Minggu, 20 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Abdul Mu’ti: Tidak Ada Bangsa Maju Jika Korupsi Masih Merajalela

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Abdul Mu’ti: Tidak Ada Bangsa Maju Jika Korupsi Masih Merajalela

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam kunjungannya ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta menegaskan kembali komitmen Muhammadiyah dalam upaya pemberantasan korupsi. Menurutnya, korupsi merupakan salah satu faktor utama yang menghambat kemajuan bangsa sehingga diperlukan komitmen kuat untuk mewujudkan clean government dan good government dalam setiap lini pemerintahan.

Dalam ceramah yang dihadiri ribuan warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Kota Surakarta itu, Mu’ti mengutip buku Why Nations Fail yang menjelaskan bahwa salah satu penyebab kegagalan suatu bangsa adalah praktik korupsi yang berlangsung secara sistemik dan tidak terkendali.

“Jadi enggak ada ceritanya bangsa yang korupsinya merajalela itu bisa sukses. Itu enggak ada,” tegas Mu’ti dalam acara yang digelar Ahad (31/5) di Gedung Dakwah Balai Muhammadiyah Surakarta.

Lebih jauh, Mu’ti mengingatkan bahwa Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah berbagai bangsa. Menurutnya, banyak peradaban besar yang runtuh bukan hanya karena faktor ekonomi atau politik, tetapi juga akibat penyalahgunaan kekuasaan dan hilangnya integritas para pemimpinnya. Karena itu, Ia menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya menjadi agenda kenegaraan, tetapi juga merupakan bagian penting dari dakwah Muhammadiyah dalam membangun kehidupan yang berkeadaban dan berkemajuan.

Mu’ti juga mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk tidak terjebak dalam pesimisme terhadap kondisi bangsa. Sebaliknya, warga Muhammadiyah harus tampil sebagai teladan dalam menjaga amanah, kejujuran, dan integritas di berbagai bidang kehidupan. Ia menilai tingginya kepercayaan masyarakat kepada Muhammadiyah merupakan modal sosial yang sangat berharga. Kepercayaan tersebut tercermin dari banyaknya aset wakaf yang diserahkan masyarakat kepada Muhammadiyah untuk dikelola dan dikembangkan demi kemaslahatan umat.

In the era of mutual distrust atau era saling tidak percaya seperti sekarang ini, Muhammadiyah bisa dipercaya mengelola wakaf yang nilainya miliaran. Itu bukan sesuatu yang turun dari langit. Itu sesuatu yang merupakan modal sosial dan modal moral untuk kita bisa berbuat lebih baik lagi,” ujarnya.

Menurut Mu’ti, kepercayaan publik yang telah dibangun selama lebih dari satu abad harus terus dijaga melalui tata kelola organisasi yang transparan, profesional, dan berintegritas. Dengan modal tersebut, Muhammadiyah diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Menutup pemaparannya, Mu’ti berharap Muhammadiyah dapat terus menjadi organisasi yang mengedepankan sifat kemandirian, berkemajuan, sekaligus menjadi uswah hasanah dan qudwah bagi masyarakat dalam menegakkan nilai-nilai kejujuran dan amanah. Melalui gerakan dakwah yang berorientasi pada kemajuan bangsa, Muhammadiyah diharapkan dapat terus berkontribusi dalam mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan bebas dari praktik korupsi. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan