MUHAMMADIYAH.OR.ID. OXFORD – Acapkali menjadi pertanyaan, menjadi seorang Muslim yang taat apakah harus berarti kaku atau jika sebaliknya bersikap moderat justru berarti luwes dan mengurangi agama.
Pembahasan itu menjadi kajian sekaligus silaturahmi bulanan yang digelar di Masjid At-Taqwa Oxfordshire dengan tema “Tetap Taat dan Mampu Moderat Hidup di Negara Barat” pada Ahad (27/09).
Kajian menghadirkan Sarjito, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) United Kingdom periode 2009 hingga 2011, dan dimoderatori Thareq Barasabha, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford sekaligus Sekretaris Majelis Pendidikan, Penelitian, dan Kebudayaan PCIM Britania Raya & Irlandia.
Sarjito menjelaskan, untuk menjadi Muslim tidak perlu memilih antara menjadi Muslim yang taat atau anggota masyarakat yang baik. Menurutnya, keduanya bisa dan semestinya dijalani sekaligus.
Merujuk QS. Al-Baqarah ayat 143 tentang ummatan wasathan, Sarjito menegaskan bahwa moderasi bukan mengambil posisi setengah antara halal dan haram, melainkan teguh dalam prinsip tanpa berlebihan dalam sikap.
“Moderasi bukan melemahkan keyakinan. Moderasi adalah kematangan dalam menjalankan keyakinan,” ujar Sarjito.
Sarjito yang juga sebagai Guru Besar Teknik Mesin sekaligus Direktur Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mengutip bahwa di dalam Q.S. Al-Mumtahanah ayat 8 mengajak untuk berbuat baik dan berlaku adil sekalipun kepada masyarakat yang berbeda agama dan anjuran hidup bersama dengan damai.
Dalam kutipan lainnya di Q.S. Al-Ma’idah ayat 8, bagi Sarjito, menjelaskan tentang keadilan yang tidak boleh berubah karena rasa suka maupun tidak suka.
Sarjito menyeru untuk menilai budaya Barat secara jernih, seperti mengambil yang baik seperti kedisiplinan, budaya antri, dan profesionalitas. Berkenaan pemahaman yang berbeda, agar tetap mengutamakan adab terhadap hal-hal yang tidak sejalan dengan prinsip Islam.
Sarjito juga mengutip beberapa hadits, di antaranya tentang agama yang mudah, kelembutan yang menghiasi segala sesuatu, dan perintah untuk memudahkan serta tidak membuat orang menjauh.
Prinsip ini, menurutnya sebagai “soft approach, strong principle“. Ia mencontohkan sikap sederhana di masjid seperti menyambut orang yang lama tidak datang ke masjid dengan baik, bukan lantas dengan menghakimi.
“Dengan Alhamdulillah, senang bertemu. Bukan menyampaikan, kok baru datang?” sebut Sarjito.
Di akhir penuturannya, Sarjito memberikan perumpamaan pohon dengan Muslim. Akarnya diibaratkan tauhid, batangnya menjadi takwa, cabangnya sebagai akhlak, dan buahnya bermanfaat bagi manusia.
“Teguh dalam prinsip, lembut dalam sikap,” pesannya.
Ince Dian Aprilyani Azir, Ketua PCIM Britania Raya & Irlandia, yang turut hadir dalam kajian, mengaku senang bisa kembali belajar dari Sarjito.
“Beliau pernah memimpin PCIM di Inggris pada masa-masa awalnya. Pesan tentang taat dalam prinsip dan lembut dalam sikap ini penting untuk kita jaga, apalagi sebagai warga Muhammadiyah dan Muslim Indonesia yang hidup di tengah masyarakat yang beragam,” ujarnya. (Alam)






