Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Di Tengah Konflik, Pendidikan Jadi Investasi Masa Depan Palestina

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Di Tengah Konflik, Pendidikan Jadi Investasi Masa Depan Palestina

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Pendidikan menjadi investasi utama rakyat Palestina di tengah tekanan dan konflik berkepanjangan yang terus berlangsung. Di tengah keterbatasan ruang hidup dan ketidakpastian masa depan, pendidikan dipilih sebagai bentuk perlawanan jangka panjang yang tidak dapat dirampas.

Hal tersebut disampaikan Presiden Al-Quds University, Palestina, Imad Abu Kishek, saat memberikan Guest Lecture di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Selasa (13/1). Menurutnya, pendidikan memiliki posisi yang berbeda dibandingkan tanah, rumah, atau wilayah yang kerap hilang akibat konflik.

Dalam kuliah bertajuk “Life Under Siege: Resistance & Hope of Palestine”, Imad menjelaskan bahwa kesadaran menjadikan pendidikan sebagai investasi utama mulai menguat pasca-1967. Pengalaman kehilangan wilayah serta kehidupan di bawah tekanan mendorong masyarakat Palestina membangun ketahanan melalui generasi yang berpengetahuan dan terdidik.

“Tanah bisa diambil, rumah bisa dihancurkan, tetapi pendidikan tidak bisa dicuri dari siapa pun,” tegas Imad.

Ia menjelaskan bahwa keluarga-keluarga Palestina kemudian menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana peningkatan kualitas hidup, tetapi juga sebagai cara menjaga identitas, martabat, dan keberlangsungan bangsa Palestina.

Imad mencontohkan Al-Quds University sebagai representasi nyata dari perlawanan berbasis pengetahuan. Universitas tersebut tetap bertahan menyelenggarakan kegiatan akademik di Yerusalem meskipun menghadapi tekanan administratif, politik, dan institusional yang berkelanjutan.

Keberadaan universitas di wilayah konflik, menurutnya, bukan sekadar aktivitas belajar-mengajar, melainkan simbol keteguhan institusi akademik dalam mempertahankan hak atas pendidikan. Universitas memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan kesadaran, pemikiran kritis, dan masa depan masyarakat.

Imad juga menyoroti upaya Al-Quds University dalam menjaga kualitas pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Ia menyebut bahwa lulusan Al-Quds University mampu bersaing secara akademik dan profesional, serta memperoleh pengakuan melalui berbagai mekanisme evaluasi pendidikan.

“Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menjadi sarana perlawanan yang efektif dan berkelanjutan. Melalui ilmu pengetahuan, rakyat Palestina membangun daya tahan yang tidak bergantung pada kekuatan fisik semata,” ujarnya.

Guru Besar di bidang kebijakan publik tersebut turut mengajak mahasiswa untuk memandang pendidikan sebagai kekuatan transformasional dalam menghadapi ketidakadilan. Menurutnya, ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran kritis serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.

Tinggalkan Balasan