MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA – Dibalik keberhasilan-keberhasilan dakwah Muhammadiyah melalui pilar pendidikan, kesehatan, maupun pelayanan sosial, pilar ekonomi yang merupakan pilar ketiga dalam gerakan dakwah Muhammadiyah dinilai masih memiliki berbagai pekerjaan rumah dan tantangan yang banyak.
Hal tersebut diungkap oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, dalam pembukaan Tanwir III Nasyiatul ‘Aisyiyah, Kamis (6/8) yang berlokasi di Dwangsa Hotel Surakarta.
Menurutnya, Muhammadiyah layak berbangga atas perkembangan amal usaha di sektor pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial yang terus mengalami perluasan dan kemajuan. Namun meski demikian, Agung menilai kemajuan tersebut belum diimbangi dengan penguatan di bidang ekonomi.
Hal inilah yang kemudian menjadi suatu urgensi bersama untuk membangkitkan kembali dakwah perekonomian Muhammadiyah agar menjadi salah satu kekuatan utama di organisasi.
“Dulu kesadaran itu sudah ada dan Muhammadiyah lahir di lingkungan para saudagar dan juragan, seperti di Kauman, Koagede, Pekajangan, Laweyan, Surabaya dan daerah-daerah lainnya,” jelas Agung ketika menjelaskan sejarah perjalanan Muhammadiyah di bidang ekonomi.
Melanjutkan ceritanya tersebut, Agung kemudian menyebut bahwa kondisi Muhammadiyah dulu dan kini berbeda dalam sektor ekonomi dan bisnis. Kata Agung, kondisi tersebut mengalami perubahan akibat semakin berkurangnya kalangan saudagar, dan kader pengusaha di warga Muhammaadiyah.
Berlandas hal tersebut, dalam kesempatan Tanwir III Nasyiatul Aisyiyah yang dihadiri oleh 200 an kader Nasyiatul Aisyiyah dari seluruh Indonesia, Agung meendorong agar para kader Nasyiatul Aisyiyah turut mengambil peran strategis dalam membangun kembali kekuatan ekonomi Muhammadiyah.
“Saya kira Nasyiatul Aisyiyah harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menjadikan pilar ekonomi sebagai salah satu pilar utama gerakan. Ini bukan pekerjaan yang mudah, tetapi sangat penting untuk masa depan persyarikatan,” tegasnya.
Menutup pemaparannya, Agung berpesan bahwa hadirnya tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut Muhammadiyah untuk tidak hanya unggul di aspek pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Namun lebih dari itu, juga harus kokoh dan bangkit secara mandiri di sektor bisnis dan perekonomian.
“Kesadaran ini harus dibangkitkan kembali dan dibangun bersama. Dengan demikian, Muhammadiyah dapat semakin kokoh sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya mencerdaskan dan melayani umat, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” pungkas Agung. (Bhisma)






