Kamis, 17 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Al-Qur’an Harus Menjadi Penggerak Sains dan Peradaban

Oleh ilham 4 Menit Min
Al-Qur’an Harus Menjadi Penggerak Sains dan Peradaban

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Al-Qur’an harus menjadi sumber inspirasi besar bagi lahirnya ilmu pengetahuan, riset, dan peradaban. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Biro Pengembangan Organisasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sukamta, dalam podcast Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (24/04).

Dalam dialog yang dipandu host Syahrul tersebut, tema yang diangkat adalah Al-Qur’an dan Semangat Pengembangan Sains dalam Islam. Tema ini merupakan sebuah upaya untuk menempatkan kembali Al-Qur’an sebagai penggerak etos keilmuan umat Islam.

Sukamta menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu yang tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk hidup, tetapi juga sebagai inspirasi ilmu dan peradaban. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang diawali dengan kalimat “dzalikal kitabu la raiba fih”, yang menunjukkan bahwa kandungannya mengandung kebenaran yang tidak terbantahkan.

“Isi Al-Qur’an itu mengandung kebenaran yang akan menuntun manusia pada lahirnya peradaban. Peradaban tidak akan lahir tanpa ilmu, dan sumber ilmu itu salah satunya adalah dari Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurutnya, kejayaan peradaban Islam pada masa lalu dibangun bukan hanya oleh ritual ibadah, tetapi juga oleh riset, eksplorasi alam, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ia menyebut terdapat lebih dari 700 ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang alam semesta, seperti bumi, air, langit, matahari, bulan, bintang, hingga fenomena waktu.

“Allah banyak sekali menyebutkan alam dalam Al-Qur’an. Itu bukan sekadar disebut, tetapi menjadi isyarat agar manusia berpikir, meneliti, dan mengeksplorasi untuk kemaslahatan hidup,” katanya.

Al-Qur’an sebagai Inspirasi Riset Modern

Di lingkungan kampus, lanjut Sukamta, penyebutan unsur-unsur alam dalam Al-Qur’an semestinya menjadi pemantik lahirnya riset-riset modern. Kata-kata seperti air, gunung, besi, matahari, dan bulan merupakan bentuk motivasi ilahiah yang mendorong para peneliti untuk menggali lebih jauh manfaatnya bagi kehidupan manusia.

“Kenapa Allah menyebut besi dalam Al-Qur’an? Kenapa air, gunung, matahari disebut? Itu sebenarnya ilham untuk diteliti lebih dalam. Hasilnya nanti bisa dimanfaatkan untuk kemajuan dan kemudahan hidup manusia,” jelasnya.

Ia juga membedakan antara konsep “sains dalam Islam” dan “Islamisasi sains”. Menurutnya, sains adalah ilmu pengetahuan yang lahir dari eksplorasi akal manusia terhadap alam, sedangkan Islamisasi sains adalah upaya memberi arah dan nilai pada ilmu agar tetap berada dalam koridor keimanan.

“Sains itu netral. Mau dipakai untuk kebaikan bisa, untuk keburukan juga bisa. Karena itu ilmu harus dibimbing oleh iman,” katanya.

Ia mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11, “Yarfa’illahu alladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma darajat”, sebagai penegasan bahwa iman dan ilmu tidak dapat dipisahkan.

“Iman itu ibarat akar, ilmu itu batang. Kalau ada akar tanpa batang, tidak terarah. Tapi kalau ada batang tanpa akar, mudah roboh. Ilmu tanpa iman bisa menjadikan manusia sombong dan ilmunya tidak membawa kemaslahatan,” tegasnya.

Sukamta juga mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada dua ekstrem dalam melihat hubungan Al-Qur’an dan sains. Pertama, ekstrem yang mengklaim semua penemuan sains modern sudah tertulis secara literal dalam Al-Qur’an. Kedua, ekstrem sekuler yang memisahkan sepenuhnya sains dari Tuhan.

Menurutnya, posisi yang tepat adalah menempatkan ilmu dan agama sebagai satu kesatuan yang berasal dari sumber yang sama, yakni Allah SWT.

“Tidak bisa ilmu itu disekularisasi. Semua berasal dari Allah. Pikiran manusia pun digerakkan oleh Allah. Karena itu, belajar iman harus menjadi dasar sebelum belajar ilmu,” ujarnya.

Ia menilai salah satu persoalan umat saat ini adalah banyak orang belajar ilmu terlebih dahulu sebelum membangun fondasi keimanan. Padahal urutan yang benar adalah memperkuat akar keimanan terlebih dahulu, baru kemudian menumbuhkan ilmu pengetahuan.

Belajar dari Kejayaan Islam

Menanggapi anggapan bahwa Barat maju karena meninggalkan agama, sementara dunia Islam tertinggal meski religiusitasnya tinggi, Sukamta menilai hal itu harus dilihat secara historis.

Ia mengingatkan bahwa dunia Islam pernah mengalami masa keemasan selama berabad-abad karena berhasil menggabungkan kekuatan tauhid dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Islam tidak meninggalkan teknologi. Justru Islam membungkus teknologi dengan keimanan. Itu kunci kemajuan pada masa golden age,” katanya.

Ia mencontohkan tokoh-tokoh ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu al-Haitam, dan Al-Khawarizmi yang tidak hanya ahli agama dan hafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi pelopor dalam kedokteran, metode ilmiah, optika, dan matematika.

“Ibnu Sina itu ahli fikih sekaligus pelopor kedokteran modern. Ibnu al-Haitam pelopor metode ilmiah eksperimental. Al-Khawarizmi dikenal sebagai bapak aljabar. Mereka adalah ulama polymath,” jelasnya.

Menurutnya, ilmu yang berkembang tanpa iman dapat melahirkan kerusakan, seperti senjata pemusnah massal dan teknologi yang menimbulkan ketakutan global. Sebaliknya, ilmu yang dibimbing iman akan menghadirkan rasa aman dan kemaslahatan bagi manusia.

Dalam konteks perguruan tinggi Islam, Sukamta menilai integrasi ilmu dan wahyu harus menjadi gerakan sistemik, bukan sekadar formalitas menempelkan ayat dan hadis dalam proposal penelitian.

Ia mengapresiasi langkah UMY yang mulai mendorong dosen untuk mengintegrasikan Al-Qur’an dan hadis dalam penelitian melalui sistem informasi riset kampus.

“Ketika mengajukan penelitian, dosen diminta mencantumkan ayat Al-Qur’an, hadis, teks Arab, dan terjemahannya. Ini bagus. Tapi ke depan perlu ditambah: di mana letak integrasinya dengan riset yang dilakukan,” ujarnya.

Menurutnya, ada tiga langkah penting yang harus dilakukan: memotivasi dosen untuk membaca dan memahami Al-Qur’an, memfasilitasi riset berbasis integrasi ilmu dan wahyu, serta melakukan monitoring dan evaluasi agar integrasi itu benar-benar terjadi dalam praktik penelitian.

“Kalau ini terus dilatih, UMY akan punya gudang besar database riset integratif antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan,” katanya.

Tinggalkan Balasan