Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Ayat-ayat Ramadan (1)

Oleh timredaksi • • 6 Menit Min
Ayat-ayat Ramadan (1)

Ramadan telah tiba. Setiap muslim perlu mempersiapkan diri untuk menyambutnya dan menikmati setiap detik penuh berkahnya. Sebagian orang mungkin ditunjuk sebagai muballigh atau pendakwah di masjid.

Meski para ulama berbeda pendapat tentang hukum dakwah, antara fardu ‘ain, (kewajiban setiap orang), dan ada juga berpendapat bahwa dakwah hukumnya fardu kifayah  (kewajiban sebagian orang saja). Bagi umat Islam terkhusus kader Muhammadiyah perlu bersiap dengan panggilan dakwah.

Maka berikut beberapa ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan bulan Ramadan, sebagai alternatif untuk bahan menyampaikan materi dakwah,

Kewajiban Berpuasa

QS al-Baqarah (2): 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Poin-poin Inti :

  1. Kewajiban berpuasa bagi setiap umat Islam, baik muslim maupun Muslimah, dimana pun berada, selama bulan Ramadan.
  2. Puasa juga diwajibkan bagi umat-umat lain yang lebih dahulu ada dengan berbagai ragam jenis puasanya.
  3. Tujuan akhir dari puasa adalah ketakwaan.
  4. Ketakwaan adalah wujud ibadah jujur antara seseorang hamba dengan Tuhannya, karena orang berpuasa tidak tampak begitu jelas ketika dirinya berpuasa, berbeda dengan ibadah lain seperti salat dan membaca Al-Quran.
  5. Ketakwaan tidak muncul dari atribut keagamaan seperti jubah dan jilbab lebar, melainkan dari pembiasaan dan disiplin yang ketat, dengan menundukkan nafsu dari segala hal yang di luar Ramadan merupakan hal yang biasa.
  6. Atribut keagamaan mudah didapat dan dibuat, sedangkan ketakwaan tidak terikat dengan model atribut atau pakaian, melainkan dari proses kendali diri, dan puasa Ramadan adalah salah satu cara Allah membentuk ketakwaan umat Islam.
  7. Ketakwaan Adalah hasil dari kemampuan diri mengatur waktu, pikiran dan ego secara terus menerus, dan bukan dari proses yang instan.

Keadilan dan Kesetaraan dalam Puasa

QS al-Baqarah (2): 184

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۚ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:
(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Poin-poin Inti :

  1. Puasa, baik yang wajib maupun yang sunnah terikat pada hari-hari tertentu, dan bukan setiap hari dalam satu tahun.
  2. Puasa menjadi kewajiban seluruh umat Islam, sejak usia baligh dan berakal sehat. Walau begitu, bagi mereka yang memiliki halangan berpuasa tidak kemudian menjadi alasan mereka tidak berpuasa sama sekali. Melainkan mereka memiliki kewajiban untuk menggantinya di luar bulan Ramadan atau membayar fidyah.
  3. Ayat ini menunjukkan bahwa ajaran Islam mengajarkan kejujuran dalam ibadah, dan di sisi lain merupakan bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya yang berada dalam batas fisik tertentu untuk tidak berpuasa, tetapi tetap wajib menggantinya di luar Ramadan atau membayar fidyah.
  4. Beberapa orang yang boleh tidak berpuasa adalah : orang sakit, musafir (perjalanan jauh yang memberatkan), lansia lemah, ibu hamil/menyusui, haid/nifas, dan orang gila.
  5. Maksud dari potongan ayat “…Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Adalah jika dilebihkan dalam memberi makan orang miskin (fidyah)  lebih dari sekali itu lebih baik bagi pemberi ataupun penerima. Jikapun memang mampu, menggantinya dengan puasa juga lebih baik bagi orang yang berhalangan ketika bulan Ramadan.

Bagian ayat ini menunjukkan kesalehan sosial (memberi makan orang miskin) didahulukan dalam mengganti puasa Ramadan. Tetapi kesalehan ritual (puasa) juga baik, tetapi bagi yang berpuasa saja.

Ramadan Bulan Al-Quran

QS al-Baqarah (2): 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Terjemah

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

Poin-poin Inti :

  1. Sebab kemuliaan bulan Ramadan adalah karena Al-Quran diturunkan pada saat itu. Nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- menjadi Nabi paling mulia karena menerima wahyu berupa Al Quran. Malaikat Jibril menjadi malaikat paling mulia karena menyampaikan wahyu Al-Quran. Makkah menjadi bertambah kemuliaannya karena menjadi tempat diturunkannya Al-Quran. Orang-orang yang mempelajari dan mengamalkan Al-Quran juga menjadi mulia berdasar hadis-hadis sahih. Maka selayaknya setiap muslim, terkhusus di bulan Ramadan juga perlu mendekat pada Al Quran agar bertambah kemuliaan dan berkahnya.
  2. Al-Quran adalah petunjuk, pedoman yang memandu jalan kehidupan, sekaligus sebagai rambu-rambu yang membedakan antara kebaikan dan keburukan sepanjang masa.
  3. Kewajiban berpuasa bagi siapa saja yang sedang tidak melakukan perjalanan jauh yang memberatkan.
  4. Orang sakit dan dalam perjalanan jauh boleh tidak berpuasa, tetapi wajib menggantinya di luar bulan Ramadan atau membayar fidyah.
  5. Bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya adalah bahwa Dia menghendaki kemudahan dalam beribadah.
  6. Kewajiban berpuasa dalam hitungan hari yang tepat, dalam Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
  7. Kewajiban umat Islam untuk bersyukur dan mengagungkan Allah atas petunjuk dan panduan hidup yang diwujudkan dengan beribadah, baik berupa kesalehan ritual maupun kesalehan sosial.

Ayat Doa di Tengah Ayat Puasa

QS al-Baqarah (2): 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemah

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Poin-poin Inti :

  1. Di tengah-tengah rangkaian ayat yang membahas bulan Ramadan terdapat sebuah ayat yang memuat tentang doa. Dimana doa adalah inti dari ibadah.
  2. Hendaknya setiap muslim mengambil kesempatan berharga dalam bulan Ramadan untuk berdoa di berbagai waktu terbaik untuk berdoa. Seperti menjelang berbuka puasa, sepertiga malam, dan ketika iktikaf.
  3. Doa adalah kesalehan ritual yang mengasah batin. Dalam doa terdapat permintaan seorang hamba kepada Tuhannya, sedangkan dalam membaca Al-Quran terdapat petunjuk Tuhan kepada hamba-Nya.
  4. Ayat ini menjelaskan kedekatan Tuhan dengan hamba-Nya, agar leluasa meminta dan mengadukan segala hal, seolah berhadapan langsung.
  5. Allah akan mengabulkan doa seorang hamba jika hamba tersebut berdoa. Jika hamba tersebut tidak berdoa, maka apa yang menjadi keinginan dan keluhannya tidak dikabulkan.
  6. Berdoa akan lebih dikabulkan jika seorang hamba yang berdoa memenuhi perintah Allah dan beriman, yakin serta berprasangka baik kepada Allah.

Pemenuhan Hak Diri

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ  ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Terjemah

Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.

Poin-poin Inti

  1. Allah tahu kelemahan manusia. Sehingga walaupun diberi perintah untuk beribadah puasa siang hari di bulan Ramadan, Allah memberi kesempatan bagi para hamba-Nya untuk menunaikan hak diri seperti makan dan minum. Pemenuhan hak diri bukanlah terhitung dosa, meski mungkin bagi sebagian orang menimbulkan rasa bersalah karena dilakukan setelah melakukan ketaatan di siang hari.
  2. Suami dan istri memiliki hak sekaligus kewajiban satu sama lain untuk menutup aib satu sama lain seperti halnya pakaian. Di sisi lain, ayat ini juga menjelaskan kesetaraan gender pria dan wanita dalam menjalani hidup bersama dengan hak dan kewajiban yang tak berbeda satu sama lain.
  3. Ayat ini menggariskan batasan yang jelas antara pemenuhan hak Allah (ibadah) berupa puasa di siang hari dengan pemenuhan hak diri sendiri dan hak pasangan serta keluarga, sebagai perwujudan keseimbangan antara hablu minallah (hubungan dengan Allah) dengan hablu minannas (hubungan dengan manusia).
  4. Dalam penentuan waktu ibadah dibutuhkan perhitungan yang tentu melibatkan ilmu falak (astronomi). Bagi warga Muhammadiyah, sudah memiliki jadwal imsakiyah berikut kalender yang membantu kesiapan menyambut bulan Ramadan. (Faruqi)

Tinggalkan Balasan