Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Etos Kerja Berkemajuan Berawal dari Al-Qur’an dan Keteladanan Rasulullah

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Etos Kerja Berkemajuan Berawal dari Al-Qur’an dan Keteladanan Rasulullah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Wakil Bendahara Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Arif Rifan, mengajak seluruh karyawan PP Muhammadiyah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam bekerja dan menjalani kehidupan. Menurutnya, orang yang bertakwa akan selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk.

“Persyarikatan kita menyandarkan nama kepada Nabi Muhammad saw., maka sudah sepatutnya kita sebagai pengikutnya mengikuti ajaran-ajaran beliau,” ujar Arif dalam Pengajian Bulanan Karyawan bertajuk Etos Kerja Kreatif ala Rasulullah di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Rabu (5/8).

Arif menjelaskan empat prinsip utama yang menjadi fondasi dakwah Rasulullah sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 129 dan 151, Surah Ali Imran ayat 164, serta Surah Al-Jumuah ayat 2.

Ia menerangkan bahwa ayat-ayat tersebut berawal dari doa Nabi Ibrahim setelah mendirikan Ka’bah agar Allah mengutus seorang rasul yang memiliki empat tugas utama, yakni membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan Al-Kitab, mengajarkan hikmah, serta menyucikan jiwa umat.

“Selain itu, pada ayat-ayat lainnya dijelaskan bahwa Rasul juga mengajarkan hal-hal yang sebelumnya belum diketahui manusia sehingga menjadi petunjuk agar mereka tidak tersesat,” jelasnya.

Menurut Arif, tugas-tugas kenabian tersebut menunjukkan bahwa kompetensi harus dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Amanah, katanya, tidak dapat dipisahkan dari kapasitas dan pemahaman yang memadai.

“Dengan demikian, kompetensi tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan. Untuk menjadi pribadi yang amanah, seseorang harus memiliki dasar ilmu yang kuat,” ujarnya.

Ia menegaskan, keempat prinsip tersebut perlu dipegang teguh dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan kerja. Dengan menjalankannya, seseorang akan memperoleh rahmat dan keberkahan dari Allah.

Lebih lanjut, Arif menyoroti pentingnya meluruskan motif dalam bekerja. Menurutnya, Al-Qur’an telah memberikan penjelasan yang jelas mengenai tujuan hidup manusia melalui Surah Az-Zariyat ayat 56 dan Surah Al-Mulk ayat 2.

“Dua ayat tersebut menjelaskan bahwa tujuan kita dihidupkan hingga menemui ajal adalah untuk beribadah kepada Allah. Inilah yang harus selalu kita ingat,” ungkapnya.

Selain untuk beribadah, manusia juga diciptakan untuk diuji. Arif mengutip kata balā’ (بلاء) sebagai penegasan bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi berbagai ujian sepanjang hidupnya.

“Karena itu, kesadaran bahwa hidup adalah ujian harus benar-benar terinternalisasi dalam diri kita. Tidak boleh ada rasa gentar ataupun takut dalam menghadapi kehidupan,” tuturnya.

Ia menambahkan, seluruh aspek kehidupan, termasuk pekerjaan dan amanah yang dijalankan, perlu dipandang sebagai bagian dari ujian Allah. Dengan kesadaran tersebut, hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin akan terbangun di atas nilai-nilai kebaikan.

“Dengan begitu, yang menjadi pimpinan akan berlaku baik, dan yang dipimpin pun akan selalu memilih jalan yang baik,” katanya.

Sebagai penutup, Arif menekankan bahwa bekal utama dalam menghadapi setiap ujian adalah kesabaran. Ia menjelaskan bahwa sabar tidak hanya berarti bertahan menghadapi kesulitan, tetapi juga mencakup kesabaran dalam menjalankan ketaatan serta kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan.

“Hal-hal inilah yang perlu menjadi pondasi kita, sehingga kita semua dapat menjadi bagian dari umat terbaik sebagaimana diajarkan Rasulullah,” pungkasnya. (syafa)

Tinggalkan Balasan