Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Ibadah Tidak Cukup dengan Gerak Tubuh, Hati Menjadi Penentunya

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Ibadah Tidak Cukup dengan Gerak Tubuh, Hati Menjadi Penentunya

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ibadah kepada Allah SWT tidak hanya berhenti pada gerak fisik dan rutinitas lahiriah, tetapi menuntut keterlibatan hati sebagai substansi utamanya.

Pesan ini disampaikan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Muhammad Arief, dalam ceramah Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (21/12).

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa ibadah memiliki dua dimensi yang saling terkait, yakni amalan zahir dan amalan batin. Salat, puasa, zakat, sedekah, dan berbagai ritual lainnya termasuk amalan zahir yang tampak secara fisik.

Namun, semua itu tidak akan bernilai sempurna tanpa disertai amalan batin berupa keikhlasan, ketundukan, kekhusyukan, serta niat yang benar.

“Allah tidak hanya memerintahkan amalan-amalan lahir, tetapi juga memerintahkan amalan hati. Bahkan, inti dari ibadah itu justru ada pada hati,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Allah SWT tidak menilai ibadah manusia dari penampilan atau bentuk lahiriahnya, melainkan dari isi hati. Hal ini merujuk pada sabda Nabi Muhammad saw. bahwa Allah tidak melihat rupa dan jasad manusia, tetapi melihat hati dan amalannya. Karena itu, seseorang bisa saja menunaikan salat secara fisik, namun tidak memperoleh pahala yang utuh apabila hatinya lalai dan tidak hadir dalam ibadah tersebut.

Muhammad Arief mencontohkan fenomena umum ketika seseorang salat tetapi pikirannya melayang pada urusan dunia, sementara lisannya tetap membaca bacaan salat. Dalam kondisi seperti itu, ibadah hanya dilakukan oleh tubuh, bukan oleh hati. Padahal, kekhusyukan merupakan amalan batin yang menjadi penentu diterima atau tidaknya ibadah.

Ia juga mengutip hadis yang menjelaskan bahwa pahala salat seseorang bisa saja hanya dicatat seperenam, seperdelapan, atau sebagian kecil lainnya, sesuai dengan kadar kesadaran dan kekhusyukan hatinya. Bahkan Al-Qur’an memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang salat, tetapi lalai dalam salatnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya niat sebagai inti dari seluruh ibadah hati. Niat bukan sekadar formalitas, melainkan penentu nilai suatu amalan. Dengan niat, suatu perbuatan dapat dibedakan apakah termasuk ibadah atau sekadar kebiasaan, serta membedakan satu jenis ibadah dengan ibadah lainnya, seperti zakat, sedekah, hibah, atau hadiah.

“Niat juga membedakan apakah suatu amalan dilakukan ikhlas karena Allah atau justru karena dorongan selain-Nya, seperti ingin dipuji atau dihormati,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa niat sepenuhnya berada di dalam hati dan tidak bisa diketahui oleh manusia lain. Karena itu, seseorang bisa tampak saleh secara lahiriah, rajin ibadah dan aktif dalam kegiatan sosial, namun belum tentu ikhlas di sisi Allah. Bahkan, dalam hadis disebutkan bahwa orang alim atau ahli ibadah bisa menjadi golongan pertama yang diseret ke neraka apabila amalannya dilakukan demi pujian manusia.

Dalam ceramah tersebut, Muhammad Arief juga menguraikan tahapan niat dalam diri manusia, mulai dari lintasan awal dalam hati hingga tekad bulat yang disertai tindakan. Menariknya, Islam memberikan keistimewaan besar pada niat. Seseorang yang berniat melakukan kebaikan sudah mendapatkan pahala, meskipun belum sempat melaksanakannya. Sebaliknya, niat buruk yang tidak jadi dilakukan justru diganjar pahala sebagai bentuk rahmat Allah.

Karena itu, ia mendorong umat Islam untuk memperbanyak niat baik dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan praktik para salafus saleh yang membiasakan menghadirkan banyak niat sebelum beraktivitas, sehingga hampir setiap langkah hidup mereka bernilai ibadah.

Menjelang bulan Ramadan, ia juga mengingatkan bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan hawa nafsu. Jika seseorang berpuasa namun tetap melakukan perbuatan sia-sia, makruh, atau haram, maka puasa tersebut kehilangan substansinya dan hanya menyisakan rasa lapar dan haus.

“Ibadah sosial seperti sedekah dan membantu sesama pun tidak otomatis bernilai ibadah jika tidak dilandasi niat karena Allah. Yang membedakan amalan seorang mukmin dengan selainnya adalah niatnya,” tegasnya.

Di akhir ceramah, ia mengajak jamaah untuk tidak bersikap materialistis dalam beragama dengan hanya menilai ibadah dari aspek lahiriah. Menurutnya, muhasabah terhadap niat dan kondisi hati harus dilakukan secara terus-menerus dalam setiap amalan.

“Ibadah harus sah secara zahir, tetapi diterima atau tidaknya di sisi Allah ditentukan oleh hati. Jangan sampai kita beribadah, gugur kewajiban, tetapi tidak memperoleh pahala,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan