MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Fenomena ketakutan terhadap pernikahan atau yang populer disebut marriage is scary semakin marak diperbincangkan di media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Berbagai kasus rumah tangga yang viral, tingginya angka perceraian, hingga kekhawatiran kehilangan kebebasan menjadi alasan mengapa sebagian generasi Z dan milenial mulai memandang pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Menanggapi fenomena tersebut, Anggota Divisi Keluarga Majelis Tabligh dan Ketarjihan PP ‘Aisyiyah, Dr. Asmar, menegaskan bahwa ketakutan terhadap pernikahan lahir dari berbagai faktor psikologis dan sosial yang perlu dipahami secara proporsional. Hal itu ia sampaikan dalam podcast Harmoni Keluarga yang dipandu Hasna pada Jumat (19/06).
Menurut Asmar, faktor psikologis menjadi salah satu penyebab utama munculnya persepsi negatif terhadap pernikahan. Banyak anak muda yang tumbuh dengan pengalaman melihat konflik rumah tangga orang tua, mendengar kisah perselingkuhan, atau menyaksikan kegagalan pernikahan di lingkungan sekitarnya.
“Sebagian anak muda memiliki trauma karena sejak kecil melihat ayah dan ibunya sering bertengkar. Mereka juga mendengar curahan hati teman-temannya tentang konflik rumah tangga, perselingkuhan, dan berbagai masalah lainnya. Akhirnya muncul ketakutan untuk menikah karena takut mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Selain trauma, muncul pula rasa takut gagal, takut salah memilih pasangan, hingga ketidakpercayaan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kondisi tersebut diperparah oleh kecenderungan overthinking dan keinginan untuk menemukan pasangan yang dianggap sempurna.
“Anak muda sekarang sering kali menginginkan segala sesuatu yang ideal. Padahal tidak ada manusia yang sempurna. Ketika standar yang dipasang terlalu tinggi, akhirnya mereka sulit menemukan pasangan dan semakin takut melangkah ke jenjang pernikahan,” jelasnya.
Di samping faktor psikologis, Asmar menilai kondisi sosial turut memengaruhi meningkatnya ketakutan terhadap pernikahan. Tingginya angka perceraian yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penyebab munculnya persepsi bahwa pernikahan identik dengan konflik dan kegagalan.
Faktor ekonomi juga berkontribusi besar. Banyak generasi muda merasa belum memiliki kesiapan finansial untuk membangun rumah tangga. Meski sudah bekerja, mereka merasa penghasilannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Ada perasaan bahwa untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri saja masih kesulitan, apalagi harus menanggung keluarga. Pikiran seperti ini membuat mereka merasa belum siap menikah,” katanya.
Selain itu, gaya hidup modern yang menekankan kebebasan individu juga memengaruhi pandangan terhadap pernikahan. Kebiasaan berkumpul di kafe, bepergian sesuka hati, dan menikmati kebebasan waktu sering kali dianggap akan terbatasi ketika seseorang memasuki kehidupan rumah tangga.
Meski demikian, Asmar menilai keputusan untuk menghindari pernikahan bukanlah solusi yang tepat. Ia menegaskan bahwa persepsi yang berkembang saat ini perlu diluruskan agar generasi muda memahami hakikat pernikahan secara lebih utuh.
Menurutnya, dari perspektif psikologi, manusia memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi secara bertahap, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan kasih sayang, penghargaan, aktualisasi diri, hingga spiritualitas.
“Banyak anak muda sekarang langsung mengejar aktualisasi diri dan validasi sosial, padahal ada kebutuhan lain yang juga penting, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki serta kebutuhan akan cinta. Semua manusia pada dasarnya membutuhkan cinta dan hubungan yang bermakna,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa mengabaikan kebutuhan tersebut dapat menimbulkan perasaan hampa dalam kehidupan. Karena itu, pernikahan menjadi salah satu sarana penting bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan spiritual secara seimbang.
Sekolah Pranikah untuk Mempersiapkan Keluarga Sakinah
Sebagai bentuk ikhtiar membangun keluarga yang kokoh, Majelis Tabligh dan Ketarjihan PP ‘Aisyiyah membuka program Sekolah Pranikah bagi generasi muda, baik yang belum memiliki calon pasangan maupun yang sudah mempersiapkan diri menuju pernikahan.
Dalam program tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi dan psikoedukasi, mulai dari pengelolaan konflik, manajemen stres, komunikasi dalam hubungan, hingga membangun relasi yang sehat. Pendampingan bahkan tetap berlanjut setelah pernikahan melalui program pascanikah dan pendidikan pengasuhan anak.
“Kami tidak hanya mendampingi sebelum menikah, tetapi juga setelah menikah. Ada program pascanikah dan parenting agar keluarga dapat terus bertumbuh secara sehat,” ujarnya.
Bagi pasangan yang menghadapi persoalan rumah tangga, PP ‘Aisyiyah juga menyediakan layanan konsultasi melalui BIKSA (Biro Konsultasi Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah), khususnya BIKSA Permata Hati di tingkat pusat. Layanan ini terbuka bagi warga Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, maupun masyarakat umum.
Asmar menegaskan bahwa masalah adalah bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari, baik seseorang menikah maupun tidak menikah.
“Tidak menikah ada masalahnya, menikah juga ada masalahnya. Semua pilihan hidup memiliki konsekuensi yang harus dihadapi. Yang penting adalah bagaimana kita mempersiapkan diri untuk mengelola dan menyelesaikannya,” katanya.
Dalam perspektif Islam, ia mengingatkan bahwa pernikahan merupakan bagian dari ibadah dan salah satu tugas perkembangan manusia yang secara alamiah perlu dilalui. Sementara dari perspektif psikologi perkembangan, hubungan yang intim dan bermakna merupakan kebutuhan penting untuk mencapai kematangan diri.
Mengutip teori perkembangan psikososial, Asmar menjelaskan bahwa individu yang gagal membangun relasi intim berisiko mengalami isolasi dan kehampaan hidup. Sebaliknya, pernikahan dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk belajar memahami diri, bertumbuh bersama pasangan, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk mengubah cara pandang terhadap pernikahan. Menurutnya, kebahagiaan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan dibangun dan ditumbuhkan bersama oleh suami dan istri.
“Ubah mindset dari marriage is scary menjadi marriage is happiness. Kebahagiaan dalam pernikahan bukan sesuatu yang dicari untuk diterima begitu saja, tetapi sesuatu yang dibangun dan ditumbuhkan bersama-sama,” pungkasnya.






