MUHAMMADIYAH.OR.ID, MAROKO — Fenomena migrasi warga Maroko ke Spanyol kembali menjadi sorotan. Kedekatan geografis, peluang ekonomi, serta harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik menjadi sejumlah faktor yang mendorong warga Maroko menempuh perjalanan menuju Eropa.
Fenomena tersebut dibahas dalam program Diaspora Muhammadiyah TVMu yang tayang pada Rabu (12/08).
Dalam program yang dipandu Arina Nurrahma itu, anggota Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Maroko, Noval Fauzi, menceritakan kondisi yang terjadi di tengah masyarakat Maroko. Menurutnya, migrasi menuju Spanyol bukan fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Dalam beberapa kejadian, jumlah warga yang berusaha meninggalkan Maroko bahkan mencapai puluhan ribu orang.
“Tidak sedikit penduduk Maroko yang kabur dari negaranya, bahkan bisa mencapai puluhan ribu. Bahkan ada beberapa juga yang tewas dan terluka-luka,” ujar Noval.
Maroko dan Spanyol secara geografis memang berdekatan dan hanya dipisahkan Selat Gibraltar. Salah satu wilayah yang menjadi tujuan warga Maroko adalah Ceuta, wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara. Kedekatan tersebut membuat sebagian warga menempuh perjalanan melalui jalur laut, termasuk dengan berenang.
Noval menjelaskan, pada salah satu gelombang migrasi besar, warga memanfaatkan momentum ketika aparat keamanan di perbatasan Maroko dan Ceuta dinilai mengalami kelengahan. Momentum tersebut bertepatan dengan peringatan naik takhta Raja Maroko sehingga perhatian aparat terbagi.
Selain itu, informasi yang beredar melalui media sosial, termasuk Telegram dan sejumlah grup percakapan, turut mendorong warga untuk mencoba menyeberang. Informasi tersebut memberikan gambaran mengenai kemungkinan memperoleh masa depan yang lebih baik setelah mencapai wilayah Eropa.
“Ketika mereka kabur itu melihat ada beberapa titik terang, seolah-olah mendapatkan masa depan yang lebih cerah,” kata Noval.
Menurutnya, dorongan ekonomi menjadi salah satu faktor penting. Perjalanan tersebut pada awalnya banyak dilakukan oleh pria dewasa yang mencari pekerjaan atau penghidupan. Namun, dalam perkembangannya, anak muda bahkan anak-anak juga ikut dalam arus migrasi.
Noval menggambarkan kedekatan geografis Ceuta dengan Maroko sebagai salah satu faktor yang membuat perjalanan tersebut tampak mudah bagi sebagian warga. Meski demikian, perjalanan melalui laut dengan cara ilegal tetap mengandung risiko besar dan telah menyebabkan korban jiwa maupun luka-luka.
Mencari Peluang di Eropa
Ia juga menjelaskan adanya persepsi di kalangan sebagian warga Maroko mengenai peluang memperoleh status legal setelah masuk ke wilayah Eropa. Informasi mengenai putusan pengadilan dan kemungkinan pemutihan status imigran kemudian dipahami sebagai peluang untuk mendapatkan kehidupan baru.
“Orang Maroko melihat itu sebuah kesempatan, seperti melihat masa depan yang sangat cerah,” ujarnya.
Menurut Noval, persoalan migrasi ilegal tersebut sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Gelombang yang ramai diberitakan media merupakan bagian dari fenomena yang lebih panjang. Sebagian warga melihat keberadaan negara-negara Eropa yang secara geografis berada di depan mata sebagai peluang yang lebih menjanjikan.
Pemerintah Maroko dan Spanyol kemudian melakukan berbagai upaya untuk mencegah serta memulangkan warga yang masuk secara ilegal. Noval menyebut Uni Eropa juga memiliki kebijakan untuk memperketat kedatangan imigran ilegal. Persoalan tersebut tidak hanya melibatkan warga Maroko, tetapi juga imigran dari sejumlah negara Afrika Utara lainnya seperti Tunisia dan Aljazair.
Kehidupan Mahasiswa Indonesia di Maroko
Di sisi lain, Noval turut menceritakan kehidupan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Maroko. Menurutnya, kondisi kehidupan di Maroko memiliki tantangan tersendiri, termasuk keterbatasan sejumlah bahan pangan dan harga kebutuhan pokok yang berada pada tingkat menengah ke atas.
Bagi mahasiswa Indonesia, perbedaan budaya dan pola konsumsi juga menjadi pengalaman tersendiri. Makanan sehari-hari di Maroko banyak menggunakan roti yang disobek kemudian dicocolkan ke makanan. Kondisi tersebut berbeda dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang terbiasa mengonsumsi nasi.
Keterbatasan bahan tertentu juga membuat mahasiswa Indonesia harus beradaptasi. Noval mencontohkan tempe dan tahu yang tidak selalu mudah ditemukan sehingga sebagian mahasiswa bahkan membuatnya sendiri.
Meski menghadapi berbagai tantangan, kehidupan mahasiswa Indonesia di Maroko terus berkembang. Noval menyebut jumlah mahasiswa Indonesia di negara tersebut terus bertambah. Bahkan, beberapa hari sebelum program Diaspora Muhammadiyah ditayangkan, tiga mahasiswa Indonesia untuk pertama kalinya diterima di Universitas Mohammed VI untuk bidang qiraat dan dirasah.
Menurut Noval, perkembangan tersebut menunjukkan semakin eratnya hubungan antara Indonesia dan Maroko, termasuk melalui jalur pendidikan. Kehadiran mahasiswa Indonesia di Maroko juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman dan jaringan kader Muhammadiyah di luar negeri.
Program Diaspora Muhammadiyah TVMu tersebut memperlihatkan dua sisi kehidupan diaspora di Maroko. Di satu sisi, terdapat persoalan migrasi yang melibatkan warga lokal menuju Eropa dengan berbagai risiko. Di sisi lain, mahasiswa Indonesia justru hadir di Maroko melalui jalur pendidikan yang legal untuk menimba ilmu, membangun jejaring, dan membawa pengalaman Indonesia ke ruang internasional.






