Rabu, 4 November 2026
ID EN AR
ID EN AR

Seberapa Besar Masjid Memberi Manfaat bagi Tetangganya?

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Seberapa Besar Masjid Memberi Manfaat bagi Tetangganya?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Masjid memiliki tanggung jawab sosial yang perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya. Kehadiran masjid semestinya membawa perubahan nyata, mulai dari membangun empati, membantu keluarga yang membutuhkan, hingga memperkuat hubungan sosial dengan warga sekitar.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (29/10).

Talqis menjelaskan, masjid yang hidup dan makmur akan melahirkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Pengurus masjid dan jamaah perlu mengenali lingkungan terdekat, termasuk mengetahui warga yang sedang sakit, mengalami kesulitan ekonomi, atau membutuhkan perhatian.

Menurutnya, hubungan masjid dengan masyarakat perlu dibangun melalui silaturahmi secara langsung. Pengurus masjid dapat mendatangi rumah-rumah warga, menyapa mereka, dan membangun komunikasi agar masyarakat merasakan manfaat keberadaan masjid.

“Masjid itu harus memiliki dampak. Jangan sampai masjid hanya menjadi bangunan yang tinggi dan besar, tetapi masyarakat di sekitarnya tidak merasakan manfaatnya,” ungkap Talqis.

Ia juga menekankan pentingnya transparansi pengelolaan dana dan program pemberdayaan. Masjid perlu menjadi ruang yang terbuka bagi masyarakat, termasuk keluarga yang sedang menghadapi kesulitan dan membutuhkan pertolongan nyata.

Talqis kemudian menghubungkan peran masjid dengan gerakan filantropi Muhammadiyah. Melalui Lazismu, misalnya, pemberian bantuan perlu diarahkan pada pemberdayaan penerima zakat agar mampu mencapai kemandirian ekonomi.

Ia mencontohkan bagaimana seorang mustahik dapat dibina hingga memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dan pada akhirnya menjadi muzaki. Dengan cara tersebut, kepedulian sosial menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Lebih jauh, Talqis mengingatkan bahwa kesalehan individual perlu berjalan bersama tanggung jawab sosial. Ia mengutip hadis tentang orang yang bangkrut atau muflis, yakni seseorang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi juga memiliki catatan kezaliman terhadap orang lain.

Kezaliman tersebut dapat berupa mencaci maki, memfitnah, mengambil harta, menipu, hingga menyakiti sesama. Akibatnya, pahala kebaikan yang dimiliki orang tersebut diberikan kepada pihak-pihak yang pernah dizaliminya.

“Betapa pentingnya kita melihat bahwa aspek sosial itu juga penting. Jangan sampai seseorang merasa ibadahnya sudah bagus, tetapi tidak peduli terhadap kehidupan orang lain,” jelasnya.

Talqis menambahkan, kepedulian sosial juga perlu diwujudkan dalam tindakan sederhana. Ia mencontohkan bantuan penyediaan air bersih bagi masyarakat Gunungkidul yang membutuhkan air untuk berwudu dan memenuhi keperluan sehari-hari.

Menurutnya, pembinaan masyarakat membutuhkan keterpaduan antara empat pilar, yaitu iman, ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial. Keempatnya harus berjalan bersama agar keberagamaan melahirkan manfaat bagi kehidupan.

Ia juga mengingatkan bahwa perhatian terhadap masyarakat luas tidak boleh membuat seseorang melupakan lingkungan terdekatnya. Gerakan kemanusiaan Muhammadiyah hingga ke Afrika, misalnya, tetap perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap masyarakat di sekitar masjid dan tempat tinggal.

Pada bagian akhir, Talqis mengajak jamaah membangun perubahan dari lingkup terkecil, yakni diri sendiri dan keluarga, kemudian berkembang ke lingkungan masyarakat dan kelembagaan. Upaya tersebut membutuhkan ilmu, keteladanan, budaya tabayun, serta kesediaan bekerja sama.

Menurutnya, masjid dan organisasi keagamaan perlu terus mengevaluasi dampak setiap kegiatan. Ukuran keberhasilan dakwah terletak pada perubahan yang dapat dirasakan masyarakat, terutama dalam tumbuhnya kepedulian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Tinggalkan Balasan