MUHAMMADIYAH.OR.ID, SEMARANG – Gerakan filantropi Islam di Persyarikatan Muhammadiyah dituntut untuk terus berinovasi dan menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief menekankan pentingnya mengadopsi pendekatan neo-philanthropy, sebuah konsep yang mengombinasikan gerakan filantropi konvensional dengan model-model investasi sosial yang berkelanjutan (sustainability).
“Kita harus mulai mendorong gerakan filantropi yang konvensional itu dengan model-model investment,” ujar Hilman dalam acara yang digelar di Kota Semarang, Jumat (6/11).
Hilman mendorong agar penerapannya menggunakan skema blended financing yang menggandeng sektor korporasi untuk mengoptimalkan dana sosial.
Investasi sosial juga diarahkan kepada pemberdayaan berbasis kawasan yang memiliki karakteristik kuat dimana lazismu di berbagai daerah harus memiliki peta fokus gerakan yang jelas.
“Jika konsep inovasinya tidak sama rata, sama rasa. Kalau di dalam prinsipnya iya, tapi konsep inovasi sosial dan social investmentnya dengan dana yang cukup besar itu harus kelihatan jejaknya yang lebih kuat,” jelasnya.
Dampak 25 Tahun Lazismu, Hilman Dorong Trisula Muhammadiyah Naik Kelas
Untuk mengukur dampak kinerja Muhammadiyah, terutama Lazismu yang kini telah menyentuh usia 25 tahun. Hilman menggagas agar disiapkan proses evaluasi dan analisis konrribusi yang komprehensif. Evaluasi ini, katanya, penting untuk mengukur dampak nyata Social Return on Invesment (SROI) dari program Lazismu yang telah dijalankan.
“Sebetulnya dari awal adanya Lazis sampai 25 tahun itu dampak yang sudah terbangun seperti apa? Baik yang tangible maupun yang intangible yang kelihatan maupun yang tidak. Ini penting untuk membangun profil baru, semangat baru,” tutur Hilman.
Melalui pernyataannya, saat ini Muhammadiyah telah menyiapkan instrumen riset untuk mengkaji tiga lembaga pilar utama Muhammadiyah yang ia sebut dengan trisula Muhammadiyah yaitu Lazismu, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) dan Muhammadiyah Disaster Management center (MDMC).
Ia melihat, ketiga lembaga tersebut memiliki eksposur yang tinggi serta dedikasi kerja keras yang luar biasa. Namun, hal yang turut menjadi perhatian adalah bagaimana ketiganya dapat mengelola managemen dan analisis digital dan data dengan cara-cara kerja yang cerdas bukan sekadar kerja keras.
“Nah.. saya ingin kerja-kerja cerdas itu kemudian bisa dirumuskan sampai ke outcome-nya,” tegas Hilman.
Dengan target dan kapasitas pengelolaan saat ini, Hilman mengungkap optimismenya sekaligus menegaskan bahwa Lazismu sudah saatnya naik kelas dan tidak hanya berpuas diri dengan apa yang telah dicapainya.
Ia menutup dengan pesan agar pengurus Lazismu dapat mengimbangi jumlah dana yang dikelola dengan reputasi global. Tak lupa juga, ia juga turut mendorong Lazismu untuk mengadopsi pola pikir dan mindset kinerja yang cerdas dan berkemajuan.
“Bagaimana saya ingin mendorong Lazismu itu direcognize dengan baik oleh UNDP, oleh WHO, dan lembaga-lembaga internasional lainnya. Ya karena memang sudah saatnya,” ucap Hilman.
“Jadi jangan dibandingkan dengan yang terjadi 5, 10, atau 20 tahun lalu tapi harus sudah punya mindset yang betul-betul cerdas berkemajuan,” pungkasnya. (Bhisma)






