Senin, 28 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Bersihkan Hati di Awal Tahun, Bersandar kembali kepada Allah

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Bersihkan Hati di Awal Tahun, Bersandar kembali kepada Allah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah DI Yogyakarta, Sholahuddin Zuhri, mengajak umat Islam untuk mengawali tahun 2026 dengan membersihkan dan menghidupkan hati agar kehidupan berjalan lebih terarah dan penuh keberkahan.

Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (4/1).

Dalam ceramahnya, Sholahuddin mengawali dengan ajakan bersyukur atas nikmat kehidupan yang masih diberikan Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang diberi kesempatan menghirup udara di tahun 2026, sehingga hidup harus dimaknai sebagai anugerah yang disyukuri dengan kesadaran penghambaan kepada Allah.

“Kalau urusan fisik bisa kita tunda, tetapi sarapan batin, iman dan rohani tidak boleh ditunda. Menunda pemenuhan kebutuhan rohani akan melahirkan kerusakan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Sholahuddin menegaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi salah. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang merasa paling benar atau paling suci. Ia mengutip firman Allah yang menjelaskan bahwa jika setiap kesalahan manusia langsung dibalas di dunia, niscaya tidak akan tersisa satu pun makhluk hidup.

Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat penting agar manusia tidak sombong dan selalu memanfaatkan kesempatan untuk berbuat baik.

Ia juga mengutip pandangan ulama Ibnu Hazm yang menegaskan bahwa kesempatan yang diberikan Allah, jika tidak segera diambil, tidak akan terulang dalam kondisi yang sama. Karena itu, kehadiran di majelis ilmu harus dimaksimalkan dengan kesungguhan mendengar, melihat, dan menyerap pelajaran, bukan justru disia-siakan.

Memasuki inti ceramah, Sholahuddin menekankan pentingnya mengawali segala sesuatu dengan hati yang bersih, sebagaimana manusia memilih pakaian yang bersih sebelum bepergian. Menurutnya, kebersihan lahir sangat berkaitan dengan kebersihan batin, karena akhlak dan perilaku manusia merupakan buah dari kondisi hati.

“Hati yang kotor akan melahirkan kegelisahan, prasangka buruk, dan kerusakan. Sebaliknya, hati yang bersih akan memunculkan kebaikan,” jelasnya.

Ia mengutip ayat Al-Qur’an qad aflaha man tazakka, bahwa beruntunglah orang yang senantiasa mensucikan jiwanya. Sebaliknya, orang yang membiarkan hatinya kotor akan merugi dalam hidupnya. Menurutnya, hati menjadi kotor karena menjauh dari Sang Pemilik Hati, yakni Allah SWT. Ketika hati tidak lagi bersandar kepada Allah, manusia akan mudah goyah saat menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sholahuddin mengingatkan bahwa Allah adalah sandaran paling kokoh. Dengan hati yang tersambung kepada Allah, seseorang tidak mudah putus asa, tidak gampang mengeluh, dan mampu menghadapi ujian dengan ketenangan. Ia menegaskan bahwa orientasi hidup yang benar harus diarahkan kepada akhirat, bukan semata-mata dunia.

Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, ia menjelaskan bahwa orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan diberi kekayaan hati oleh Allah. Dari hati yang hidup dan kaya itulah akan tumbuh sikap syukur, sabar, penerimaan terhadap takdir, serta kemampuan melihat ujian sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.

Sholahuddin juga mengingatkan bahwa harta dan anak tidak akan memberi manfaat di akhirat, kecuali bagi mereka yang datang kepada Allah dengan qalbun salim—hati yang selamat dan hidup. Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mengevaluasi kembali orientasi hidup di awal tahun, apakah sudah benar-benar tertuju kepada Allah atau masih terjebak dalam permainan dunia.

Dalam ceramahnya, ia menyampaikan bahwa ujian hidup, baik berupa kenikmatan maupun kesulitan, sejatinya adalah proses persiapan dari Allah agar manusia siap menerima amanah yang lebih besar. Ia mengutip pesan Ibnu Atha’illah As-Sakandari agar manusia tidak tergesa-gesa meminta dipindahkan dari satu kondisi ke kondisi lain sebelum siap secara mental dan spiritual.

Sebagai solusi membersihkan dan menghidupkan hati, Sholahuddin menekankan tiga hal utama: memperbanyak zikir, memperbaiki salat, dan memperbanyak doa. Zikir dan salat, menurutnya, adalah sarana utama untuk menjaga hubungan dengan Allah, Sang Pemilik kehidupan. Ia juga mengingatkan bahwa salat yang benar akan berdampak pada akhlak dan hubungan sosial yang baik.

Ia menegaskan bahwa kemaksiatan, baik besar maupun kecil, harus dijauhi karena kebiasaan buruk yang kecil dan dibiarkan justru menjadi sumber penyakit hati. Penyakit hati yang terus dipelihara, menurutnya, akan mematikan sensitivitas nurani dan melahirkan kerusakan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Menutup ceramah, Sholahuddin menyampaikan pesan reflektif bahwa kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, hanya dapat diraih dengan menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Ia mengingatkan bahwa hati yang baik akan melahirkan amal yang baik, tatanan kehidupan yang baik, dan pada akhirnya mengantarkan manusia pada keselamatan dan surga Allah SWT.

“Kalau ingin hidup mulia, semuanya dimulai dari hati. Hati yang bersih, hidup, dan hanya bersandar kepada Allah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan