Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Dakwah Muhammadiyah Perlu Keseimbangan Kultural dan Struktural

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Dakwah Muhammadiyah Perlu Keseimbangan Kultural dan Struktural

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SEMARANG – Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus dijalankan secara beriringan antara pendekatan kultural dan struktural.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) II Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS).

Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas menyambung pemaparan Kyai Tafsir dengan mencontohkan perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Ia menjelaskan bahwa selama 13 tahun di Makkah, Rasulullah menempuh dakwah kultural yang menitikberatkan pada pembinaan akhlak dan kesadaran umat.

“Saat pelatihan dakwah diceritakan bahwa Rasul itu 13 tahun di Makkah, dakwahnya kultural. Ketika hijrah ke Madinah, pada masa Perang Badar, jumlah mujahidnya masih sekitar 313 orang,” ujar Zulhas pada Kamis malam (29/1).

Ia melanjutkan, setelah kemenangan dalam Perang Badar dan Rasulullah SAW memegang kepemimpinan, dakwah tidak lagi hanya bersifat kultural, tetapi juga mulai dijalankan melalui pendekatan struktural.

“Sejak saat itu dakwah berkembang tidak hanya secara kultural, tetapi juga struktural. Hasilnya luar biasa, menjelang wafatnya Rasulullah, umat Islam bertambah sekitar 140 ribu orang dalam kurun waktu 10 tahun di Madinah,” jelasnya.

Menurut Zulhas, pengalaman sejarah tersebut menjadi pelajaran penting bahwa dakwah akan lebih efektif jika dijalankan secara seimbang antara pembinaan budaya masyarakat (kultural) dan peran dalam struktur kepemimpinan serta kebijakan (struktural).

Zulhas turut menyoroti peran besar Muhammadiyah dan para tokohnya dalam sejarah bangsa Indonesia, jauh sebelum masa kemerdekaan hingga pascakemerdekaan. Dalam konteks ini, Ia menyebut sejumlah tokoh Muhammadiyah yang berkontribusi besar dalam perumusan dasar negara.

“Muhammadiyah sudah berjuang jauh sebelum kemerdekaan. Tokoh-tokoh seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kahar Muzakkir, Kasman Singodimedjo, dan lainnya memiliki perjuangan yang luar biasa dalam merumuskan Pancasila,” ungkapnya.

Zulhas menambahkan bahwa perjuangan para tokoh bangsa tersebut, baik pada masa kemerdekaan, reformasi, hingga era sekarang, menjadi inspirasi penting bagi generasi penerus dalam membangun Indonesia.

Sebagai Menko Bidang Pangan, Zulhas juga memaparkan secara singkat arah kebijakan pemerintah saat ini, mulai dari upaya mewujudkan kesejahteraan pangan, pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan, hingga pembangunan sektor pendidikan dan kesehatan. Menurutnya, seluruh agenda tersebut tidak lepas dari nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa.

“Semua itu perlu kita benahi bersama-sama. Jika dirumuskan secara keseluruhan, itulah yang disebut ekonomi Pancasila yaitu sebuah konsep yang dulu dirumuskan oleh Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikusumo, dan para pendiri bangsa lainnya,” pungkas Zulhas. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan