Rabu, 30 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Soal Pembabatan Hutan, Abdul Mu’ti: Apapun Motifnya, Deforestasi Itu Merusak Alam

Oleh afandi • • 2 Menit Min

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya Bakar mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa pembangunan besar-besaran di era Presiden RI Joko Widodo tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon ataupun kegiatan deforestasi.

Lewat akun Twitter yang dimilikinya pada Rabu (3/11), Siti menyebut bahwa menghentikan pembangunan atas nama zero deforestation sama dengan melawan mandat UUD 1945 terkait sasaran nasional untuk kesejahteraan rakyat secara sosial dan ekonomi.

Sontak, pernyataan itu dianggap bertentangan dengan komitmen internasional terhadap berbagai agenda lingkungan hidup serta upaya melawan perubahan iklim dan pemanasan global.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa deforestasi atas motif apapun telah merusak alam dan menghilangkan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya.

“Sudah sejak lama Indonesia menjadi sorotan dunia. Isu deforestasi di Indonesia dianggap merusak alam, kekayaan nabati, dan keanekaragaman hewani,” kata Abdul Mu’ti, Kamis (4/11).

Dalam isu ini, Mu’ti mengakui Indonesia memiliki posisi sulit untuk bersikap. Pasalnya, Indonesia masih memerlukan devisa dari pelbagai hasil hutan sehingga banyak hutan yang diubah menjadi perkebunan dan hutan tanaman industri.

“Memang ada masalah. Terutama penambangan yang tidak atau kurang memperhatikan keseimbangan alam,” ungkapnya.

Soal perkembangan deforestasi, Abdul Mu’ti menganggap bahwa kerusakan hutan di Indonesia saat ini sudah masuk dalam tahap mengkhawatirkan. Karena itu, dirinya berharap ada langkah percepatan reboisasi secara masif untuk mengembalikan keadaan hutan seperti semua.

“Ini sudah lampu kuning,” ujarnya.

Selain masalah deforestasi, Mu’ti juga berharap agar ke depan tata kelola pemukiman masyarakat memperhatikan ketersediaan ruang terbuka hijau. Pola hidup masyarakat, juga diharapkan berubah untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

“Gaya hidup yang boros energi berkontribusi terhadap tingginya polusi. Solusinya harus komprehensif,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan