Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Membedah Kontroversi VAR Mesir vs Argentina dengan Hermeneutika Paul Ricoeur

Oleh timredaksi 4 Menit Min
Membedah Kontroversi VAR Mesir vs Argentina dengan Hermeneutika Paul Ricoeur

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Kontroversi keputusan wasit berbantuan Video Assistant Referee (VAR) dalam sepak bola tidak semestinya hanya dipahami sebagai persoalan benar atau salah berdasarkan aturan pertandingan. Di balik setiap keputusan, terdapat dimensi kepercayaan, kecurigaan, hingga pencarian keadilan yang mencerminkan cara manusia membaca sebuah peristiwa.

Pandangan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohammad Syifa Amin Widigdo, dalam podcast yang tayang di kanal Wonderhome Library, Kamis (9/7).

Mengawali pembahasannya, Syifa menyoroti bagaimana sebuah pertandingan sepak bola sering kali ditentukan bukan hanya oleh kemampuan pemain di lapangan, melainkan juga oleh keputusan wasit. Satu peluit atau satu tayangan VAR dapat mengubah hasil pertandingan sekaligus memicu perdebatan panjang di kalangan penonton.

Ia mengambil contoh pertandingan Argentina melawan Mesir yang diwarnai kontroversi. Gol Mesir dianulir setelah VAR menemukan adanya pelanggaran terhadap Lisandro Martinez dalam rangkaian serangan. Di sisi lain, Mesir menilai Mohamed Salah dilanggar di kotak penalti, tetapi wasit tidak memberikan hadiah penalti. Keputusan tersebut mengantarkan Argentina meraih kemenangan, sementara kubu Mesir merasa dirugikan.

Menurut Syifa, secara prosedural keputusan tersebut memang memiliki dasar dalam Laws of the Game. VAR hanya digunakan untuk empat situasi penting, yakni gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Selain itu, keputusan awal wasit hanya dapat diubah apabila terdapat kesalahan yang jelas dan nyata.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa VAR bukanlah mesin yang menghasilkan kebenaran mutlak. Teknologi tersebut tetap bergantung pada sudut kamera, interpretasi manusia, serta penafsiran wasit terhadap sebuah kontak di lapangan. Karena itu, sepak bola tidak pernah hanya berbicara tentang aturan, melainkan juga tentang emosi yang memengaruhi cara publik memaknai sebuah keputusan.

Untuk menjelaskan fenomena tersebut, Syifa menggunakan pemikiran filsuf Prancis, Paul Ricoeur, mengenai dua pendekatan dalam membaca makna, yakni hermeneutics of faith dan hermeneutics of suspicion.

Pendekatan pertama, jelasnya, mengajak seseorang memulai dengan sikap percaya. Dalam konteks sepak bola, kelompok ini meyakini bahwa wasit dan VAR telah bekerja sesuai prosedur sehingga keputusan yang diambil patut dihormati selama memiliki dasar aturan.

Syifa mencontohkan sejumlah analis ESPN yang menilai intervensi VAR terhadap gol Mesir merupakan keputusan yang tepat. Pandangan serupa juga disampaikan jurnalis The Guardian, Scott Murray, yang menilai pelanggaran terhadap Lisandro Martinez memang layak berujung tendangan bebas sehingga gol Mesir harus dianulir. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, pun melihat kemenangan timnya sebagai hasil mentalitas juara, bukan hadiah dari perangkat pertandingan.

Sebaliknya, pendekatan kedua, yakni hermeneutics of suspicion, memandang keputusan wasit dengan sikap kritis. Kelompok ini tidak berhenti pada pertanyaan apakah keputusan sesuai aturan, tetapi juga mempertanyakan apakah aturan tersebut diterapkan secara adil kepada semua pihak.

Syifa menyebut pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka merasa timnya diperlakukan tidak adil. Mustafa Zico bahkan menyindir seolah turnamen diarahkan untuk menguntungkan Argentina. Mantan pemain Manchester United, Gary Neville, juga meragukan apakah gol serupa akan dianulir apabila dicetak Argentina. Pandangan kritis turut datang dari Roy Keane, Mark Halsey, hingga mantan wasit Spanyol Eduardo Iturralde yang mempertanyakan konsistensi penggunaan VAR.

Menurut Syifa, cara pandang penuh kecurigaan tersebut tidak lahir tanpa sebab. Dalam sepak bola modern, pertandingan besar juga melibatkan kepentingan industri, rating siaran, serta besarnya narasi yang mengiringi tokoh-tokoh seperti Lionel Messi. Karena itu, ketika sebuah keputusan menguntungkan tim besar, sebagian publik segera menghubungkannya dengan kemungkinan adanya keberpihakan.

Meskipun demikian, Syifa mengingatkan bahwa kecurigaan tidak sama dengan bukti. Tuduhan konspirasi tidak dapat dibenarkan hanya karena muncul dugaan atau ketidakpuasan terhadap hasil pertandingan.

Fenomena serupa, lanjutnya, juga terlihat pada pertandingan Paraguay melawan Prancis. Publik mempertanyakan mengapa permainan keras Paraguay relatif minim hukuman kartu, sementara Prancis justru merasa dirugikan oleh keputusan wasit. Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa yang dipersoalkan bukan sekadar kartu kuning atau pelanggaran, melainkan konsistensi penerapan aturan.

Pelajaran Penting

Dari berbagai kontroversi tersebut, Syifa melihat sedikitnya tiga pelajaran penting. Pertama, gairah publik terhadap sepak bola semakin tinggi. Berkat tayangan ulang dan media sosial, hampir setiap penonton kini mampu menganalisis pertandingan serta menyampaikan penilaiannya sendiri.

Kedua, kekuatan sepak bola dunia semakin merata. Tim-tim yang sebelumnya dianggap kecil kini mampu memberikan perlawanan sengit kepada negara-negara besar. Argentina dapat dibuat kesulitan oleh Mesir, Prancis menghadapi tekanan dari Paraguay, sementara sejumlah negara unggulan seperti Jerman pun harus tersingkir dari turnamen.

Ketiga, publik semakin mendambakan keadilan. Menurut Syifa, penonton pada dasarnya dapat menerima kekalahan, tetapi sulit menerima apabila merasa aturan diterapkan secara berbeda kepada tim yang berbeda.

Karena itu, ia menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada berbagai pihak. Kepada wasit, ia meminta agar tidak hanya berpegang pada kebenaran prosedural, tetapi juga menjaga konsistensi sehingga keputusan yang sama menghadirkan rasa keadilan yang sama bagi kedua tim.

Sementara kepada penonton, Syifa mengajak agar tetap bersikap kritis, tetapi tidak terjebak dalam kecurigaan yang berlebihan. Kritik diperlukan untuk memperbaiki kualitas pertandingan, sedangkan tuduhan konspirasi tanpa dasar justru merusak nalar sehat.

Adapun kepada FIFA, ia mendorong agar komunikasi mengenai penggunaan VAR dibuat lebih terbuka. Publik, menurutnya, perlu mengetahui alasan mengapa suatu insiden diperiksa, sedangkan insiden lain tidak. Transparansi akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap integritas pertandingan.

Mengakhiri pemaparannya, Syifa mengutip pandangan filsuf Albert Camus yang pernah mengatakan bahwa hampir seluruh pelajaran tentang moralitas dan kewajiban dipelajarinya dari sepak bola. Kutipan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa perdebatan mengenai VAR, penalti, kartu merah, maupun gol yang dianulir sejatinya merupakan perdebatan tentang moralitas permainan.

“Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar skor pertandingan, melainkan keyakinan bahwa sepak bola masih layak dipercaya sebagai permainan yang adil, dinikmati sebagai tontonan, dan dijadikan pelajaran tentang kemanusiaan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan