkan solusi, melahirkan pemimpin, dan menebarkan manfaat bagi Indonesia dan dunia menuju terwujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur,” pungkasnya. (Bhisma)






