Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Philanthropy Academy Lazismu Cetak Generasi Muda Siap Berkarya untuk Umat

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Philanthropy Academy Lazismu Cetak Generasi Muda Siap Berkarya untuk Umat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Lazismu Pusat secara resmi melepas 11 peserta Program Philanthropy Academy Batch 1 pada Jumat (22/5) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah. Pelepasan tersebut menjadi penanda berakhirnya program magang dan pemberdayaan yang dijalani peserta selama satu tahun.

Direktur Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, Ardi Lutfi Kautsar, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai inovasi pemberdayaan yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, khususnya terkait minimnya pengalaman kerja yang kerap menjadi syarat dalam dunia profesional.

“Dalam banyak kesempatan kerja, syarat pengalaman minimal satu tahun sering kali menjadi tantangan bagi pencari kerja. Karena itu, Philanthropy Academy hadir sebagai ruang pembelajaran sekaligus praktik kerja nyata bagi peserta,” ujarnya.

Menurut Ardi, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti pelatihan dan pengenalan kelembagaan Lazismu, termasuk memahami proses bisnis dan tata kelola organisasi. Setelah itu, mereka menjalani praktik kerja lapangan di Lazismu Pusat selama satu tahun.

Ia mengungkapkan, program tersebut mendapat antusiasme tinggi sejak pertama kali dibuka. Dari 50 pendaftar, sebanyak 16 orang dinyatakan lolos seleksi. Dalam perjalanannya, jumlah peserta berkurang menjadi 13 orang, hingga akhirnya 11 peserta berhasil menyelesaikan program sampai akhir.
“Ada berbagai alasan peserta tidak melanjutkan program, salah satunya karena telah diterima bekerja di instansi lain,” jelasnya.

Ardi menambahkan, peserta telah melewati fase pelatihan dan praktik kerja lapangan, sementara satu fase lain berupa desain program bersama masih akan dikembangkan pada tahap selanjutnya.

“Ini bukan pelepasan sepenuhnya, melainkan awal bagi teman-teman Philanthropy Academy untuk terus berkarya, baik di Lazismu maupun lembaga lainnya. Bekal selama satu tahun ini diharapkan dapat terus dijaga dan dikembangkan,” katanya.

Sementara Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menilai Philanthropy Academy merupakan praktik baik yang perlu terus dilanjutkan pada angkatan berikutnya.
Ia menjelaskan bahwa istilah “akademi” memiliki makna sebagai ruang belajar untuk memperluas wawasan dan berbagi pengalaman hidup yang bermakna.

“Yang diberikan selama satu tahun ini sejatinya adalah bekal. Yang paling penting ialah kekuatan ilmu, kesiapan jasmani, dan penguatan khazanah keilmuan yang dilandasi nilai ketauhidan,” ungkapnya.

Mujadid Rais juga menekankan pentingnya fondasi tauhid dalam menjalani kehidupan dan kerja-kerja pemberdayaan. Ia mencontohkan kisah Muaz bin Jabal ketika diutus Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan nilai-nilai tauhid di tengah masyarakat.

Menurutnya, ada dua pelajaran penting yang perlu dibawa peserta Philanthropy Academy. Pertama, kesiapan tauhid sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan dan pengabdian. Kedua, menjaga semangat kebajikan serta tetap memiliki kedekatan dengan Lazismu di mana pun berada.

Pada kesempatan tersebut, salah satu peserta Philanthropy Academy, Tajul Arifin, mewakili peserta lainnya menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan belajar yang diberikan Lazismu Pusat.

“Ada banyak pembelajaran bermakna yang kami dapatkan, terutama tentang pentingnya perencanaan, kerja sama tim, dan tanggung jawab dalam menyukseskan sebuah program,” tuturnya.
Ia mengaku pengalaman selama satu tahun tersebut menjadi kesempatan berharga yang memberikan banyak pelajaran untuk perjalanan mereka ke depan.

Sebagai simbol kelulusan program pemberdayaan, para peserta menerima samir dari jajaran pimpinan Lazismu Pusat. Pemberian samir tersebut menjadi penanda spirit berkarya dan pengabdian yang diharapkan terus tumbuh dalam diri para peserta.

Tinggalkan Balasan