MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Perilaku yang lahir dari pandangan hidup yang terlalu rasional di Muhammadiyah harus diseimbangkan dengan irfani, yakni sebuah pendekatan zauq dengan penguatan pengalaman batin, intuisi, kepekaan nurani, dan kejernihan hati (al-‘ilm al-hudhuri).
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menjelaskan, dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah terdapat tiga pendekatan, yakni bayani (tekstual), burhani (kontekstual), dan irfani (intuisi). Namun di kebanyakan warga Muhammadiyah lebih mengedepankan bayani.
“Karena dalam praktik nyatanya sering yang merasa jadi pimpinan, yang merasa jadi mubalig itu lupa yang ketiga hal itu. Hanya bayani saja, lupa burhaninya. Ada yang burhani saja lupa bayaninya. Ada dua-duanya lupa irfaninya,” ungkap Haedar pada Sabtu (29/8) dalam Wisuda Thalabah PUTM di UMY.
Beragama jika hanya mengedepankan bayani dan burhani saja, dan meninggalkan atau mendisfungsi irfani akan menyebabkan kehilangan ‘rasa’ dalam beragama. Situasi itu kerap menjadi bahan bercandaan, bahkan olok-olokan ke Muhammadiyah yang dianggap terlalu rasional sehingga tidak mendoakan orang yang meninggal.
Padahal mendoakan orang yang sudah meninggal bagi Muhammadiyah merupakan perbuatan sunnah. “Kita nggak usah ikut mereka yang punya tradisi-tradisi yang macam-macam tetapi tunaikan sesuai dengan Manhaj Tarjih. Doa itu kan sunnah dan ada kaifiyahnya (tata cara),” ungkap Haedar.
Haedar juga menampik anggapan, bahwa orang Muhammadiyah dilarang berduka atas meninggalnya seseorang, terlebih yang meninggal adalah sosok yang dicintai. Menurutnya, rasa duka itu lahir dari jiwa irfani manusia. Selain itu, rasa duka juga tidak menghilangkan tauhid kepada Allah Swt.
“Nggak salah orang Muhammadiyah di saat keluarga tercintanya meninggal kita duka. Dan duka tidak menghilangkan jiwa tauhid kita. Dan jangan adjustment mereka yang duka; hallah hidup kok cengeng!,” kata Haedar Nashir.
Pendekatan irfani, sambung Haedar, diterapkan juga pada semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Warga Muhammadiyah dimintanya supaya dakwah amar ma’ruf nahi munkar hanya dilakukan dengan perspektif atau pendekatan bayani dan burhani semata.






