MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Muhammadiyah harus mulai membangun ekosistem budaya sastra sebagai bagian dari gerakan dakwah kultural berkemajuan.
Pesan tersebut diungkapkan Hilmi Faiq, penulis sekaligus Kepala Desk Budaya Kompas dalam momentum Pengajian Bulanan #6 Lembaga Seni dan Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Kamis Malam (30/1).
Dalam paparannya mengenai “Membaca Arus Kebudayaan,” Hilmi mengajak warga Muhammadiyah untuk kembali merefleksikan posisi dan kontribusi persyarikatan dalam kancah dunia seni budaya, terkhususnya sastra, yang sampai saat ini masih tergolong minim.
Hilmi menilai, hal tersebut dilatari oleh kurangnya ekosistem sastra yang suportif di lingkup Muhammadiyah. Meski sejatinya Muhammadiyah kaya akan talenta-talenta kreatif baik seniman, sastrawan, maupun budayawan. Namun hingga kini, belum sepenuhnya tersedia ruang bagi mereka untuk merasa diakui, aman, dan berguna.
“Dengan kata lain bahwa untuk memicu lahirnya budayawan-budayawan baru, penulis sastra baru, penyair-penyair baru itu, kita butuh stimulasi perangsang-perangsang,” tuturnya.
Oleh karenanya, Hilmi menegaskan pentingnya peran strategis LSB PP Muhammadiyah dalam menciptakan ekosistem sastra di lingkungan persyarikatan. Adapun salah satu langkah krusialnya, menurut Hilmi, dengan menetapkan kebudayaan dan sastra sebagai bagian integral dari dakwah kultural persyarikatan.
“Sastra, seni, dan kebudayaan perlu diakui sebagai bagian dari dakwah dan tajdid. Bukan hanya sekadar aktivitas sampingan,” jelasnya.
Hilmi menambahkan, penting bagi Muhammadiyah untuk tetap melindungi kebebasan bertafsir dan berimajinasi di ekosistem sastra. Baik bagi para pembaca maupun sastrawan itu sendiri. Mereka sama-sama membutuhkan “ruang aman” untuk berimajinasi dan bereksplorasi.
Karena sejatinya, sastra tidak selayaknya fatwa. Sastra bekerja di wilayah perasaan sehingga tidak dapat diukur dengan standar kacamata ceramah, benar atau salah.
Lebih lanjut, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, menjelaskan upaya terakhir dalam membangun ekosistem sastra yakni regenerasi dan legitimasi.
“Untuk langkah langkah selanjutnya, mungkin mengintegrasikan sastra ke sekolah dan kampus Muhammadiyah ini,” ungkap Hilmi.
Upaya ini patut disertai dengan adanya panggung-panggung apresiasi di tingkat ranting maupun nasional. Sehingga, kader-kader muda Muhammadiyah tidak hanya terlatih secara kemampuan, bersastra. Tetapi juga terlatih secara mental, dan kepercayaan dirinya. (fiya)






