Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

LSB Muhammadiyah Dorong Sastra Tetap Bermakna di Era Digital

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
LSB Muhammadiyah Dorong Sastra Tetap Bermakna di Era Digital

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gunawan Budiyanto, menyampaikan pandangannya mengenai revolusi digital yang berdampak luas pada seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia sastra dan kebudayaan.

Menurut Gunawan, disrupsi teknologi informasi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Karena itu, sikap yang tepat bukanlah menolak atau menjauh, melainkan melakukan adaptasi secara kritis dan beretika.

“Kita tidak bisa menghindari disrupsi teknologi informasi. Yang perlu dilakukan bukan menolak ataupun menghindar, tetapi beradaptasi agar tetap humanis, memiliki kedalaman makna, serta menjaga etika,” ujar Gunawan saat memberikan pengantar Pengajian Budaya Bulanan ke-5 yang digelar LSB PP Muhammadiyah, Jumat malam (26/12).

Dalam konteks kesenian dan kebudayaan, Gunawan menegaskan bahwa LSB memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas intelektual sekaligus nilai estetik karya sastra di tengah arus digitalisasi.

Ia mengingatkan bahwa di balik kemudahan dan kecepatan media digital, terdapat risiko terjadinya erosi kedalaman karya sastra akibat dominasi algoritma, popularitas instan, serta budaya like dan subscribe.

“Di tengah realitas tersebut, LSB berperan penting untuk menjaga kualitas intelektual dan nilai estetik karya sastra agar tidak tergerus oleh arus digital,” jelasnya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Wakil Ketua LSB PP Muhammadiyah, Agus Suradika, yang sekaligus menjadi narasumber utama, menyebut bahwa era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi dunia sastra dan kebudayaan.

Menurutnya, langkah strategis yang perlu dilakukan LSB antara lain melestarikan karya sastra bermutu, membangun ekosistem sastra yang sehat, mengarsipkan serta mendigitalisasi karya sastra Muhammadiyah, dan mendorong tumbuhnya komunitas sastra digital yang berkarakter serta berkeadaban.

Dengan upaya tersebut, ia meyakini bahwa sastra dan kebudayaan tidak akan punah oleh perubahan zaman, melainkan terus bertransformasi mengikuti perkembangan medium.

“Era digital bukanlah ancaman, melainkan ruang baru bagi sastra untuk tetap hidup dan menjangkau pembaca yang lebih luas,” tegas Suradika.

Melalui diskusi mengenai sastra dan kebudayaan di tengah era digital ini, LSB PP Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk membangun adaptasi digital dalam pengembangan sastra dan budaya. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong partisipasi masyarakat untuk bersama-sama melestarikan nilai, kualitas, serta kedalaman makna sastra dan kebudayaan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan