MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Hasnan Nahar, mengajak umat Islam menjadikan kesehatan sebagai bagian dari pengamalan ajaran agama.
Menurutnya, menjaga kebugaran tubuh melalui pola makan yang baik dan olahraga merupakan wujud syukur atas nikmat Allah sekaligus ikhtiar untuk menjadi mukmin yang kuat. Hal tersebut disampaikan dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (5/7).
Mengawali ceramahnya, Hasnan mengungkapkan bahwa semula ia ingin membahas tema “Nilai-Nilai Islam dalam Sepak Bola” karena bertepatan dengan suasana Piala Dunia. Namun, atas masukan panitia, tema tersebut diubah menjadi “Olahraga dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Sunah” agar lebih dekat dengan kebutuhan jemaah.
Dalam pengantarnya, Hasnan mengangkat kisah Umar bin Khattab yang menegur seorang sahabat karena memiliki perut buncit. Ketika sahabat tersebut menyebut perutnya sebagai “berkah dari Allah”, Umar justru menjawab bahwa hal itu merupakan peringatan dari Allah. Menurut Hasnan, kisah tersebut perlu dipahami secara proporsional.
Ia menjelaskan bahwa pada masa itu, perut buncit menjadi simbol kehidupan yang dipenuhi kemalasan, berfoya-foya, dan terlalu mencintai dunia hingga melalaikan ibadah. Karena itu, yang dikritik bukan semata kondisi fisik, melainkan gaya hidup yang melatarbelakanginya. Sebaliknya, jika seseorang telah berusaha menjaga kesehatan, rajin bekerja, dan tetap tekun beribadah, kondisi fisik tertentu yang dipengaruhi faktor biologis tidak termasuk dalam makna celaan tersebut.
Hasnan juga mengutip nasihat Umar bin Khattab yang mengingatkan agar menjauhi perut buncit karena dapat merusak kesehatan, memunculkan berbagai penyakit, dan membuat seseorang malas melaksanakan salat. Menurutnya, selama kondisi fisik itu menyebabkan seseorang lalai beribadah, maka hal tersebut menjadi sesuatu yang patut diwaspadai.
Ia kemudian memaparkan kondisi obesitas di Indonesia yang dinilainya semakin mengkhawatirkan. Mengutip World Obesity Atlas 2025, Indonesia termasuk negara dengan angka obesitas yang cukup tinggi pada penduduk usia dewasa. Selain dipengaruhi pola hidup, obesitas juga dapat dipengaruhi faktor keturunan sebagaimana penyakit hipertensi maupun diabetes.
Hasnan mengajak jemaah mengenali kondisi tubuh masing-masing melalui perhitungan indeks massa tubuh (Body Mass Index/BMI), yakni berat badan dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat. Melalui indikator tersebut, seseorang dapat mengetahui apakah berat badannya termasuk kurang, ideal, kelebihan berat badan, atau obesitas sehingga dapat segera melakukan langkah pencegahan.
Ia mengaku memiliki perhatian khusus terhadap isu obesitas karena pernah mengalaminya sendiri. Pada 2012 berat badannya pernah mencapai 101 kilogram. Pengalaman tersebut mendorongnya meneliti konsep diet dalam Islam hingga melahirkan artikel ilmiah yang dipublikasikan pada 2021 mengenai kontekstualisasi Surah al-A’raf ayat 31.
Menurut Hasnan, konsep diet dalam Islam sesungguhnya sangat sederhana sekaligus komprehensif. Prinsip pertama adalah tidak makan dan minum secara berlebihan sebagaimana diajarkan Al-Qur’an. Kedua, mengonsumsi makanan yang halal sekaligus tayyib atau baik. Ia menjelaskan bahwa makanan halal belum tentu baik bagi setiap orang karena kondisi kesehatan masing-masing berbeda. Makanan yang aman bagi seseorang bisa menjadi mudarat bagi penderita penyakit tertentu.
Selain itu, Islam juga mengajarkan keseimbangan gizi melalui konsumsi karbohidrat, protein, vitamin, dan serat sesuai kebutuhan tubuh. Di samping menjauhi makanan haram sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, umat Islam juga dianjurkan mengonsumsi makanan-makanan pilihan yang disebutkan dalam Al-Qur’an seperti susu, kurma, dan madu.
Dalam praktiknya, Hasnan menyarankan agar masyarakat memiliki jadwal makan yang teratur. Ia mengenalkan pola “3+2”, yakni tiga kali makan utama diselingi dua kali camilan sehat agar tubuh memperoleh asupan energi secara stabil dan tidak mendorong seseorang makan berlebihan saat waktu makan tiba.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kalori yang masuk dan kalori yang dikeluarkan melalui aktivitas. Menurutnya, penyebab utama kegemukan bukan semata banyak makan, melainkan ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran energi.
Berbicara mengenai olahraga, Hasnan membedakan antara aktivitas fisik dan olahraga. Menurutnya, berbagai pekerjaan rumah tangga memang termasuk aktivitas fisik, tetapi belum tentu dapat disebut olahraga. Olahraga memiliki gerakan yang terukur, sistematis, dan dilakukan dengan tujuan meningkatkan kebugaran tubuh.
Ia kemudian menjelaskan manfaat olahraga pada setiap fase kehidupan. Bagi anak-anak dan remaja, olahraga membantu perkembangan motorik, memperkuat tulang, meningkatkan kemampuan bersosialisasi, serta memperbaiki konsentrasi belajar. Sementara bagi orang dewasa, olahraga berperan membakar kalori, menjaga tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, serta mencegah berbagai penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.
Adapun bagi lansia, olahraga membantu menjaga massa otot, mencegah osteoporosis, melatih keseimbangan tubuh, serta mengurangi risiko jatuh yang kerap menjadi penyebab kematian pada usia lanjut. Karena itu, Hasnan mendorong pasangan suami istri untuk saling mendukung membangun kebiasaan berolahraga bersama sebagai bagian dari menjaga kesehatan keluarga.
Hasnan kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan isyarat pentingnya kekuatan fisik melalui kisah Talut dalam Surah al-Baqarah ayat 247. Menurutnya, keberhasilan Talut bersama pasukannya menghadapi Jalut setelah menempuh perjalanan berat menunjukkan pentingnya kesiapan fisik dalam menjalankan amanah dan perjuangan. Kekuatan tersebut tidak hadir secara instan, tetapi dibangun melalui latihan dan pembiasaan.
Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad Saw yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun keduanya tetap memiliki kebaikan. Menurut Hasnan, kekuatan yang dimaksud mencakup kekuatan spiritual sekaligus kekuatan jasmani.
Sebagai teladan, Nabi Muhammad Saw juga mempraktikkan berbagai aktivitas olahraga. Hasnan mencontohkan perlombaan lari Rasulullah bersama Aisyah yang menunjukkan pentingnya menjaga kebugaran sekaligus membangun keharmonisan keluarga. Ia mendorong pasangan suami istri untuk sesekali berolahraga bersama sehingga kesehatan dan kedekatan emosional dapat tumbuh secara bersamaan.
Selain itu, ia mengisahkan pertandingan gulat antara Rasulullah Saw dan Rukanah, pegulat Quraisy yang terkenal sangat kuat. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah mampu mengalahkan Rukanah beberapa kali. Peristiwa itu menunjukkan bahwa Nabi memiliki juga kesiapan fisik yang baik.
Menutup ceramahnya, Hasnan mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu datangnya penyakit untuk mulai mengubah pola hidup. Menurutnya, indikator seperti indeks massa tubuh dapat menjadi peringatan awal untuk mulai memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik.
“Jangan menunggu sakit. Ketika hasil perhitungan menunjukkan sudah masuk kategori overweight atau bahkan obesitas, mulailah mengatur pola makan dan berolahraga. Tugas manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya Allah yang menentukan,” pesannya.






