MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Islam Berkemajuan lahir dari semangat tajdid atau pembaharuan. Prinsipnya dibangun atas dua, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pendekatan yang rasional, kontekstual, dan terbuka pada perkembangan ilmu pengetahuan.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir saat membuka Musyawarah Cabang Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi ke – IV pada Jum’at (31/10).
Menjelang usia Muhammadiyah yang ke 113 tahun ini, Haedar mengajak untuk sejenak melihat beberapa penghargaan yang diperoleh Muhammadiyah atas misi rahmatan lil ‘alamin yang sudah dilakukan. Salah satunya sertifikasi EMT yang jadi pertama dari WHO untuk ormas keagamaan di Indonesia.
Hal ini sejalan sebagaimana amanat Muktamar di Surakarta. Seluruh gerak dakwah dan amal usahanya diarahkan pada kualitas yang disebut Unggul Berkemajuan.
“Muhammadiyah dalam usia 113 tahun ini terus melakukan usaha-usaha di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan sekarang ekonomi untuk ke level yang kami sebut sebagai kualitas atau keunggulan,” tegasnya.
Haedar juga menuturkan bahwa Allah telah memerintahkan manusia untuk menjadi khairu ummah. Umat yang tanggap akan besarnya peradaban Islam. Dalam hal ini, Haedar menjelaskan bagaimana ciri dari perspektif Islam Berkemajuan.
Pertama, dibangun atas dasar tauhid. Pemahaman tauhid bukan hanya tentang uluhiyah, rububiyah, atau pun mulkiyah. Tapi alam makna yang luas yang juga punya relasi, hablumminallah dan hablumminannas.
Kedua, ar ruju’ ila al-quran wa as-sunnah. Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak cukup hanya dalam skala verbal dan konsep puritan atau literal.
“Al-Quran itu harus bayyani dan irfani,” imbuh Haedar.
Ketiga, cirinya membutuhkan ijtihad dan tajdid.
“Ijtihad selalu diperlukan dan tidak pernah tertutup, tapi dipergunakan untuk selalu memperbaharui pemahaman keagamaan,” jelasnya.
Keempat, pengembangan wasathiyah Islam. Kuat dalam pendirian pada prinsip-prinsip Islam tapi toleran dalam menjalankan ajaran Islam.
“Dan yang terakhir ini cirinya mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dan bagi Muhammadiyah rahmatan lil’alamin itu dengan aktualisasi iman, taqwa, dan tauhid yang tidak hanya dalam bentuk kesalehan, tapi juga dalam amaliyah yang nyata yang membawa perubahan,” imbuhnya.
Haedar menegaskan, rahmatan lil ‘alamin tidak cukup hanya dengan bicara.
“Kalau hanya bicara seperti ahli demagogi dan ahli pidato itu tidak cukup. Muhammadiyah punya pandangan harus dengan amal usaha,” tegas Haedar. (janu)
