Selasa, 6 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Mencegah Korupsi Sejak Dini, Dimulai dari Mencari Rizki yang Halal dan Baik

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Mencegah Korupsi Sejak Dini, Dimulai dari Mencari Rizki yang Halal dan Baik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas ingatkan supaya memberi nafkah kepada keluarga, termasuk anak dan istri dengan rizki yang halal dan baik. 

Pesan itu disampaikan Busyro Muqoddas pada Senin (5/10) dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat dengan tema “Didik Anak Jujur, Bangun Ekonomi Umat yang Mandiri”, di TVMU.

Peringatan ini ditujukan Busyro untuk semua, lebih-lebih kepada para pejabat publik yang dalam bekerja memiliki tantangan yakni dari bujuk rayu korupsi yang menurutnya sudah terjadi dan sangat parah.

Fenomena korupsi di Indonesia seperti ‘lingkaran setan’, bahkan korupsi dapat dimulai dari lingkungan atau didikan sebuah keluarga– khususnya ketika mencari rizki, yang dilakukan dengan cara semaunya.

“Kemudian hidup dalam suasana politik, suasana bisnis yang kebanyakan mencari penghasilan semaunya saja. Halal-haram tidak diperhatikan,” ungkap Busyro.

Busyro mendedahkan, mayoritas para pelaku korupsi mayoritas ada mereka yang memiliki gelar pendidikan mentereng, paling tidak strata satu, dua, sampai dengan strata tiga.

Oleh karena itu, dia mendorong adanya pembaruan kebijakan untuk dunia pendidikan, lebih-lebih pendidikan sejak dini yang diterapkan untuk anak-anak Indonesia menurutnya harus mengedepankan kejujuran.

Merujuk hasil Muktamar 48 di Surakarta tahun 2022, Busyro mengatakan di Muhammadiyah memiliki konsep kedaulatan keluarga, yaitu sebuah usaha untuk membangun keluarga tangguh di tengah situasi yang sulit.

Membuka data perceraian terbaru yang terus meningkat, menurutnya bertambahnya jumlah perceraian itu erat kaitannya dengan kasus pinjaman online.

Busyro mendorong ‘Aisyiyah untuk ikut memberi andil dalam sebagai solusi untuk masalah ini. Langkah awal bisa dilakukan dengan menggandeng Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA).

“Perguruan tinggi itu tugasnya bukan hanya mencetak orang-orang pintar, diwisuda selesai sama sekali. Perguruan tinggi itu menjadi tempat pendidikan pemimpin berbasis akhlak dan ilmu. Itu pendidikan tinggi,” katanya.

Bagi Busyro, PTMA harus hadir sebagai oase di tengah tandusnya karakter kepemimpinan di negeri ini dengan mendidik manusia-manusia yang jujur, serta sederhana, sehingga jika nanti jadi pejabat tidak korupsi.

Tinggalkan Balasan