Minggu, 20 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Sejarah Lahirnya TBC di Muhammadiyah, dan Relasinya Terhadap Tajdid, dan Tauhid

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Sejarah Lahirnya TBC di Muhammadiyah, dan Relasinya Terhadap Tajdid, dan Tauhid

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Sebelum tahun 1927, semangat anti Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC) di Muhammadiyah nyaris tidak terdengar. Namun setelah tahun itu, dan Muhammadiyah mengalami pertemuan dengan pemikiran-pemikiran cenderung keras isu TBC baru muncul.

Fakta sejarah itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Jumat (20/2) di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah.

Alih-alih eklektik, dakwah Muhammadiyah di kalangan tertentu justru semangat TBC-nya semakin menguat. Hal itu menyebabkan seakan Muhammadiyah selalu dihadap-hadapkan dengan tradisi dan budaya – yang secara simplifikatif dianggap sebagai TBC.

Padahal pada masa Kiai Ahmad Dahlan, menurut Haedar, dakwah Muhammadiyah juga dilakukan melalui pendekatan seni dan budaya. Artinya dakwah tidak dilepaskan dari konteks yang ada di kehidupan umat pada masa itu.

Menurut Haedar, jika ditarik garis pemahaman Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pemurnian) dimaknai untuk urusan akidah, ibadah, dan akhlak. Sehingga akhlak yang dimiliki Muhammadiyah tidak situasional, tetapi harus merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah.

“Tetapi dalam urusan muamalah duniawiyah, kita membuka ruang ijtihad (tajdid/pembaruan), rasionalitas, dan pengembangan ilmu pengetahuan,” katanya.

Menginsyafi gerakan dakwah Muhammadiyah yang dilakukan Kiai Dahlan, Haedar meminta supaya mubalig maupun pimpinan Muhammadiyah dalam memimpin dan menyebarkan nilai-nilai Muhammadiyah juga mengindahkan pendekatan antropologis, sosiologis, dan kultural.

Melihat fakta pola dakwah Muhammadiyah di lapangan yang tidak eklektik, Haedar meminta supaya dilakukan rekonstruksi pemahaman dan alat analisis dalam melihat konteks keumatan yang majemuk, serta menggunakan pendekatan yang komprehensif terhadap teks.

Untuk pendekatan teks, Haedar menyarankan supaya mubalig dan pimpinan Muhammadiyah untuk menggunakan Manhaj Tarjih, yakni pendekatan bayani atau teks, burhani atau konteks, dan irfani atau intuisi – spiritualitas mendalam.

Meskipun irfani dianggap memiliki kedekatan dengan tasawuf, namun Haedar menjelaskan irfani dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah bukan tasawuf dalam pengertian ekstrim, melainkan pengayaan spiritual berbasis tauhid.

Maka tauhid bagi Muhammadiyah tidak sebatas pada makna pengakuan ketunggalan atau ke-Esaan Allah, tetapi tauhid yang aktif untuk kemanusiaan dan kesemestaan. Sehingga tauhid melahirkan keadilan, keunggulan, kemajuan, dan kemaslahatan dunia serta akhirat.

Tinggalkan Balasan