MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURABAYA – Usia bukanlah sebuah penghalang untuk meraih ilmu dan pendidikan. Hal itu dibuktikan pasangan suami istri asal Halmahera Selatan, Idris Yakub dan Wahyuni Adam, yang berhasil menyelesaikan studi sarjana hingga mengikuti prosesi wisuda di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Menariknya, keduanya tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan secara bersamaan, tetapi juga menempuh program studi yang sama, yakni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), melalui sistem perkuliahan daring di Umsura.
Gelar sarjana tersebut berhasil mereka raih melalui program Beasiswa Kualifikasi Guru Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dengan jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Idris dan Wahyuni mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan pemerintah daerah Halmahera Selatan. Menurut keduanya, program beasiswa itu menjadi jalan bagi ratusan guru di Halmahera Selatan yang telah lama mengabdi, tetapi belum memiliki kualifikasi pendidikan sarjana.
Terkait prosesnya, program tersebut diawali dengan pendataan ke sekolah-sekolah guna mengidentifikasi para guru yang memenuhi kriteria. Melalui kesempatan itu, Idris dan Wahyuni menjadi bagian dari para pendidik yang memperoleh dukungan beasiswa untuk menyelesaikan pendidikan tinggi di Umsura.
Berjuang di Tengah Keterbatasan Geografis dan Infrastruktur
Perjuangan Idris dan Wahyuni dalam menyelesaikan studi tidak berjalan dengan mudah. Tinggal di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur membuat keduanya harus menghadapi berbagai kendala, terutama dalam mengakses jaringan internet dan ketersediaan listrik selama mengikuti perkuliahan daring.
“Jadi kendalanya saat kuliah, kami harus naik bukit sekitar 30 menit untuk mencari sinyal. Belum lagi listrik yang belum tersedia,” ungkap Idris dalam rilis media Ahad, (1/11).
Kendati demikian, berbagai keterbatasan tersebut tidak membuat keduanya menyerah. Dukungan dan pendampingan dari para dosen Umsura turut membantu proses perkuliahan hingga penyelesaian tugas akhir dan skripsi.
Perjuangan mereka mencapai puncaknya ketika harus menempuh perjalanan panjang menuju Surabaya untuk mengikuti prosesi wisuda. Wahyuni mengungkapkan bahwa dirinya bersama ratusan wisudawan lainnya asal Halmahera Selatan harus melakukan perjalanan laut selama kurang lebih tujuh hari.
“Kami ratusan wisudawan kompak naik kapal agar lebih hemat. Senang sekali ketika melihat kampus Umsura,” tutur Wahyuni.
Keberhasilan menyelesaikan pendidikan sarjana menjadi pencapaian penting bagi Idris dan Wahyuni. Namun, keduanya tidak ingin berhenti sampai di situ. Dengan semangat belajar yang masih tinggi, mereka mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) di Umsura apabila kembali memperoleh kesempatan beasiswa.
Kisah Idris dan Wahyuni menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Melalui kesempatan pendidikan yang terbuka dan semangat untuk terus berkembang, keduanya membuktikan bahwa menuntut ilmu dapat menjadi perjalanan yang diperjuangkan bersama. (Bhisma)






