Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Di Tengah Perbedaan Lebaran, Muhammadiyah Bali Teguhkan Ukhuwah

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Di Tengah Perbedaan Lebaran, Muhammadiyah Bali Teguhkan Ukhuwah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, DENPASAR — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali mengajak umat Islam untuk tetap menjaga kerukunan di tengah adanya perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah. Perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri antara Muhammadiyah dan pemerintah diharapkan menjadi rahmat, bukan sumber pertentangan.

Ketua PWM Bali, Husnul Fahmi, menyampaikan bahwa warga Muhammadiyah melaksanakan Shalat Idulfitri pada Jumat (20/3). Ia menegaskan pentingnya sikap saling menghormati antarumat Islam yang merayakan pada waktu berbeda.

Menurutnya, menjaga kerukunan harus dimulai dari internal warga Muhammadiyah, kemudian diperluas kepada sesama Muslim dan juga umat beragama lain. Di Bali, harmoni tersebut tampak nyata dalam hubungan dengan umat Hindu yang baru saja merayakan Hari Raya Nyepi.

Pelaksanaan Salat Idulfitri warga Muhammadiyah di Bali berlangsung sehari setelah Nyepi yang berjalan dengan aman dan lancar. Hal ini menjadi bukti kuatnya toleransi dan kerukunan antarumat beragama di daerah tersebut.

Di Kota Denpasar, Salat Idulfitri dilaksanakan di beberapa titik, seperti Lapangan Niti Mandala Renon, Mushalla KH Ahmad Dahlan, dan Gedung PWM Bali. Sementara itu, pelaksanaan juga berlangsung di sejumlah lokasi lain di Buleleng, Jembrana, Tabanan, dan Klungkung.

Fahmi mengungkapkan bahwa meskipun sempat turun hujan ringan, pelaksanaan Shalat Id tetap berjalan lancar, tertib, dan aman. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah serta pecalang sebagai aparat keamanan desa adat.

Ia menambahkan, warga Muhammadiyah telah menyiapkan lokasi Shalat Id sejak dua hari sebelumnya, mengingat pelaksanaannya berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Selama Nyepi, lokasi-lokasi tersebut turut dijaga oleh pecalang selama 24 jam.

Sebagai bagian dari menjaga harmoni, warga Muhammadiyah juga mengikuti arahan pusat untuk melaksanakan takbiran di rumah masing-masing, meskipun tetap diperbolehkan ke masjid terdekat. Langkah ini dinilai sebagai bentuk kolaborasi dan komitmen menjaga kerukunan yang telah terjalin.

Sementara itu, khatib Salat Id di Lapangan Renon, Sya’ban, mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiah di tengah perbedaan. Ia menegaskan bahwa perbedaan waktu Idulfitri tidak boleh mengurangi semangat persaudaraan sesama Muslim.

Ia juga menyampaikan bahwa pelaksanaan Salat Idulfitri di Bali berlangsung dengan tertib dan lancar, baik bagi yang merayakan pada Jumat maupun Sabtu.

Lebih lanjut, ia berharap momentum Idulfitri menjadi titik awal peningkatan kualitas ibadah umat. Konsistensi dalam menjalankan ibadah, seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, serta melanjutkan amalan malam seperti tahajud, menjadi indikator diterimanya amal selama Ramadan.

Foto: Antara

Tinggalkan Balasan