Kamis, 5 November 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muhammadiyah Dorong Pendampingan Lansia agar Tetap Sehat, Mandiri, dan Bermartabat

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Muhammadiyah Dorong Pendampingan Lansia agar Tetap Sehat, Mandiri, dan Bermartabat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURABAYA – Meningkatnya usia harapan hidup perlu diikuti perhatian yang lebih serius terhadap kualitas hidup kelompok lanjut usia. Persoalan lansia tidak cukup ditangani melalui layanan kesehatan fisik, tetapi juga membutuhkan pendampingan mental, sosial, dan spiritual.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman dalam Pengajian Tarjih edisi spesial rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Rabu (4/11).

Agus menjelaskan, proses menua merupakan perjalanan biologis yang menyebabkan penurunan kapasitas tubuh. Kekuatan fisik, daya tahan tubuh, dan fungsi organ secara bertahap mengalami perubahan. Kondisi ini membuat kelompok lanjut usia lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Ia mengingatkan bahwa bertambahnya usia perlu diiringi kesiapan untuk menjaga kesehatan dan mempersiapkan kehidupan spiritual. Memasuki usia 60 tahun, misalnya, seseorang perlu semakin memperhatikan kondisi tubuh, kebiasaan hidup, dan kualitas ibadahnya.

Agus menyebut sejumlah penyakit yang banyak dialami kelompok lansia, seperti hipertensi, diabetes, gangguan otot dan sendi, penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, penyakit paru, demensia, dan gagal ginjal.

Karena itu, ia menekankan pentingnya mengendalikan faktor risiko sejak dini. Hipertensi dan diabetes perlu dipantau secara rutin. Pola makan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta pengelolaan emosi juga perlu mendapat perhatian.

Agus secara khusus mengingatkan bahaya hipertensi yang tidak terkendali karena dapat meningkatkan risiko stroke dan komplikasi pada organ lain. Ia juga mengajak masyarakat mengendalikan kemarahan. Menurutnya, sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara emosi negatif, termasuk kemarahan, dengan meningkatnya risiko gangguan kardiovaskular.

Dalam hal pemenuhan kebutuhan makanan, Agus mengaitkan upaya menjaga kesehatan dengan prinsip halalan thayyiban. Makanan halal berkaitan dengan ketentuan syariat, sedangkan thayyib berkaitan dengan kebaikan dan dampak makanan terhadap kondisi tubuh.

Ia mencontohkan, makanan yang secara hukum halal belum tentu sesuai dikonsumsi oleh setiap orang. Penderita diabetes perlu mengendalikan konsumsi gula, sedangkan penderita gangguan ginjal harus memperhatikan jenis dan jumlah makanan tertentu sesuai kondisi medisnya.

“Halal itu secara ilmu agama jelas. Thayyib nanti harus ilmu pengetahuan yang menjelaskan,” terangnya.

Lebih jauh, Agus menyoroti dimensi sosial dalam kehidupan lansia. Menurutnya, kebiasaan berkumpul, mengikuti pengajian, kegiatan jamaah, dan aktivitas organisasi dapat membantu menjaga fungsi kognitif serta mengurangi risiko kesepian.

Ia mengingatkan bahwa seseorang yang secara fisik terlihat sehat belum tentu memiliki kesejahteraan mental dan sosial. Lansia yang jarang berinteraksi dengan keluarga maupun lingkungan sekitar berisiko mengalami kesepian dan gangguan psikologis.

Karena itu, keluarga dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan lansia. Perhatian kepada orang tua yang telah renta harus diwujudkan melalui pelayanan dan pendampingan yang baik.

Agus juga menyinggung pengembangan program Muhammadiyah Senior Care yang digerakkan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah. Program ini menjadi salah satu ikhtiar Muhammadiyah dalam membangun pelayanan bagi kelompok lanjut usia.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan istilah senior care mencerminkan pendekatan pelayanan yang tetap berupaya mempertahankan hubungan lansia dengan lingkungan keluarganya. Muhammadiyah tidak ingin orang tua yang memasuki usia lanjut langsung tercerabut dari akar keluarga dan kehidupan sosialnya.

“Semangat kita jangan sampai orang tua itu tercerabut dari akar keluarga. Kecuali memang dia tidak punya siapa pun, maka Muhammadiyah tetap punya tanggung jawab,” jelasnya.

Selain itu, Agus mengapresiasi inisiatif sejumlah organisasi Aisyiyah yang telah mengembangkan pesantren dan sekolah lansia. Program tersebut memberikan ruang bagi para lansia untuk tetap belajar, berinteraksi, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan kehidupan spiritual.

Salah satu materi yang mendapat perhatian ialah persiapan menghadapi kematian atau psikologi kematian. Lansia diajak membangun kesiapan spiritual agar dapat menyambut akhir kehidupan dengan keimanan dan harapan memperoleh husnul khatimah.

Agus menegaskan, memuliakan orang tua merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Ia mengingatkan bahwa kesempatan merawat orang tua yang telah renta semestinya dipandang sebagai jalan untuk memperoleh kebaikan dan pahala.

Tinggalkan Balasan