Sabtu, 19 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muhammadiyah Perkuat Sistem Pengasuhan Pesantren Lewat Pelatihan Nasional Pamong dan Musyrif

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Muhammadiyah Perkuat Sistem Pengasuhan Pesantren Lewat Pelatihan Nasional Pamong dan Musyrif

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Gelombang krisis kepercayaan publik yang menghantam institusi pesantren akibat maraknya kasus kekerasan seksual, perundungan sistemik, hingga kekerasan fisik telah berada di titik darurat. Di tengah kekhawatiran orang tua dan merosotnya minat masyarakat menyekolahkan anak ke pesantren, Pesantren Muhammadiyah mengambil langkah taktis dan korektif melalui perombakan total sistem pengasuhan asrama yang konvensional dan tertutup.

Sebagai wujud komitmen tersebut, diselenggarakan Pelatihan Pamong, Musyrif, dan Musyrifah Pesantren Muhammadiyah Gelombang 1 pada Sabtu–Ahad, (1–2 / 8), di Tabligh Institute Yogyakarta. Kegiatan tingkat nasional ini dibuka secara resmi oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Maskuri, dengan disaksikan oleh 49 peserta yang terdiri dari unsur perwakilan Pamong, Musyrif/ah, dan Koordinator Kepengasuhan Pesantren.

Dalam membuka acara, Maskuri menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar pembinaan seremonial, melainkan intervensi struktural untuk mengeliminasi segala bentuk kekerasan yang kerap berlindung di balik dalih kedisiplinan tradisional. Berdasarkan catatan lembaga pemerhati anak, pesantren rentan terjebak dalam budaya impunitas dan penutupan kasus demi menjaga nama baik institusi, yang memicu ketakutan mendalam bagi wali santri.

“Kehidupan pesantren pada dasarnya adalah proses kepengasuhan yang terjadi selama 24 jam. Maka pelatihan ini adalah ikhtiar kita bersama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren Muhammadiyah, sekaligus menjaga nama baik institusi dan persyarikatan,” ujar Maskuri.

Pelatihan intensif difokuskan pada tiga tujuan utama: menghapuskan total hukuman fisik di lingkungan asrama, membekali pamong dengan keterampilan psikologi remaja agar memiliki pendekatan komunikasi yang humanis, serta merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) perlindungan anak yang transparan.

Muhammadiyah menegaskan bahwa transformasi ini merupakan manifestasi teologi Islam berkemajuan yang menempatkan perlindungan jiwa dan martabat kemanusiaan di tempat tertinggi. Melalui pelatihan di Yogyakarta ini, ke-49 peserta dipersiapkan menjadi agen perubahan garda terdepan untuk memastikan ekosistem pesantren menjadi ruang yang aman, mencerahkan, dan berkeadaban tinggi.

Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat pengawasan internal, mengaudit keselamatan lingkungan asrama, serta bersinergi dengan pakar psikologi guna menjamin standar pengasuhan yang terukur. Melalui langkah komprehensif ini, Pesantren Muhammadiyah optimis dapat memulihkan marwah pendidikan Islam dan menjadi teladan utama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan yang ramah anak. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan