Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Halaqah Risalah Akidah Islam Muhammadiyah Rumuskan Dasar Rasional tentang Keberadaan Allah

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Halaqah Risalah Akidah Islam Muhammadiyah Rumuskan Dasar Rasional tentang Keberadaan Allah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menegaskan bahwa keyakinan terhadap keberadaan Allah dalam Islam memiliki fondasi filosofis, rasional, dan ilmiah yang kokoh.

Pandangan tersebut disampaikan dalam Halaqah Risalah Akidah Islam Muhammadiyah di Yogyakarta, Rabu (29/07), sebagai bagian dari penyusunan Risalah Akidah Islam Muhammadiyah.

Ustadi menjelaskan bahwa tradisi intelektual Islam sejak masa klasik telah mengembangkan berbagai argumentasi rasional untuk meneguhkan eksistensi Allah. Para filsuf Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, hingga Ibnu Rusyd membangun tradisi filsafat ketuhanan dengan mengembangkan gagasan Aristoteles mengenai sebab pertama (causa prima) menjadi konsep-konsep khas dalam filsafat Islam, seperti al-‘illat al-ūlā, al-Bāri’, dan wājib al-wujūd.

Menurutnya, warisan intelektual tersebut menunjukkan bahwa pembahasan tentang ketuhanan dalam Islam tidak pernah berhenti pada aspek keimanan semata, melainkan juga berkembang melalui dialog antara wahyu, akal, dan pengalaman manusia.

Lima Argumentasi Keberadaan Tuhan

Ustadi menguraikan lima argumentasi utama yang selama ini digunakan dalam filsafat untuk membuktikan keberadaan Allah, yaitu argumen ontologis, kosmologis, teleologis, moral, dan pengalaman keagamaan.

Argumen ontologis menjelaskan bahwa keberadaan Allah merupakan sebuah keniscayaan. Dalam perspektif ini, Allah dipahami sebagai wujud yang harus ada (wājib al-wujūd), yang tidak bergantung kepada sebab apa pun. Gagasan tersebut dikembangkan secara mendalam oleh Ibnu Sina dan kemudian diperkaya oleh Mulla Sadra serta Muhammad Iqbal.

Konsep tersebut, menurut Ustadi, sejalan dengan penegasan Al-Qur’an mengenai Allah sebagai Zat Yang Maha Awal dan Maha Akhir serta tidak bergantung kepada apa pun. Karena itu, keberadaan Allah dipahami sebagai keberadaan yang hakiki, sedangkan seluruh makhluk merupakan keberadaan yang bersifat nisbi.

Sementara itu, argumen kosmologis berangkat dari kenyataan adanya alam semesta yang terus bergerak dan mengalami perubahan. Menurut Ustadi, seluruh dinamika alam menunjukkan adanya “penggerak pertama” yang tidak digerakkan oleh apa pun. Dalam pandangan Islam, penggerak pertama tersebut adalah Allah sebagai Pencipta dan Pengatur seluruh alam semesta.

Ia menjelaskan bahwa konsep ini juga melandasi pemahaman tentang hudūṡ al-‘ālam atau kebaruan alam, yaitu bahwa alam memiliki permulaan sehingga memerlukan Zat yang mendahuluinya. Dengan demikian, alam bersifat baru, sedangkan Allah bersifat qadim dan menjadi sumber seluruh eksistensi.

Adapun argumen teleologis menitikberatkan pada keteraturan dan tujuan yang tampak dalam seluruh ciptaan. Peredaran matahari dan bulan, keseimbangan langit, hingga keberadaan makhluk hidup menunjukkan bahwa alam tidak berlangsung secara acak, melainkan mengikuti hukum dan tujuan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Ustadi menegaskan bahwa Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia merenungkan keteraturan tersebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Fenomena alam bukan sekadar fakta ilmiah, melainkan juga menjadi ayat-ayat kauniyah yang mengarahkan manusia kepada pengakuan terhadap Sang Pencipta.

Sementara itu, argumen moral merujuk pada pemikiran Immanuel Kant yang menempatkan hati nurani sebagai dasar pengenalan terhadap Tuhan. Manusia secara fitri memiliki kesadaran untuk membedakan yang baik dan yang buruk, sekalipun konsekuensi sosial dari pilihan moral tidak selalu menguntungkan.

Menurut Ustadi, Islam menjelaskan fenomena tersebut melalui konsep fitrah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Hati nurani dan kecenderungan kepada kebaikan menjadi bukti bahwa manusia diciptakan dengan orientasi moral yang berasal dari Allah, bukan semata-mata hasil konstruksi budaya atau norma sosial.

Argumentasi terakhir adalah pengalaman keagamaan. Ustadi menjelaskan bahwa manusia dapat merasakan kehadiran Allah melalui pengalaman batin yang bersifat personal. Walaupun pengalaman tersebut tampak subjektif, filsuf Richard Swinburne menjelaskan bahwa pengalaman religius memiliki dasar rasional melalui prinsip kredulitas dan kesaksian.

Ia menambahkan bahwa pengalaman spiritual tidak hanya dialami individu tertentu, tetapi juga dirasakan oleh jutaan manusia sepanjang sejarah. Karena itu, pengalaman religius menjadi salah satu bukti yang memperkuat keyakinan akan keberadaan Allah.

Ustadi tersebut juga menyoroti perkembangan studi agama modern yang menjelaskan berbagai bentuk konsep ketuhanan dalam sejarah manusia, seperti teori High God dari Andrew Lang dan konsep Urmonotheismus Wilhelm Schmidt. Menurut Ustadi, meskipun bentuk ekspresi keagamaan manusia beragam, terdapat kecenderungan universal untuk mengakui adanya Tuhan Yang Maha Tinggi.

Ia bahkan mengutip sejumlah penelitian kontemporer, termasuk gagasan Vilayanur Ramachandran mengenai God Module dalam sistem saraf manusia, serta pembuktian logis Kurt Gödel mengenai keniscayaan keberadaan Tuhan. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa pencarian manusia terhadap Tuhan memiliki dimensi filosofis, psikologis, hingga saintifik.

Pandangan Muhammadiyah

Dalam perspektif Muhammadiyah, keberadaan Allah dipahami melalui tiga konsep utama, yaitu Rabb, Ilah, dan Malik. Rabb menegaskan Allah sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam semesta. Ilah menunjukkan Allah sebagai satu-satunya Zat yang berhak disembah dan ditaati. Adapun Malik menegaskan Allah sebagai Pemilik dan Penguasa mutlak yang menjadi sumber hukum serta tempat manusia mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.

Lebih jauh, Ustadi menegaskan bahwa ketiga konsep tersebut harus dipahami dalam bingkai tauhid rahamutiyah, yaitu keyakinan bahwa seluruh sifat dan tindakan Allah berlandaskan kasih sayang. Prinsip ini, yang dikembangkan dalam pemikiran Hamim Ilyas, menempatkan rahmah sebagai inti dari seluruh konsep ketuhanan dalam Islam.

Menurutnya, Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa Allah menetapkan kasih sayang atas diri-Nya sendiri dan rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Karena itu, memahami Allah sebagai Rabb, Ilah, dan Malik tidak boleh dilepaskan dari sifat-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ustadi menegaskan bahwa pembahasan mengenai keberadaan Allah tidak berhenti pada aspek teoritis. Keyakinan tersebut harus diwujudkan dalam perilaku manusia sehari-hari melalui tanggung jawab moral, kebebasan memilih kebaikan, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya di hadapan Allah.

Tinggalkan Balasan