Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Pentingnya Bersatu dengan Berpegang pada Tali Allah

Oleh admin • • 2 Menit Min
Pentingnya Bersatu dengan Berpegang pada Tali Allah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam khotbahnya di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad (26/10), Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Yunus Hanafiah, menyerukan pentingnya persatuan umat Islam dengan berpegang teguh pada tali Allah.

Mengutip Surah Ali Imran ayat 103, beliau menegaskan bahwa persatuan adalah kewajiban bagi umat Islam untuk menghindari perpecahan yang dapat melemahkan.

Dalam khotbahnya, Yunus menjelaskan bahwa tali Allah, sebagaimana diuraikan dalam tafsir Ma’alimut Tanzil karya Imam Al-Baghawi, dapat dimaknai sebagai Al-Qur’an, keimanan, atau agama Islam. Ketiganya menunjukkan bahwa umat Islam harus memiliki pegangan yang sama untuk mencapai kekuatan dan kekompakan.

“Seperti lomba tarik tambang, kunci kemenangan adalah memegang tali yang sama dan menarik secara serentak. Jika masing-masing membawa tali sendiri, tidak akan pernah menang,” ujarnya dengan analogi sederhana.

Beliau menekankan bahwa perintah berpegang pada tali Allah bersifat wajib (lil wujub). Mengabaikan perintah ini dapat mendatangkan dosa.

Selain itu, Allah juga memperingatkan umat Islam melalui ayat “wala tafarraqu” agar tidak tercerai-berai seperti umat terdahulu, seperti Yahudi dan Nasrani, yang meskipun tampak kompak di permukaan, sebenarnya terpecah belah.

Yunus juga mengisahkan konflik bersejarah antara suku Aus dan Khazraj di Jazirah Arab, yang bermusuhan selama lebih dari 220 tahun hanya karena rebutan lahan penggembalaan. “Masalah sepele bisa memicu permusuhan panjang jika tidak dikelola dengan baik. Namun, Allah mempersatukan hati mereka melalui Islam, menjadikan mereka bersaudara,” paparnya.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa persatuan dapat mengubah permusuhan menjadi kekuatan.

Namun, Yunus menyayangkan bahwa persatuan umat Islam saat ini masih lemah, baik dalam isu global seperti pembelaan terhadap Palestina maupun isu lokal seperti polarisasi pasca-Pemilu 2024.

“Bahkan perbedaan pendapat sederhana, seperti bacaan basmalah dalam salat, bisa memicu perdebatan karena minimnya ilmu agama,” ungkapnya.

Ia menyoroti tiga penyebab utama perpecahan: fanatisme golongan (ashabiyah), ketidaktahuan terhadap ajaran Islam, serta sifat iri, dengki, dan orientasi berlebihan pada kepentingan duniawi.

Untuk mengatasi perpecahan, Yunus menawarkan sejumlah solusi, di antaranya:

Pertama, umat Islam harus saling menghormati perbedaan pendapat dan status sosial.

Kedua, menjauhi sifat iri, dengki, dan fitnah.

Ketiga, meningkatkan keimanan melalui ketaatan pada ibadah wajib dan sunnah.

Terakhir, menjadikan Al-Qur’an, keimanan, dan ajaran Islam sebagai pedoman hidup, bukan sekadar status sosial.

“Jangan sampai Al-Qur’an hanya jadi pajangan di rak. Bacalah, dalami maknanya, dan amalkan dengan benar,” tegasnya.

Mengutip Surah Al-Maidah ayat 2, Yunus mengajak umat untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan keburukan seperti korupsi berjamaah. Ia menegaskan bahwa persatuan akan mendatangkan rahmat Allah, sementara perpecahan hanya membawa kehancuran. “

Jika kita kompak, kemajuan dan kejayaan bukan hal sulit untuk diraih,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan