Minggu, 20 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muhammadiyah Luncurkan Balanced Scorecard, Perkuat Mutu Pendidikan Berbasis Kinerja

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Muhammadiyah Luncurkan Balanced Scorecard, Perkuat Mutu Pendidikan Berbasis Kinerja

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, menegaskan pentingnya transformasi tata kelola pendidikan Muhammadiyah melalui penerapan indikator kinerja yang terukur guna mewujudkan pendidikan unggul dan berkemajuan.

Hal tersebut disampaikannya saat menyampaikan materi bertajuk “Transformasi Sekolah Muhammadiyah Berbasis KPI untuk Mewujudkan Pendidikan Unggul dan Berkemajuan” dalam Seminar Pendidikan yang dirangkaikan dengan Launching Muhammadiyah Balanced Scorecard serta Penandatanganan MoU dengan Marshall Cavendish Education di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

Dalam paparannya, Sayuti menekankan bahwa keberhasilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di bidang pendidikan, tidak cukup hanya diukur melalui capaian kuantitatif. Lebih dari itu, kehadiran AUM harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan kemajuan Persyarikatan.

“Kehadiran AUM kita harus berdampak. Kalau ingin berdampak, organisasinya harus tertata dengan baik dan salah satu parameternya adalah indikator kinerja kita,” ujar Sayuti pada Selasa (2/6).

Menurut Sayuti, upaya meningkatkan kualitas AUM tidak dapat dilakukan secara parsial. Kinerja sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, maupun AUM lainnya harus berjalan seiring dengan penguatan kinerja Persyarikatan dan majelis yang menaunginya.

“Yang harus kita tata itu tidak hanya AUM-nya, karena kinerja AUM juga harus berbarengan dengan kinerja Persyarikatan,” jelasnya.

Tata Kelola Organisasi Harus Dipertegas

Sebagai fondasi penguatan tata kelola organisasi, Sayuti menegaskan pentingnya empat parameter fikih tata kelola Muhammadiyah (amanah, tanggung jawab, uswatun hasanah, dan visioner). Keempat poin tersebut dapat menjadi landasan dalam implementasi Muhammadiyah Balanced Scorecard sebagai instrumen pengukuran Key Performance Indicator (KPI) di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.

Selain itu, ia juga menggarisbawahi pentingnya penerapan prinsip-prinsip tata kelola modern sebagaimana tertuang dalam artikel McKinsey & Company berjudul Structure is Not Organization (1980). Artikel tersebut memperkenalkan 7S Framework yang meliputi: structure, strategy, systems, skills, style, staff, dan shared values.

Bagi Sayuti, pendekatan tersebut relevan untuk memperkuat kapasitas Muhammadiyah beserta seluruh majelis dan AUM agar mampu menjalankan organisasi secara profesional di tengah persaingan yang semakin ketat.

“Muhammadiyah harus mau berubah menjadi organisasi yang maju, profesional, modern. Karena pada saat yang sama kita menghadapi persaingan yang sangat cepat. Kita lengah sedikit, maka bablas semuanya,” tegas Sayuti.

Di akhir pemaparannya, Sayuti mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sebagai pengingat bagi seluruh warga Muhammadiyah untuk terus berkhidmat dan menghadirkan kemajuan bagi Persyarikatan.

Dadiyo kyai sing kemajuan, lan ojo kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah,” tambahnya mengutip pesan Ahmad Dahlan.

Artinya, jangan pernah lelah bekerja untuk Muhammadiyah. Jadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang terus menjunjung tinggi kemajuan. Dengan begitu, Muhammadiyah akan terus bergerak dan hidup menjadi organisasi yang maju, profesional, dan modern.

Agenda Seminar Pendidikan yang dikemas dengan Launching Muhammadiyah Balanced Scorecard dan Penandatanganan MoU dengan Marshall Cavendish Education ini turut diapresiasi oleh Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI), Toni Toharudin.

Dalam hal ini, Toni berpesan bahwa perbaikan mutu pendidikan harus berjalan secara berkelanjutan. Langkah visioner ini baginya akan menciptakan keselarasan bagi kemajuan organisasi, dan sekolah-sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

“Saya apresiasi setinggi-tingginya langkah PWM DIY bersama Majelis Dikdasmen dan PNF DIY, dalam menggunakan Muhammadiyah Balanced Scorecard. Saya kira ini adalah langkah visioner untuk mengukur indikator-indikator kinerja pendidikan di Muhammadiyah,” ucap Toni. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan