Minggu, 20 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Bagaimana Kajian Sarjana Barat Terhadap Islam di Indonesia?

Oleh ilham 3 Menit Min
Bagaimana Kajian Sarjana Barat Terhadap Islam di Indonesia?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Sarjana Barat pada masa kolonial memiliki hasrat yang menggebu untuk mengkaji Islam di Indonesia. Minat Barat terhadap dunia Islam di Indonesia tidak hanya dimotivasikan oleh alasan-alasan eksotisme, tapi juga karena kepentingan agama, ekonomi dan politik. Mukti Ali, mantan Menteri Agama, menyebut setidaknya ada tiga motivasi kajian sarjana Barat terhadap Islam di Indonesia: sebagai penasehat kolonial, memiliki tujuan misionaris, dan murni kegiatan akademik.

“Tapi terkadang tiga kategori dari Pak Mukti Ali ini overlap. Tokoh paling ikonik sarjana Barat yang mengkaji Islam di Indonesia tentu Christian Snouck Hurgronje dan institusi berpengaruh adalah kampus-kampus Belanda, terutama leiden,” terang Ayub pada Selasa (17/08).

Pada perkembangan selanjutnya, kajian Islam di Indonesia masuk dalam bagian dari studi kawasan. Ayub menerangkan bahwa fokus kajian ini banyak dipengaruhi oleh dinamika politik dalam negeri. Karenanya, Islam di Indonesia banyak dikaji oleh sarjana Barat dalam kaitannya dengan dinamika politik tanah air. Ada pula sarjana Barat yang mengkaji secara khusus tokoh-tokoh penting.

Selain tokoh, beberapa sarjana Barat juga fokus meneliti ormas-ormas Islam untuk melihat peran Islam dalam struktur sosio-politik di Indonesia. Menurut Ayub, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan PERSIS menjadi fokus kajian utama karena terbilang paling lama membidani umat Islam di tanah air. Tapi saat ini ada pula yang mulai membahas ormas lain.

“Mereka, para sarjana Barat itu, ingin melihat Islam di Indonesia itu apa saja yang mereka kerjakan, apa pengaruhnya untuk masyarakat Indonesia secara umum, bagaimana corak-corak Islam di Nusantara. Biasanya untuk memudahkan dalam penelitian, mereka mengkaji ormas-ormas,” terang alumni SOAS University of London ini.

Ayub kemudian menambahkan bahwa banyak pula sarjana Barat yang mencoba menelisik faktor Islam dalam perkembangan sejarah Indonesia. Kadang dengan review umum, studi tokoh, maupun penelusuran ‘sejarah kecil’ atau kesaksian-kesaksian yang bukan berasal dari tokoh-tokoh elit. Misalnya buku Islamisation and Its Opponents in Java karya M.C. Ricklefs, The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855 karya Peter Carey, dan lain-lain.

Selain itu, tema relasi Islam dengan negara dan warga non-Islam juga menjadi kajian menarik bagi sarjana Barat. Menurut Ayub, salah satu sarajan yang menciptakan konsep baru untuk menganalisis fenomena ini di Indonesia adalah Jeremy Menchik yang menulis buku Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance without Liberalism. Di mana, Jeremy Menchik mencetuskan terma ‘godly nationalism’ dan ‘communal tolerance’ untuk menggambarkan konsep dan praktek sosio-politik tiga ormas Islam besar di Indonesia yang plural.

“Maksudnya, ormas-ormas Islam itu menerima Indonesia sebagai sebuah negara dan mereka memiliki semangat nasionalisme. Cuman nasionalismenya bukan nasionalisme yang sekuler atau liberal, maka dia adalah godly nationalism,” kata Ayub.

Ayub menerangkan, ada pula sarjana Barat yang fokus pada peran Islam dalam pendidikan di Indonesia. Misalnya, Lukens-Bull dan Robert Hefner menulis tentang pendidikan dan Islam dalam konteks Indonesia modern. Luknes-Bull, misalnya, menulis buku Islamic Higher Education in Indonesia: Continuity and Conflict yang dengan baik mengeksplorasi UIN/IAIN dan kaitannya dengan dinamika internal Islam Indonesia secara umum.

Kajian filologis terhadap karya-karya umat Islam di Indonesia pun menjadi salah satu fokus yang digeluti sarjana Barat. Ada yang mengeksplorasi manuskrip-manuskrip nusantara yang dibawa di masa kolonial, dan ada pula yang datang dan mencari koleksi manuskrip di pusat-pusat dokumentasi lokal. Misalnya buku karya Nancy K. Florida dengan judul Javanese Literature in Surakarta Manuscripts.

Ayub menerangkan bahwa beragamnya fokus kajian sarjana Barat terhadap Islam di Indonesia, maka langkah ke depan adalah bekerjasama menemukan fakta dan membangun tesis. Pasalnya, riset sarjana-sarjana Indonesia mengalami perkembangan dan semakin mapan yang tidak kalah hebat dengan peneliti asing.

“Bahkan secara independen banyak sarjana dari Indonesia yang merintis inisiaitif riset sendiri dan membentuk tesis tentang Islam di Indonesia. Misalnya, riset kolobarasi antara Nancy K Florida dengan Irfan Afifi dari langgar.co yang menulis buku Jawa-Islam di Masa Kolonial,” terang Ayub.

Tinggalkan Balasan