MUHAMMADIYAH.OR.ID, TANGERANG – Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama, maka dalam usaha menjadikan Indonesia sebagai negara maju tidak boleh mengabaikan faktor keagamaan sebagai sistem kepercayaan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Senin (18/5) dalam Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) yang digelar di Tangerang.
Haedar membedah, setidaknya terdapat tujuh faktor yang harus dimiliki untuk menjadi negara maju, yakni; bahasa, sistem organisasi kemasyarakatan, kesenian, sistem pengetahuan, sistem peralatan dan teknologi, ekonomi, serta sistem religi atau kepercayaan.
“Kalau Indonesia ingin maju, maka karena di sini mayoritas beragama – seluruhnya beragama, beda agama saja. Tapi mayoritas muslim, maka pandangan keagamaannya itu harus maju,” katanya.
Pandangan keagamaan yang berkemajuan, menurut Haedar akan membawa Indonesia bergerak menjadi negara maju. Di sisi lain, meski seluruh faktor tersebut sudah ada di Indonesia, namun disebabkan adanya kesombongan etnografis kemajuan sulit didapatkan.
Kesombongan etnografis di antaranya adalah dengan mengatakan, keberagamaan di Indonesia itu khas tidak seperti yang dimiliki Timur Tengah. Menurutnya, meskipun Islam di Indonesia mampu menampilkan wajah damai, tapi ketika diuji pada masa kritis wajah itu sulit ditemukan.
Tidak boleh menutup mata atas pernah terjadinya konflik yang mengatasnamakan agama yang pernah terjadi di Indonesia. Itu salah satu bukti, bahwa narasi Islam damai yang diwacanakan juga kerap gagal ketika dipertemukan dengan ujian.
“Jadi kalau menyebut Islam rahmatan lil alamin lahir dari Indonesia, itu keangkuhan religio-etnografis,” ungkap Haedar.
Maka Islam rahmat bagi seluruh alam tidak cukup dinarasikan, tapi dibuktikan dengan amal nyata melalui pandangan keagamaan yang maju. Sehingga universalitas Islam mewujud dalam aksi nyata untuk mencerdaskan, menyehatkan, dan menyejahterakan umat manusia sebagai implementasi rahmatan lil alamin.
Oleh karena itu, Haedar mengajak kepada seluruh organisasi keagamaan Islam tanpa terkecuali untuk bersama-sama mewujudkan kerahmatan Islam bagi seluruh alam. Jika ini bisa dibuktikan, maka umat Islam Indonesia bisa menggendong agama Islam.






