Minggu, 20 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Menebar Rahmat untuk Semesta, Muhammadiyah Teguhkan Dakwah Kemanusiaan

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Menebar Rahmat untuk Semesta, Muhammadiyah Teguhkan Dakwah Kemanusiaan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SIDOARJO – Menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq Mughni menjelaskan, sebab amal salih Muhammadiyah manfaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia karena amal itu tidak mengenal batas bangsa, agama, maupun entitas lain.

“Semuanya adalah manusia yang berhak mendapatkan manfaat dari al a’mal assalihat itu,” ungkap Syafiq Mughni dalam tayangan Tabligh Akbar Milad ke-109 ‘Aisyiyah oleh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sidoarjo pada Ahad (31/5).

Menyinggung tema milad “Dakwah Kemanusiaan dan Mewujudkan Perdamaian”, Syafiq menjelaskan, tema yang diangkat ini relevan dengan poin keenam dan ketujuh dari ciri atau karakter Islam Berkemajuan yang tertuang dalam Risalah Perempuan Berkemajuan.

Karakter keenam dari Risalam Perempuan Berkemajuan, kata Syafiq adalah amal salih, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas. Sementara karakter atau ciri yang ketujuh adalah bersikap inklusif.

“Kita berjuang dan membantu orang lain siapa saja. Kita bergaul dengan siapa saja. Ini menjadi ciri yang sangat penting karena memang agama Allah mendorong kita semua untuk bersikap inklusif,” ungkap Syafiq.

Laku inklusif yang dilakukan oleh Muhammadiyah ini mendapat legitimasi dari perilaku Nabi Muhammad. Bahwa kebaikan yang dia tebarkan tidak hanya kepada muslimin saja, tapi kepada seluruh alam – rahmatan lil alamin.

Oleh karena itu, peran kerahmatan bagi seluruh alam ini perlu untuk dilestarikan. Maka Syafiq mengajak ‘Aisyiyah bersinergi dengan Muhammadiyah untuk mengawal program-program menebar manfaat bagi seluruh alam.

Tantangan Perdamaian di Tengah Kekacauan Global

Sebagai agen yang memerankan fungsi untuk menebarkan rahmat bagi seluruh alam, ungkap Syafiq, saat ini tengah menghadapi gejolak dan polemik yang begitu kompleks, tidak hanya di tingkat nasional tapi juga global.

“Tantangan pada tingkat global, pada tingkat internasional yang mau tidak mau berdampak kepada umat Islam, khususnya di Indonesia. Ada tantangan konflik, pertikaian,” kata Syafiq.

Terlebih kejadian akhir-akhir ini yang menurutnya begitu sangat berdampak, yakni perang di kawasan Negara Teluk yang sudah mulai banyak menimbulkan korban jiwa, maupun ekonomi yang berdampak pada global.

Syafia menegaskan, situasi yang terjadi tentu berdampak pada perdamaian global dan mendesak tentang arti perdamaian – sekalipun perdamaian bukan berarti nir-konflik, tetapi konflik merupakan wajah dari tidak adanya perdamaian itu.

Selain konflik, kehidupan kemanusiaan global juga mendapat tantangan dari terjadinya perubahan iklim. Cuaca panas ekstrim yang terjadi di muka bumi ikut berperan menambah kesengsaraan manusia.

“Kalau keadaan ini terus berlangsung, maka dalam masa 50 tahun atau 100 tahun yang akan datang kita akan susah melaksanakan kegiatan yang normal,” katanya.

Meski perilaku fasad fil ardh dilakukan oleh sebagian manusia, tapi dampak dari perilaku buruk itu tidak hanya dirasakan oleh sebagian bangsa atau kelompok tertentu, tapi dampak buruknya akan dirasakan oleh seluruh umat manusia.

“Karena itulah maka kerja sama, bahu membahu antar kita semua menjadi sangat penting dan kita bersyukur bahwa ‘Aisyiyah telah melaksanakan program yang sangat penting dalam rangka mengendalikan krisis iklim,” katanya.

Tinggalkan Balasan