MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ruslan Fariadi, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Jumat (31/10).
Dalam khutbahnya, Ruslan mengajak jamaah untuk merenungkan keunikan bahasa Al-Qur’an yang kaya dengan metafora, serta memahami makna kehidupan dunia yang sementara sebagai ladang investasi menuju akhirat.
Ruslan membuka khutbah dengan menjelaskan bahwa salah satu keunikan Al-Qur’an adalah cara Allah SWT menyampaikan pesan-pesan-Nya melalui perumpamaan (tamsil). Metafora, kata Ruslan, menjadi sarana agar makna yang abstrak dapat terasa nyata dan lebih mudah dipahami manusia.
“Dalam Al-Qur’an kita menemukan banyak metafora yang dipilih langsung oleh Allah untuk menghadirkan makna yang lebih mendalam,” ujar Ruslan. “Metafora membuat kita tidak sekadar memahami pesan secara intelektual, tetapi juga secara emosional dan spiritual.”
Salah satu makhluk ciptaan Allah yang sering dijadikan metafora dalam Al-Qur’an, lanjutnya, adalah air. Dalam banyak ayat, air menggambarkan keindahan, kesuburan, ilmu, dan kehidupan. Namun, air juga bisa menjadi simbol azab dan kehancuran ketika manusia lalai.
Sebagai contoh, Ruslan mengutip Surah Yūnus ayat 24, yang menggambarkan kehidupan dunia dengan perumpamaan air hujan:
“Perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu dengan air itu tumbuhlah tanaman bumi yang dimakan manusia dan hewan. Hingga ketika bumi itu telah indah dan pemiliknya merasa mampu menguasainya, datanglah ketetapan Kami di malam atau siang hari, lalu Kami jadikan tanaman itu hancur seakan belum pernah ada sebelumnya. Demikianlah Kami jelaskan tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi kaum yang berpikir.”
Ruslan menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan hakikat kehidupan yang fana dan tidak dapat diprediksi. “Dalam bahasa Jawa, ayat ini bisa diringkas dengan ungkapan ‘urip iku mung mampir ngombe’—hidup ini hanyalah singgah untuk minum,” ujarnya.
Menurutnya, tidak ada jaminan bahwa yang tua akan lebih dulu meninggal atau yang sakit lebih dulu wafat. Hidup penuh ketidakpastian, maka yang paling penting adalah kesiapan menghadapi kematian dengan membawa amal saleh.
Lebih jauh, Ruslan menegaskan bahwa Surah Yūnus ayat 24 memberi pesan filosofis: dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat berinvestasi amal untuk kehidupan abadi.
“Ad-dunyā mazra‘atul-ākhirah — dunia adalah ladang bagi akhirat,” ucapnya. “Maka orang yang beriman harus menjadikan setiap aktivitasnya sebagai amal saleh untuk mencari ridha Allah.”
Ia mengutip firman Allah dalam Surah adz-Dzāriyāt ayat 56: “Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn”, yang artinya ialah “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
“Yang dimaksud ibadah di sini bukan hanya ritual,” jelasnya, “tetapi segala bentuk kebaikan (kullu ‘amalin khairin yuqṣadu bihi wajhullāh)—segala amal baik yang diniatkan untuk mencari wajah Allah.”
Dalam bagian kedua khutbah, Ruslan menjelaskan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzī tentang empat kelompok manusia dalam kehidupan dunia: “Innamad-dunyā li-arba‘ati nafarin.” “Sesungguhnya dunia ini dihuni oleh empat golongan manusia.”
Pertama, orang yang dikaruniai ilmu dan harta (‘abdin razaqahullāhu mālan wa ‘ilman).
Dengan keduanya, ia meningkatkan ketakwaan kepada Allah, mempererat silaturahmi, dan menunaikan hak-hak sosial. “Inilah strata tertinggi,” ujar Ruslan, “yakni orang yang saleh secara individual dan sosial.”
Kedua, orang yang berilmu tetapi tidak berharta (‘abdin razaqahullāhu ‘ilman walam yarzuqhu mālan). Meski hidup sederhana, niatnya lurus dan selalu berorientasi pada kebaikan. Rasulullah bersabda, “Fa ajruhumā sawā” — pahala keduanya sama di sisi Allah, karena keikhlasan niatnya menggantikan kekurangan hartanya.
Ketiga, orang yang berharta tetapi tidak berilmu (‘abdin razaqahullāhu mālan walam yarzuqhu ‘ilman). Ia hidup hedonis, memanfaatkan kekayaan tanpa panduan ilmu dan tanpa memperhatikan nilai ketakwaan. “Inilah strata sosial yang paling buruk,” kata Ruslan.
Keempat, orang yang tidak berilmu dan tidak berharta (‘abdin lam yarzuqhu Allāhu mālan walā ‘ilman). Ia hidup dalam angan-angan kosong (lau anna, lau anna, lau anna — “seandainya, seandainya, seandainya”), dan jika diberi kekayaan, ia akan menggunakannya untuk keburukan. Rasulullah menegaskan bahwa dosa kelompok ini setara dengan kelompok ketiga.
Menutup khutbah, Ruslan mengingatkan bahwa panjangnya umur bukan ukuran keberhasilan hidup, melainkan kualitas dan keberkahannya.
“Yang harus kita kejar bukan kuantitas usia, tetapi keberkahan usia,” ujarnya. Ia mengutip definisi ulama tentang berkah sebagai ziyādatul khair fī nafsil ‘abd — bertambahnya kebaikan dalam diri seorang hamba yang manfaatnya dirasakan oleh diri dan orang lain.
“Semoga Allah membimbing kita agar hidup yang singkat ini bernilai ibadah,” tutupnya, “dan menjadi kesempatan untuk berinvestasi sebanyak-banyaknya menuju kehidupan yang kekal dan abadi.”
