MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah gelar pembukaan Muktamar ke-15 di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Jum’at (7/8).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengapresiasi penuh pelaksanaan rangkaian Tanwir dan Muktamar NA ke 15 ini. Menurutnya, Muktamar bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan juga sebagai wadah bermusyawarah.
“Sebagaimana fokus utamanya, yaitu bermusyawarah dengan sebaik-baiknya terkait masalah, tantangan, program dan proyeksi Nasyiatul Aisyiyah ke depannya,” ujarnya.
Haedar mengungkapkan, muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah beserta seluruh komponennya, perlu menjadi tempat bermusyawarah dengan penuh kebijaksanaan.
“Sesuatu yang musykil atau susah, jika dibahas dengan baik dan semangat syuro atau bermusyawarah akan dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Menurut Haedar, tujuan berorganisasi bukan hanya untuk berkumpul apa adanya. Tetapi untuk memperjuangkan value atau nilai yang dimiliki, sehingga melekat kuat dalam setiap proses perjuangannya.
“Maka dalam musyawarah ini, proyeksikan langkah Nasyiatul Aisyiyah dalam lima, sepuluh bahkan hingga lima puluh tahun ke depan. Tentukan apa peran Nasyiatul Aisyiyah dalam kehidupan umat dan bangsa,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, menyampaikan rasa terima kasihnya karena agenda besar NA ini turut dihadiri oleh Pimpinan Pusat dari Muhammadiyah dan Aisyiyah dan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Ini membuktikan Nasyiatul Aisyiyah dicintai oleh ayahanda dan ibundanya. Ini memberikan semangat pada kita semua para srikandi untuk mengikuti jejak mereka untuk berkiprah,” ujarnya.
Ariati menyampaikan bahwa NA memiliki kaitan erat dengan Surakarta. Ia mengungkapkan bahwa muktamar NA dilaksanakan pertama kali secara otonom di Surakarta pada tahun 2004.
“Kami kembali ke Surakarta membawa semangat perempuan-perempuan muda di seluruh Nusantara untuk bermusyawarah dan bermuhasabah merumuskan arah perjuangan Nasyiatul Aisyiyah,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan pola kehidupan keluarga di era transformasi digital, menuntut organisasi perempuan muda seperti Nasyiatul Aisyiyah untuk mampu membaca zaman.
“Kita tidak hanya perlu mampu bertahan, tapi juga berinovasi untuk dakwah berkemajuan,” ujarnya.
Ariati menambahkan, kepemimpinan di NA bukan tentang menghadirkan kesempurnaan, tetapi tentang menjaga arah organisasi tetap berjalan di atas nilai-nilai yang benar. Ia menyebutkan, prinsip NA adalah menjadi insan terbaik yang bermanfaat bagi manusia.
“Maka dari itu, banyak kami temukan yunda-yunda yang mengajar mengaji setelah lelah bekerja. Begitu banyak kader yang mengorbankan waktu istirahatnya untuk memastikan Nasyiatul Aisyiyah tetap hidup,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan NA ini bukan hanya milik beberapa orang saja, melainkan perjalanan ribuan perempuan muda yang tetap mengabdi di tengah kesibukannya.
“Perempuan adalah pelaku utama perubahan. Inilah fondasi ideologis yang terus membimbing gerak dakwah kami. Selamanya, Nasyiatul Aisyiyah akan menjadi putri islam berkemajuan yang bermanfaat untuk keluarga, bangsa dan agama,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, forum Pembukaan Muktamar ke 15 Nasyiatul Aisyiyah dihadiri 6700 peserta kader Nasyiatul Aisyiyah dari seluruh wilayah dan daerah se-Indonesia. (syafa)






