MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANGKA BELITUNG – Dunia akan terus mengalami perubahan, dan perubahan tersebut dipercepat oleh adanya kemajuan teknologi dan informasi yang memaksa manusia ‘tidak bisa diam’.
Oleh karena itu, menurut Mendikdasmen RI sekaligus Sekum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dalam menyikapi perubahan yang cepat dan drastis itu dibutuhkan pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus berkembang– growth mindset.
Merujuk Carol Dweck, Mu’ti berpesan, supaya para generasi penerus masa depan, lebih-lebih para sarjana untuk menyiapkan diri lebih awal, bukan untuk menyesuaikan perubahan melainkan merancang perubahan.
“Sarjana bukan hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, tetapi mereka yang mampu merancang perubahan itu sendiri,” ujar Mu’ti pada Kamis (2/7) dalam Wisuda XVII UNMUH Bangka Belitung.
Dalam waktu yang bersamaan perubahan global juga akan mengubah wajah dunia kerja. Ia menyinggung berbagai kajian yang memprediksi akan hilangnya ribuan jenis pekerjaan, namun pada saat yang sama akan lahir lebih banyak profesi baru yang menuntut kreativitas, inovasi, dan kemampuan beradaptasi.
Maka dengan demikian, Abdul Mu’ti berpesan supaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebab akan menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan seseorang di masa depan.
“Yang akan menentukan keberhasilan saudara bukan hanya nilai akademik, tetapi juga karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, kemauan belajar, serta keberanian menghadapi perubahan,” katanya.
Abdul Mu’ti berharap para lulusan UNMUH Bangka Belitung mampu mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh sebagai jalan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan intelektual, melainkan awal untuk terus belajar, berkarya, dan menjadi pelopor perubahan demi mewujudkan Indonesia yang berkemajuan, sejalan dengan tema wisuda tahun ini, “Meneguhkan Keunggulan, Membangun Peradaban Sarjana Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan.”
Ditegaskannya bahwa Indonesia saat ini masih membutuhkan sekitar 561 ribu guru untuk memenuhi kebutuhan pendidikan nasional. Oleh karena itu, ia mendorong para lulusan, khususnya dari bidang kependidikan, agar memanfaatkan peluang tersebut dengan mengabdikan ilmu dan kompetensinya sebagai tenaga pendidik.






