Kamis, 1 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Khutbah Ramadan: Mengamalkan Al-Qur’an dalam Kehidupan

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Khutbah Ramadan: Mengamalkan Al-Qur’an dalam Kehidupan

Di bulan Ramadan, membaca Al-Qur’an menjadi rutinitas tambahan bagi banyak orang. Mushaf dibuka lebih sering, target khatam dikejar, dan lantunan ayat terdengar di masjid, rumah, dan gawai. Ini tentu kebiasaan yang sangat baik. Allah sendiri memuji orang yang membaca Al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fāṭir: 29).

Perlu mendapat perhatian penting bahwa dalam berinteraksi dengan Al-Quran, bahwa Al-Quran tidak sebatas berhenti pada bacaan. Melainkan selalu menjadi penuntun untuk diamalkan dalam kehidupan. Membaca Al-Quran perlu menghasilkan aksi yang lebih nyata dan berdampak dan tidak berhenti pada bacaan dengan target tertentu yang dikejar.

Allah mengingatkan:

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang berakal mengambil pelajaran.”(QS. Ṣād: 29).

Membaca Al-Qur’an memang tidak keliru, menghafalnya juga tidak salah. Jika lebih mampu untuk mengambil inspirasi untuk beramal dari setiap ayat yang dibaca tentu akan menjadi lebih baik dan memberi dampak yang nyata.

Pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan, memberi teladan dalam pengamalan Al-Qur’an.  Ketika beliau mengajarkan Surat Al-Ma‘un dan Surat Al-Ashr, Kyai Dahlan merasa kurang jika murid-muridnya hanya menghafal. Ia mendorong mereka memberi makan orang miskin, menolong yatim, dan memperbaiki kehidupan sosial. Baginya, ayat tidak berhenti di lisan, tetapi harus sampai ke tindakan.

Kyai Haji Ahmad Dahlan, sebagaimana yang digambarkan oleh M. Yusron Asrofie dalam “Kyai Haji Ahmad Dahlan : Pemikiran dan Kepemimpinannya”  Kiai Dahlan banyak mengerjakan perintah yang mempunyai akibat sosial, seperti pengorbanan harta, pemeliharaan anak-anak yatim, dan juga penampungan orang-orang miskin.

Kiai Dahlan mengartikan orang beragama sebagai orang yang melahirkan amal. Orang beragama, kata Kiai Dahlan, ialah “orang yang jiwanya menghadap kepada Allah dan berpaling dari yang lainnya. Bersih tidak dipengaruhi oleh lain-lainnya, hanya tertuju kepada Allah, tidak tertawan kebendaan dan harta benda. Sikap ini dapat dibuktikan dan dilihat dengan kesadaran menyerahkan harta benda dan dirinya kepada Allah.”

Karena itu dalam mempelajari Al-Quran, Kiai Dahlan biasa mengambil beberapa ayat lalu dibaca dengan tartil kemudian direnungi, “Bagaimana artinya? Bagaimana tafsir keterangannya? Bagaimana maksudnya? Apakah ini larangan dan apakah sudah meninggalkan larangan? Apakah ini perintah yang wajib dikerjakan dan apakah sudah mengerjakan?” Bila belum dapat menjalankan, tidak segera beralih untuk membaca ayat-ayat lainnya.

Antara Qirā’ah dan Tilāwah

Dalam Al-Qur’an, ada dua istilah penting, yaitu Qirā’ah, membaca secara lisan dan Tilāwah: membaca sambil mengikuti dan menaati.

Allah berfirman:

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan tilawah yang sebenar-benarnya.”(QS. Al-Baqarah: 121)

Sehingga dimaknai bahwa tilawah bukan sekadar melafalkan huruf, tetapi menjadikan ayat berubah menjadi penuntun dan pemandu hidup.

Jumlah ayat Al-Qur’an menurut riwayat yang paling umum adalah 6.236 ayat.
Perbedaan kecil (seperti 6.214, 6.219, atau 6.236) muncul karena variasi cara menghitung pemisahan ayat dalam qirā’at dan mushaf, bukan karena perbedaan isi.

Satu ayat memang bernilai 10 kebaikan jika dibaca. Sebagaimana disebutkan dalam hadis adalah hadis sahih riwayat Tirmidzi no. 2910. Bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- SAW bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf“.

Akan tetapi jika dilanjutkan dengan mengamalkannya, tentu kebaikan satu huruf tidak hanya menjadi 10 kebaikan, bahkan bisa menjadi lebih, bahkan menjadi amal jariah yang terus ada bahkan setelah wafatnya pembaca Al-Quran, terlebih lagi di bulan Ramadan. (Faruqi)

Tinggalkan Balasan