Refleksi Milad ke 95 Nasyiatul Aisyiyah
Oleh: Ariati Dina Puspitasari
Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah
Di tengah derasnya arus global, perempuan muda Indonesia sedang berhadapan dengan dua gelombang besar peradaban: arus digital dan arus ekologis. Keduanya bukan sekadar jargon akademik atau wacana futuristik, melainkan realitas yang kian nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dari cara kita bekerja, berinteraksi, hingga bagaimana kita mengelola sumber daya alam, semuanya kini ditentukan oleh derasnya arus teknologi digital sekaligus krisis ekologis yang makin menekan. Dua arus inilah yang akan membentuk wajah masa depan, sekaligus menyimpan tantangan serius bagi kesetaraan gender, keberlanjutan lingkungan, dan kelangsungan hidup generasi mendatang.
Laporan World Economic Forum (WEF) 2025 menegaskan betapa jurang kesenjangan gender dunia masih begitu lebar. Baru 68,8 persen yang tertutup, sementara bidang ekonomi baru mencapai 61 persen dan politik hanya 22,9 persen. Jika tren ini terus berjalan tanpa terobosan, dunia akan membutuhkan waktu hingga 123 tahun lagi untuk benar-benar mencapai kesetaraan gender penuh. Indonesia pun tidak berada di luar persoalan ini. Tingkat partisipasi kerja perempuan stagnan di angka 53 persen selama dua dekade terakhir (World Bank, 2024). Angka ini bukan sekadar statistik dingin, melainkan cermin dari realitas sosial yang masih kuat menempatkan perempuan sebagai penjaga rumah tangga, meskipun peluang pendidikan tinggi bagi perempuan semakin terbuka lebar.
Lebih ironis lagi, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi ruang paling rentan. Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2024 mencatat 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan, naik 9,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 98,5 persen terjadi di ranah domestik. Angka ini sungguh memprihatinkan. Lebih memilukan lagi, sebagian besar korbannya adalah perempuan muda berusia 18–24 tahun usia yang mestinya menjadi fase paling produktif, penuh harapan, dan penuh cita-cita. Fenomena ini menunjukkan bahwa problem gender tidak hanya terletak pada ketiadaan akses perempuan di ruang publik, tetapi juga pada konstruksi sosial yang membelenggu mereka di ranah privat. Norma budaya yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang “harus sabar”, “harus mengalah”, atau bahkan “wajar jika diperlakukan tidak adil” justru melanggengkan siklus kekerasan. Akibatnya, banyak perempuan muda kehilangan potensi emas mereka karena terjerat dalam lingkaran diskriminasi dan kekerasan yang terus berulang.
Inilah tantangan besar yang harus kita jawab bersama. Bagaimana mengubah norma sosial yang diskriminatif menjadi budaya kesalingan yang adil, penuh kasih, dan menghargai martabat manusia? Bagaimana memastikan bahwa rumah tidak lagi menjadi ruang penuh ancaman, melainkan kembali menjadi ruang aman bagi tumbuhnya cinta, kepercayaan, dan penghormatan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi renungan bersama ketika kita membicarakan masa depan peradaban digital dan ekologis, karena tanpa keadilan gender, semua kemajuan teknologi dan pembangunan berkelanjutan akan kehilangan makna yang paling mendasar.
Peluang Baru di Ruang Digital
Namun di tengah keprihatinan itu, kita juga melihat secercah harapan. Perubahan peta akses digital di Indonesia menunjukkan tren yang menjanjikan. Laporan GSMA 2024 mencatat kesenjangan akses digital antara laki-laki dan perempuan mulai menyempit dari 19% pada 2022, turun menjadi 14% pada 2024. Penurunan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan titik terang yang bisa membuka jalan baru bagi pemberdayaan perempuan muda.
Akses digital hari ini tidak lagi sekadar soal memiliki telepon pintar atau kuota internet. Lebih dari itu, ia adalah pintu masuk menuju kesempatan ekonomi, sosial, bahkan politik. Melalui konektivitas digital, perempuan bisa memperluas jaringan, memperkuat literasi keuangan, hingga mengembangkan wirausaha berbasis teknologi. Banyak UMKM perempuan kini mampu bertahan dan bahkan tumbuh karena memanfaatkan platform digital. Green economy pun semakin terbuka untuk digerakkan dari ruang-ruang virtual: mulai dari pemasaran produk ramah lingkungan, inisiatif sirkular ekonomi, hingga kampanye kesadaran iklim yang digerakkan melalui media sosial.
Studi McKinsey (2024) menunjukkan bahwa pekerjaan masa depan yang tumbuh paling pesat justru berada di sektor science, technology, engineering, and mathematics (STEM), komputasi, dan kecerdasan buatan (AI). Artinya, ekonomi digital bukan lagi wacana masa depan, melainkan kenyataan hari ini yang sedang berlangsung cepat. Jika kesenjangan digital dibiarkan, perempuan berisiko mengalami double exclusion, tertinggal dari akses digital dasar sekaligus tidak siap menghadapi ekonomi berbasis AI di masa depan. Situasi ini ibarat “dua kali kehilangan” yang bisa menghambat mobilitas sosial perempuan secara struktural.
Tantangannya, tidak hanya sebatas memberikan akses digital, tetapi juga membangun kepercayaan diri, etika, dan keamanan perempuan dalam menggunakannya. Masih banyak perempuan yang enggan aktif di ruang digital karena pengalaman buruk seperti pelecehan daring, penipuan keuangan, hingga kerentanan data pribadi. GSMA Intelligence Report mencatat hanya 63% perempuan Indonesia yang merasa aman di dunia digital, sementara 5% di antaranya pernah mengalami penipuan keuangan melalui internet. Oleh sebab itu, mengisi ruang digital dengan nilai etika, keberpihakan, dan kepemimpinan perempuan menjadi sangat mendesak. Ruang digital tidak boleh dibiarkan menjadi arena yang mengulang ketidakadilan lama dalam wajah baru. Sebaliknya, ia harus dijadikan wahana transformasi yang membebaskan. Di sinilah pentingnya perempuan muda mengambil peran strategis, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta, inovator, sekaligus pengambil kebijakan.
Kita bisa belajar dari berbagai komunitas perempuan di Indonesia yang mulai masuk ke dunia STEM dan data science. Komunitas seperti Generation Girl dan Women in Data Science telah membekali perempuan dengan keterampilan coding, problem solving, dan critical thinking. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi kesempatan, mereka bukan hanya mampu mengikuti arus digital, tetapi juga menciptakan arus baru yang lebih adil dan inklusif. Dengan demikian, peluang di ruang digital harus dibaca bukan sekadar sebagai ruang kompetisi, melainkan juga sebagai ladang dakwah sosial dan peradaban. Di tangan perempuan muda, teknologi bisa dipakai untuk menghadirkan nilai kebermanfaatan, mengurangi jurang sosial, sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai pemimpin masa depan.
Ekologi, Krisis, dan Perempuan
Selain digitalisasi, arus ekologis juga menjadi tantangan besar peradaban kita. Perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan krisis hari ini yang dampaknya semakin terasa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. UN Women (2023) memperkirakan bahwa pada tahun 2050, perubahan iklim berpotensi mendorong lebih dari 158 juta perempuan dan anak perempuan ke dalam kemiskinan. Sementara itu, kerawanan pangan diperkirakan meningkat drastis hingga 236 juta perempuan menghadapi kelaparan.
Bagi perempuan, krisis ekologis ini bersifat ganda: mereka terdampak paling parah sekaligus sering dikesampingkan dari solusi. Dalam konteks Indonesia, perempuan terutama di pedesaan dan pesisir sangat bergantung pada sumber daya alam untuk kebutuhan sehari-hari. Perempuan desa mengandalkan sawah, ladang, dan sumber air untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara perempuan pesisir bergantung pada hasil laut. Ketika kekeringan, banjir, atau abrasi melanda, merekalah yang pertama kali merasakan dampaknya seperti kesulitan pangan, naiknya harga kebutuhan pokok, hingga beban ganda menjaga ketahanan keluarga.
Ironisnya, meskipun perempuan adalah kelompok yang paling rentan, mereka seringkali dikecualikan dari proses pengambilan keputusan lingkungan. Padahal, pengalaman mereka sehari-hari menghadapi krisis air, pangan, dan energi sangat relevan untuk menyusun kebijakan adaptasi iklim. Global Government Forum (2024) bahkan menegaskan bahwa krisis ekologis bukan hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender, pernikahan anak, hingga perdagangan manusia, terutama di situasi pascabencana. Kita melihat bagaimana setelah bencana, perempuan kerap menanggung beban tambahan dari mengurus keluarga di tenda pengungsian hingga menghadapi pelecehan di ruang darurat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa krisis ekologi tidak netral gender. Ia memperdalam ketidaksetaraan yang sudah ada. Karena itu, perspektif gender dalam kebijakan iklim menjadi mutlak. Tanpa itu, adaptasi iklim hanya akan menumpuk masalah baru, bukan menyelesaikannya. Di sisi lain, dunia menawarkan paradigma baru yang bisa menjadi inspirasi seperti ecological civilization. Sebuah konsep yang menekankan harmoni antara manusia dan alam sebagai jalan keluar dari krisis ekologis. Paradigma ini menolak cara pandang eksploitatif yang menempatkan alam sekadar sebagai objek produksi tanpa batas. Sebaliknya, ia mengajak manusia untuk kembali pada prinsip keseimbangan, kesederhanaan, dan tanggung jawab lintas generasi.
Bagi kita umat Islam, gagasan ini sejatinya sudah lama tertanam dalam ajaran agama. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah fil ardh pemelihara bumi, bukan penguasa yang boleh sewenang-wenang. Islam rahmatan lil ‘alamin mengajarkan bahwa rahmat Allah mencakup seluruh ciptaan baik manusia, hewan, tumbuhan, air, udara, dan tanah. Di titik inilah Islam berkemajuan mengajarkan kita bahwa kesalehan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial dan ekologis. Shalat, puasa, dan zakat memang pilar ibadah, tetapi menjaga bumi dan mencegah kerusakan juga bagian dari ibadah.
Prinsip inilah yang melahirkan berbagai gerakan perempuan peduli lingkungan di Indonesia. Dari perempuan desa yang menginisiasi bank sampah, kelompok ibu yang menanam mangrove, hingga kader muda Nasyiatul Aisyiyah yang bergerak dalam program Green Nasyiah. Semua ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya korban, tetapi juga aktor penting dalam menghadirkan solusi ekologis. Oleh karena itu, arus ekologis harus dilihat bukan sekadar sebagai ancaman, tetapi juga peluang bagi perempuan untuk menunjukkan kepemimpinan. Jika perempuan diberi ruang untuk memimpin gerakan iklim, hasilnya bukan hanya menyelamatkan bumi, tetapi juga menegakkan keadilan sosial. Karena menjaga alam pada hakikatnya adalah menjaga kehidupan, dan menjaga kehidupan adalah amanah kemanusiaan.
Amanah Peradaban bagi Perempuan Muda
Sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah memandang bahwa gerakan perempuan tidak boleh berhenti pada persoalan kuota keterwakilan semata. Representasi penting, tetapi bukan tujuan akhir. Lebih dari itu, perjuangan perempuan adalah amanah peradaban, amanah untuk memastikan bahwa dunia yang kita wariskan kepada generasi mendatang adalah dunia yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih ramah lingkungan.
Amanah ini menuntut perempuan muda hadir secara aktif di berbagai lini kehidupan. Mereka harus berani masuk ke ruang-ruang politik untuk memastikan kebijakan publik berpihak pada kesetaraan dan keadilan sosial. Mereka perlu terlibat dalam ekonomi hijau menginisiasi wirausaha ramah lingkungan, membangun model ekonomi sirkular, dan mendorong transisi energi bersih. Mereka juga harus meneguhkan kepemimpinan digital bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, melainkan sebagai pengembang inovasi, pencipta konten positif, dan pengambil kebijakan di ruang digital. Dan tak kalah penting, mereka wajib berada di garda depan gerakan sosial yang menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik, psikis, maupun digital.
Dalam tradisi Islam berkemajuan, perempuan muda dituntut untuk tidak sekadar mengikuti arus global tanpa filter, tetapi mampu menyaring setiap perkembangan dengan etika ketuhanan dan visi kemanusiaan. Di sinilah pentingnya double literacy yaitu literasi digital dan literasi moral. Teknologi bisa memberi kita kecepatan, tetapi moral memberi kita arah. Begitu pula dengan ekologi, akses terhadap sumber daya harus selalu dibarengi dengan kesadaran spiritual bahwa bumi bukan milik kita, melainkan titipan yang harus dijaga. Kader-kader perempuan muda Muhammadiyah harus menjadi teladan bagaimana iman dan ilmu berjalan beriringan. Mereka harus menjadi contoh bahwa menjadi modern tidak berarti kehilangan akar spiritualitas, dan menjadi religius tidak berarti menutup diri dari modernitas. Islam rahmatan lil ‘alamin justru memberi inspirasi untuk membangun kepemimpinan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Amanah peradaban ini besar, tetapi bukan beban yang menakutkan. Ia adalah panggilan sejarah yang justru meneguhkan eksistensi perempuan muda. Ketika perempuan muda melangkah dengan keberanian, empati, dan adab, mereka bukan hanya sedang memperjuangkan nasib diri mereka sendiri, tetapi juga sedang menuliskan babak baru peradaban manusia.
Meneguhkan Langkah ke Depan: Dari Refleksi ke Strategi
Kita sedang berada di persimpangan sejarah. Peradaban digital dan ekologis bisa menjadi berkah, tetapi juga bisa berubah menjadi bencana. Semuanya bergantung pada siapa yang mengisinya, bagaimana ia dijalankan, dan dengan nilai apa ia dipandu. Jika perempuan kembali dibiarkan tertinggal, sesungguhnya kita sedang merancang sebuah masa depan yang timpang yaitu masa depan yang hanya menempatkan perempuan sebagai penonton, bukan pemain. Namun, apabila perempuan muda diberi ruang untuk memimpin dan berpartisipasi penuh, maka wajah peradaban ke depan bisa lebih adil, lebih berkelanjutan, dan penuh rahmat.
Milad Nasyiatul Aisyiyah ke 95 menjadi refleksi bagaimana perempuan muda Indonesia meneguhkan langkah, menata kekuatan, dan mengisi arus peradaban baru dengan nilai rahmatan lil ‘alamin. Hal ini adalah momentum untuk kembali menanyakan kepada diri sendiri: apa peran strategis perempuan muda hari ini? Bagaimana kita menjawab amanah besar zaman dengan keberanian, empati, dan adab? Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Anbiya ayat 107: “Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Rahmat itu tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga meliputi bumi, air, udara, tumbuhan, dan seluruh ciptaan. Ayat ini mengajarkan bahwa Islam menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai khalifah yang dititipi amanah besar yaitu menjaga kehidupan, melindungi ciptaan, dan menebar kebaikan lintas generasi. Inilah amanah peradaban yang kini dipikul perempuan muda menjadi rahmat bagi semesta, bukan hanya bagi komunitas kecil atau kelompoknya sendiri.
Karena itu, saatnya kita meneguhkan tekad, perempuan muda Indonesia tidak boleh hanya berdiri di pinggir sejarah. Mereka harus mengambil peran sebagai pemain utama, mengisi ruang-ruang publik dengan suara yang berani, empati yang dalam, dan adab yang terjaga. Mereka harus menjawab tantangan digital maupun ekologis bukan sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. Namun tekad saja tidak cukup, ia harus diterjemahkan menjadi langkah nyata. Gerakan perempuan muda tidak boleh berhenti pada sekadar keterwakilan formal di parlemen atau lembaga publik. Lebih dari itu, ia harus hidup dalam gagasan, strategi, dan karya yang menyentuh masyarakat luas. Itulah sebabnya Nasyiatul Aisyiyah menegaskan bahwa keterlibatan perempuan adalah bagian dari amanah peradaban.
Strategi itu bisa diwujudkan dalam bentuk penguatan kepemimpinan, di mana perempuan muda dipersiapkan bukan hanya untuk mengisi kursi, tetapi untuk benar-benar memengaruhi arah kebijakan bangsa. Mereka perlu dilatih agar mampu berbicara lantang mengenai anggaran responsif gender, isu perubahan iklim, hingga kebijakan sosial yang berpihak pada kelompok rentan. Di saat yang sama, perempuan muda juga harus berani memasuki dunia ekonomi dengan cara yang baru dengan membangun wirausaha hijau, memajukan UMKM berbasis ekonomi sirkular, mengembangkan inovasi energi terbarukan, atau menciptakan platform digital yang berakar pada solidaritas sosial.
Lebih jauh, gerakan perempuan muda tidak boleh berdiri sendiri. Kesetaraan gender dan keberlanjutan lingkungan hanya bisa diwujudkan jika ada kolaborasi lintas sektor. Karena itu, perempuan muda harus mendorong terciptanya ekosistem multipihak yang melibatkan pemerintah, DPRD, perguruan tinggi, BUMN, lembaga filantropi, dan organisasi internasional. Sinergi ini penting agar agenda perempuan dan ekologi tidak terpinggirkan, melainkan menjadi arus utama dalam pembangunan nasional.
Namun yang terpenting dari semua itu adalah mengaitkan seluruh gerakan dengan literasi spiritual dan etika Islam berkemajuan. Digitalisasi dan ekologi bukan sekadar proyek teknologi atau kebijakan ekonomi yang keduanya adalah amanah moral. Tanpa bingkai spiritual, kemajuan teknologi bisa kehilangan arah, dan transisi ekologis bisa terjebak dalam kepentingan elit. Karena itu, setiap langkah perempuan muda harus selalu terikat pada nilai rahmatan lil ‘alamin bahwa setiap inovasi, setiap kebijakan, dan setiap gerakan harus menghadirkan keadilan, kemaslahatan, dan keberlanjutan bagi semua. Dengan cara ini, Nasyiatul Aisyiyah tidak hanya menyiapkan perempuan muda untuk sekadar ikut serta, melainkan memampukan mereka menjadi pemimpin, inovator, dan penentu arah. Kita ingin melihat perempuan muda berdiri tegak di ruang politik, ekonomi, teknologi, dan ekologi dengan identitas Islam berkemajuan yang kokoh.
Meneguhkan langkah ke depan berarti meyakini bahwa masa depan tidak boleh dirancang tanpa perempuan muda. Sebab tanpa mereka, peradaban akan pincang, tetapi dengan mereka, peradaban akan lebih lengkap, lebih adil, dan lebih penuh kasih. Selamat Milad Nasyiatul Aisyiyah ke 95.






