MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, mengingatkan umat Islam untuk meneladani semangat kepahlawanan dengan makna yang lebih luas dan kontekstual di zaman modern.
Pesan itu disampaikannya dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), pada Jumat (7/11).
Dalam khutbahnya, Budi membuka dengan penegasan bahwa Hari Pahlawan bukan sekadar momentum seremonial untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, melainkan kesempatan untuk merefleksikan nilai pengorbanan dan perjuangan melawan kezaliman.
“Hari Pahlawan nasional diberikan sebagai bentuk mengenang dan penghargaan kepada mereka yang telah rela berkorban jiwa raga dan harta demi membebaskan negeri ini dari kezaliman,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 154, “Janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan sebenarnya mereka hidup, namun kamu tidak menyadarinya.” Ayat ini, kata Budi, menunjukkan betapa mulianya perjuangan menegakkan kebenaran dan melawan ketidakadilan di jalan Allah.
Budi juga menyinggung hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, “Afdhalul jihadi kalimatun haqqin ‘inda sultanin jaa’ir” — seutama-utamanya jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Menurutnya, hadis ini memperluas makna jihad dan kepahlawanan.
“Menjadi pahlawan tidak harus di medan perang. Siapa pun yang berani menyuarakan kebenaran dan mengajak pada kebaikan, termasuk kepada pemimpin yang zalim, dia adalah pahlawan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa kata pahlawan dalam bahasa Sanskerta berasal dari gabungan kata pahala (buah) dan wan (memiliki). Dengan demikian, pahlawan berarti orang yang memiliki pahala, yakni mereka yang berbuat baik dan membawa perubahan dari kezaliman menuju kedamaian.
“Makna ini sejalan dengan semangat hadis Rasulullah yang menempatkan jihad lisan sebagai bentuk perjuangan tertinggi,” tambahnya.
Dalam konteks modern, Budi menegaskan bahwa medan perjuangan telah berubah. “Pahlawan hari ini adalah mereka yang berjuang melalui tindakan nyata demi kemaslahatan masyarakat, negara, dan keluarganya — tanpa menebar kezaliman,” katanya.
Ia mencontohkan bahwa guru, dosen, tenaga pendidik, serta para orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan akhlak mulia adalah pahlawan bagi generasi penerus bangsa.
“Generasi muda yang menahan diri dari maksiat, menjauhi narkoba, dan membentuk akhlakul karimah juga adalah pahlawan,” lanjutnya. Semua bentuk perjuangan yang dilandasi niat lillāhi ta‘āla dan ditujukan untuk menghapus kezaliman serta membawa kemaslahatan, menurut Budi, adalah bentuk kepahlawanan yang sejati.
Ia menutup khutbah pertamanya dengan mengutip sabda Nabi Muhammad saw., “Khairunnas anfa‘uhum lin-nas” — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. “Bukan yang menimbulkan kerusakan, kezaliman, atau kehancuran,” tegasnya.
Pada khutbah kedua, Budi mengajak jamaah untuk merenungkan: apakah sudah menjadi pahlawan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat dengan membebaskan diri dari kemaksiatan dan keburukan? Ia menegaskan, perjuangan besar selalu dimulai dari langkah kecil dan niat ikhlas.
“Marilah kita lanjutkan perjuangan para pendahulu yang memerdekakan negeri ini. Jadilah solusi bagi bangsa, bukan penyebab kehancurannya,” serunya.
Khutbah diakhiri dengan doa agar umat Islam diberi kekuatan untuk menjadi pahlawan-pahlawan masa kini—yang berjuang dengan keikhlasan, memberi manfaat, dan menebar kedamaian di tengah masyarakat.
